Benarkah Gangguan Kekebalan Tubuh Sebabkan Pemfigoid Bulosa?

Benarkah Gangguan Kekebalan Tubuh Sebabkan Pemfigoid Bulosa?

Halodoc, Jakarta – Pemfigoid bulosa adalah penyakit yang ditandai dengan munculnya lepuh di kulit. Lepuhan biasanya muncul di area lipatan tubuh, seperti ketiak, selangkangan, dan perut bagian bawah. Lantas, benarkah pemfigoid bulosa terjadi akibat gangguan sistem kekebalan tubuh? Ini jawabannya.

Baca Juga: Tidak Hanya Lenting Besar, Ini Gejala Lain Pemfigoid Bulosa

Benar, Gangguan Sistem Kekebalan Tubuh Sebabkan Pemfigoid Bulosa

Pemfigoid bulosa termasuk ke dalam penyakit autoimun. Artinya, munculnya lepuhan di kulit terjadi akibat adanya gangguan sistem kekebalan tubuh. Kok bisa? Sistem kekebalan tubuh seharusnya berfungsi untuk melindungi tubuh.

Namun pada pengidap pemfigoid bulosa, sistem kekebalan tubuh memproduksi antibodi untuk menyerang jaringan kulit yang sehat. Akibatnya, terjadi peradangan yang menyebabkan lapisan terluar kulit (epidermis) terpisah dari lapisan kulit di bawahnya (dermis), sehingga muncul luka lepuhan.

Meski belum diketahui secara pasti mengapa sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan kulit sehat, beberapa faktor berikut diduga menjadi pemicunya:

  • Efek samping konsumsi obat, seperti penisilin, furosemide, etanercept, dan sulfasalazine.

  • Mengidap penyakit tertentu, seperti diabetes, radang sendi, psoriasis, kolitis ulseratif, lichen planus, epilepsi, stroke, demensia, penyakit parkinson, dan multiple sclerosis.

  • Terapi khusus, seperti radioterapi untuk mengobati kanker dan terapi cahaya ultraviolet untuk mengobati psoriasis.

Baca Juga: Penyebab dari Pemfigoid Bulosa yang Perlu Diketahui

Mengenal Gejala Pemfigoid Bulosa

Gejala awal pemfigoid bulosa berupa perubahan warna kulit menjadi kemerahan, kehitaman, dan terasa gatal, khususnya di area lipatan. Setelah beberapa minggu atau bulan, pada permukaan kulit tersebut, muncul luka lepuhan berisi cairan bening atau bercampur darah.

Lepuhan ini tidak mudah robek atau pecah hanya karena sentuhan. Namun saat lepuhan robek atau pecah, pengidap akan mengalami nyeri dan timbul bekas luka. Lalu, apakah seseorang bisa tertular jika terkena cairan dari lepuhan kulit yang robek atau pecah? Jawabannya adalah tidak, karena penyakit ini tergolong penyakit autoimun.

Diagnosis dan Pengobatan Pemfigoid Bulosa

Pemfigoid bulosa didiagnosis melalui pengambilan jaringan kulit (biopsi) dan tes darah. Setelah diagnosis ditetapkan, dokter meresepkan obat-obatan guna menghilangkan lepuhan di kulit, meredakan rasa gatal, dan mencegah terbentuknya lepuhan baru, misalnya:

  • Obat golongan kortikosteroid berfungsi untuk mengurangi peradangan dengan menghambat sistem kekebalan tubuh. Obat tersedia dalam bentuk salep atau tablet.

  • Obat imunosupresif digunakan untuk menekan sistem kekebalan tubuh. Biasanya, obat ini diberikan agar penggunaan dosis obat kortikosteroid berkurang.

  • Salep antibiotik, dioleskan ke kulit ketika lepuhan robek atau pecah.

Pastikan kamu menggunakannya sesuai anjuran dokter. Selain konsumsi obat, pengidap pemfigoid bulosa juga dianjurkan untuk menghindari paparan sinar UV matahari, memakai baju longgar untuk mengurangi iritasi kulit, mandi dengan sabun khusus kulit sensitif, menghindari konsumsi makanan yang keras bila memiliki luka lepuh di dalam mulut, serta mengurangi aktivitas yang melibatkan bagian tubuh dengan luka lepuh.

Baca Juga: Begini Pengobatan untuk Atasi Pemfigoid Bulosa

Itulah penyebab pemfigoid bulosa yang perlu diketahui. Kamu dianjurkan segera ke dokter jika mendadak muncul lepuhan di kulit, terutama jika disertai dengan demam dan kulit bernanah. Kalau kamu punya pertanyaan serupa terkait pemfigoid bulosa, jangan ragu bertanya pada dokter Halodoc. Kamu hanya perlu membuka aplikasi Halodoc dan masuk ke fitur Talk to A Doctor untuk menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play!