08 June 2018

Bagaimana Mendampingi Anak yang Mengalami Trauma atau Depresi

Bagaimana Mendampingi Anak yang Mengalami Trauma atau Depresi

Halodoc, Jakarta – Kejadian yang tidak menyenangkan bahkan tragis bisa membuat siapa saja yang mengalaminya memiliki trauma yang mendalam, tidak terkecuali pada anak-anak. Dilansir dari laman The Independent, sebuah penelitian menunjukkan bahwa trauma yang dialami anak yang disebabkan oleh berbagai macam hal, mulai dari kekerasan seksual, perceraian orangtua, hingga perilaku buruk orangtua bisa meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke dan diabetes di usia lanjut.

Tidak hanya menyebabkan gangguan kesehatan fisik saja, trauma juga bisa mengganggu kesehatan mental anak dan menyebabkan depresi. Itulah mengapa belakangan ini peristiwa anak bunuh diri karena mengalami depresi semakin sering terjadi.

Karena itu, peran orangtua sangat dibutuhkan untuk mendampingi anak yang mengalami trauma atau depresi, agar kondisi mental anak bisa berangsur-angsur pulih, dan anak pun bisa menjalani hari-harinya dengan ceria.

(Baca juga: Orang Tua Cerai Gara-gara Pelakor, Ini 3 Dampaknya Pada Anak)

Anak yang mengalami trauma atau depresi cenderung akan menunjukkan beberapa perubahan perilaku. Oleh karena itu, orangtua disarankan untuk lebih peka melihat perubahan sikap anak. Ciri-ciri anak yang mengalami trauma antara lain:

  • Sering Terlihat Murung

Salah satu perubahan yang cukup terlihat dari anak yang mengalami trauma adalah suasana hatinya yang berubah drastis. Ia lebih sering terlihat murung untuk waktu yang lama. Bahkan ia kehilangan minat pada aktivitas yang dulu ia senangi. Bila kamu melihat Si Kecil bersikap seperti ini, dekatilah ia dan tanyakan dengan penuh kasih sayang tentang penyebab kemurungannya.

  • Tidak Mau Makan dan Sulit Tidur

Perubahan sikap anak lainnya yang perlu kamu waspadai adalah bila anak jadi sering tidak mau makan dan sulit tidur di malam hari. Kedua hal itu mungkin disebabkan karena ada hal yang mengganggu pikirannya, sehingga Si Kecil jadi tidak berminat melakukan aktivitas apapun, bahkan untuk makan sekalipun.

  • Menarik Diri dari Pergaulan

Anak sering menyendiri dan malas bergaul dengan teman-teman sekolahnya juga bisa menjadi pertanda ada sesuatu yang tidak beres dalam diri anak. Biasanya guru di sekolah lah yang lebih dulu menyadari hal ini. Jadi, kamu juga bisa sering berkomunikasi dengan guru di sekolah untuk mengetahui perkembangan anak.  

  • Mudah Marah

Depresi dan tekanan yang dirasakan anak biasanya lama kelamaan akan mengganggu kondisi mentalnya, sehingga ia bisa saja marah-marah tanpa alasan yang jelas.

(Baca juga: Ketahui Fakta Mengenai Depresi Pada Anak)

Lalu apa yang harus kamu lakukan bila mendapati anak menunjukkan tanda-tanda depresi seperti di atas? Pertama-tama, cari tahu dulu apa yang menyebabkan anak mengalami trauma atau depresi. Kamu dapat mendampingi dan menghibur anak dengan cara-cara berikut, agar kondisi trauma tidak berkelanjutan:

1. Usahakan Tetap Bersikap Tenang

Ketika mengetahui anak mengalami trauma karena ada peristiwa buruk yang menimpanya, jangan langsung panik dan menunjukkan rasa cemas secara berlebihan di depan anak. Karena reaksi seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah dan malah semakin membuat anak sedih. Jadi, cobalah untuk tetap tenang dan tegar, serta yakinkan anak bahwa kamu akan selalu ada untuk menjaga dan mendampinginya.

2. Luangkan Waktu Lebih Banyak untuk Anak

Meluangkan waktu untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan anak diketahui lebih ampuh untuk melindungi dan mengobati trauma pada anak. Membawa anak ke psikiater memang merupakan cara yang tetap perlu diambil. Namun, bukan berarti kamu bisa menyerahkan semua pengobatan ke psikiater. Orangtua juga perlu ikut membantu dalam pengobatan psikis anak. Jadi, luangkanlah waktu lebih banyak untuk anak, dan lakukan berbagai macam kegiatan yang bisa menghibur hatinya seperti pergi ke taman hiburan, nonton film, dan lain-lain.

3. Pastikan Anak Menjalani Rutinitasnya Seperti Biasa

Memang tidak mudah bagi anak yang merasa ketakutan, trauma dan depresi untuk bangkit dan menjalani hari-harinya seperti dulu. Namun, sebagai orangtua, kamu sebaiknya tidak membiarkan anak merasa sedih atau ketakutan terlalu lama. Coba semangati anak dengan memberikan kata-kata motivasi dan dorong ia untuk tetap melakukan aktivitasnya seperti biasa. Dengan membuatnya sibuk dalam berbagai macam aktivitas, diharapkan Si Kecil dapat melupakan sejenak traumanya.

4. Buat Suasana Rumah Menjadi Ceria

Jangan jadikan rumah sebagai tempat untuk anak meratapi kesedihannya. Tapi, buatlah suasana rumah secerah dan seceria mungkin agar semangat anak pun bisa bangkit. Misalnya, kamu bisa mengajak anak untuk mendekorasi kamar dengan berbagai pernak-pernik yang menarik. Mengubah nuansa kamar menjadi berwarna dan ceria juga bisa memengaruhi suasana hati anak, sehingga ia tidak akan merasa murung ketika sedang sendirian di dalam kamar.

(Baca juga: Trik Manfaatkan Weekend untuk Me Time Bersama Si Kecil)

Segera bicarakan kepada dokter bila kondisi psikis anak semakin memburuk sehingga sampai mengganggu kesehatan tubuhnya. Kamu bisa menghubungi dokter yang ada di aplikasi Halodoc dan minta saran kesehatan melalui Video/Voice Call dan Chat. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.