• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mi Instan Direbus dengan Bungkusnya, Ini Bahayanya

Mi Instan Direbus dengan Bungkusnya, Ini Bahayanya

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Akhir-akhir ini, heboh diperbincangkan di dunia maya pedagang bakso yang memasak mi instan dengan bungkusnya secara bersamaan. Tak usah dipertanyakan lagi, yang ia lakukan sangat berbahaya bagi kesehatan konsumennya. Pasalnya, plastik mengandung zat-zat berbahaya di dalamnya. Salah satunya adalah ftalat, yaitu bahan berbahaya yang disinyalir terdapat kandungan pemicu kanker di dalamnya.

Tidak menutup kemungkinan masih banyak pedagang melakukan hal yang sama karena alasan “enggak mau ribet”. Bukan hanya itu, edukasi yang kurang tentang bahaya yang dapat terjadi juga menjadi alasan. Untuk mengurangi pedagang yang suka seenaknya, diperlukan edukasi yang tepat sasaran. Edukasi sendiri dapat dilakukan dengan memberikan petunjuk tentang tata cara pengolahan makanan yang tepat. 

Baca juga: Mitos atau Fakta, 3 Bahan Kimia Ini Bisa Percepat Pubertas

Begini Proses Ftalat Masuk ke Dalam Tubuh

Dalam plastik mi instan terdapat ftalat yang akan sangat berbahaya jika direbus secara bersamaan. Kandungan tersebut dinilai dapat memicu kanker di kemudian hari. Bukan hanya itu, tinta pada plastik mi instan juga akan melebur bersama air jika direbus bersamaan dengan air panas. Semakin tinggi suhu rebusan air, maka bahan kimia berbahaya pada plastik akan semakin cepat larut.

Ketika masuk ke dalam tubuh, akan muncul sejumlah masalah kesehatan. Kanker sendiri dapat dipicu karena adanya kandungan zat karsinogenik di dalamnya. Kerja hormon endokrin dalam tubuh juga dapat terganggu karenanya. Akibatnya, terjadi pembengkakan kelenjar tiroid pada leher atau area lain pada tubuh. 

Baca juga: Ketahui 6 Fakta Mengenai Endometriosis

Ftalat Dapat Ditemui di Sejumlah Produk Berikut

Ftalat merupakan zat yang tidak dapat dilihat, dicium, atau dirasakan. Bahayanya, ftalat sendiri terdapat dalam banyak sekali produk yang digunakan sehari-hari. Apa saja?

  • Kosmetik, seperti parfum, cat kuku, hair spray, sampo, sabun, dan pelembap kulit.

  • Cat pelapis kayu pada furniture.

  • Deterjen pakaian.

  • Insektisida.

  • Bahan-bahan bangunan.

  • Pipa plastik.

  • Bahan makanan, seperti produk olahan susu dan daging.

  • Makanan siap saji.

  • Makanan atau minuman yang dikemas dan disajikan dalam plastik.

Beberapa orang juga dapat terpapar ftalat karena sejumlah kondisi berikut ini:

  • Mengidap penyakit ginjal.

  • Mengidap penyakit hemofilia, yaitu kelainan genetik pada darah yang disebabkan adanya kekurangan faktor pembekuan darah.

  • Peserta transfusi darah dan cuci darah yang menggunakan tabung infus dengan bahan plastik.

  • Seseorang yang bekerja sebagai tukang bangunan, di percetakan, atau di pabrik plastik.

Punya salah satu faktor pemicunya? Diskusikan dengan dokter di aplikasi Halodoc untuk mendapatkan solusi terbaik guna menjaga diri dari paparan bahan berbahaya tersebut. Tidak main-main, kanker merupakan salah satu efek samping yang dapat terjadi jika ftalat terlalu sering masuk ke dalam tubuh.

Baca juga: Keracunan Sianida Dapat Disebabkan karena Makanan, Benarkah?

Tips yang Dapat Dilakukan

Tubuh masing-masing orang memang memiliki sistem detoksifikasi alami. Meski begitu, jika kamu dapat melakukan cara terbaik untuk menghindarinya, mengapa tidak? Berikut langkah yang dapat dilakukan!

  • Baca label kemasan produk. Ketika mereka terkandung dalam suatu produk, akan terdapat kode “DHEP” atau “DiBP”.

  • Keterangan juga dapat ditulis dengan "bebas ftalat".

  • Hindari makanan cepat saji.

Selalu perhatikan apapun yang kamu makan, ya! Jangan hanya mempertimbangkan harga murah dan enak di lidah. Perhatikan pula apa yang akan terjadi pada tubuhmu dalam jangka panjang. 

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2020. What Are Phthalates?
Huff Post. Diakses pada 2020. How to Avoid Phthalates (Even Though You Can't Avoid Phthalates).