23 October 2018

Asal Nyeplos dan Bicara Tak Terkendali, Ciri-Ciri Sindrom Tourette

Asal Nyeplos dan Bicara Tak Terkendali, Ciri-Ciri Sindrom Tourette

Halodoc, Jakarta – Sindrom tourette adalah gangguan neurologis yang paling sering dimulai antara usia 2 dan 21 tahun yang berlangsung sepanjang hidup. Asal nyeplos dan bicara tak terkendali adalah ciri-ciri dari sindrom tourette.

Kondisi ini dialami sebagai penumpukan ketegangan tak tertahankan dan akhirnya asal nyeplos dilakukan sebagai bentuk realisasi. Gejala ini sering disalahartikan sebagai tanda kelainan perilaku atau kebiasaan gugup biasa, padahal sebenarnya ini adalah sindrom tourette.

Gejala lebih spesifik dari sindrom tourette dikelompokkan atas dua jenis, yaitu sederhana dan kompleks.

Sederhana

Ciri secara motorik: mata berkedip, kepala menyentak, bahu mengangkat, wajah meringis, dan hidung berkedut.

Ciri secara vokal: mengeluarkan suara kering dari tenggorokan, memekik, mendengus, menelan ludah berulang-kali, dan lidah berdecak.

Kompleks

Ciri secara motorik: melompat, menyentuh orang dan benda di dekatnya, berputar-putar, melakukan gerakan tubuh yang berulang, menarik pakaian, dan tindakan yang merugikan diri sendiri termasuk memukul atau menggigit.

Ciri secara vokal: mengucapkan kata atau frasa tak beraturan, bahkan cenderung tidak senonoh (coprolalia) dan mengulangi suara, kata atau frasa yang baru saja didengar (echoalia), serta mengulangi kata-kata yang sama berulang (palilalia).

Sindrom tourette umumnya akan diiringi beberapa perilaku lain, seperti:

  1. Obsessive Compulsive Disorder (OCD)

Seseorang yang mengidap OCD merasa harus melakukan sesuatu berulang kali. Misalnya, memeriksa apakah kompor masih menyala atau tidak, pintu sudah dikunci atau belum, serta pengulangan-pengulangan lainnya. Untuk anak-anak yang mengalami OCD akan mengulangi kalimat yang sama berulang-ulang.

  1. Attention Deficit/ Hyperactivity Disorder (ADD / ADHD)

Seseorang yang mengidap ADD / ADHD umumnya Sulit berkonsentrasi, mudah terganggu, gagal menyelesaikan tugas, bertindak berdasarkan dorongan hati, dan gelisah saat mendengarkan orang berbicara. Selain itu, bergeser terus-menerus dari satu aktivitas ke aktivitas lain, membutuhkan banyak pengawasan, tidak dapat duduk diam, senang berteriak dan kurang bisa mengendalikan diri.

  1. Gangguan Spektrum Autisme

  2. Gangguan Tidur

  3. Depresi

  4. Gangguan Kecemasan

  5. Nyeri di Kepala

  6. Memiliki Masalah dalam Mengontrol Emosi

Penyebab

Penyebab pasti sindrom tourette tidak diketahui secara jelas. Sejauh ini kombinasi faktor warisan (genetik) dan lingkungan adalah pemicunya. Bahan kimia di otak yang mengirimkan impuls saraf (neurotransmiter), termasuk dopamin dan serotonin memungkinkan menjadi pemicunya.

Memiliki riwayat keluarga yang mengidap sindrom tourette ataupun gangguan psikologis lainnya dapat meningkatkan risiko pengembangan sindrom tourette. Kemudian, jenis kelamin juga memainkan peran di mana pria memiliki risiko 3—4 kali lebih banyak mengidap sindrom ini ketimbang wanita.

Pengetahuan yang masih minim mengenai sindrom tourette ini membuat pengidap terlambat didiagnosis. Karena itu,ketika kondisi sudah kompleks barulah keluarga membawa pengidap ke rumah sakit. Situasi ini kerap terjadi pada anak-anak. Misalnya, orangtua mungkin berpikir bahwa mata berkedip berkaitan dengan masalah penglihatan atau bahwa mengendus terkait dengan alergi musiman.

Melakukan pemeriksaan sedini mungkin ketika orangtua sudah membaca gejala sederhana adalah langkah perawatan terbaik. Konsumsi obat yang disarankan oleh dokter untuk meredakan gejala gangguan perilaku secara konsisten sangat diperlukan. Demikian juga perawatan perilaku, seperti pelatihan kesadaran dan respons akan sangat membantu pengurangan sindrom tourette.

Kalau ingin mengetahui lebih banyak mengenai sindrom tourette serta bagaimana penanganannya, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Hubungi Dokter, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Baca juga: