Benarkah Radang Usus Dapat Sebabkan BAB Berdarah?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Gangguan radang usus terjadi karena sistem kekebalan yang menyerang virus, bakteri, atau makanan yang tidak berbahaya di susu. Hal tersebut menyebabkan peradangan yang mengarah pada cedera usus. 

Terdapat dua tipe radang usus, yaitu kolitis ulseratif dan penyakit Crohn. Kolitis ulseratif sebatas pada usus besar. Sedangkan penyakit Crohn dapat melibatkan seluruh bagian pencernaan dari mulut ke anus. Umumnya, bagaimana pun kedua jenis radang usus tersebut memengaruhi bagian terakhir dari usus kecil atau usus besar, bahkan keduanya. 

Seperti penyakit kronis pada umumnya, seseorang yang mengalami radang usus akan melalui periode-periode ketika penyakit itu kambuh dan menyebabkan gejala. Kemudian, akan diikuti juga oleh periode-periode ketika gejala-gejala berkurang atau hilang sehingga kesehatan kembali pulih. Berat atau ringannya gejala, tergantung pada bagian mana saluran usus terlibat. Gejala-gejala tersebut meliputi:

  • BAB atau diare yang mungkin berdarah.
  • Kram perut dan nyeri.
  • Buang air besar yang sangat sakit.
  • Demam.
  • Penurunan berat badan. 
  • Kehilangan selera makan.
  • Anemia defisiensi besi karena kehilangan darah.

Kemungkinan masih ada gejala lainnya. Jika kamu mencurigai adanya gangguan radang usus pada tubuh kamu, cobalah untuk segera mengkomunikasikannya pada dokter melalui aplikasi Halodoc. 

Baca juga: Ini 5 Gejala Penyakit Radang Usus yang Tidak Bisa Disepelekan

Rusaknya Sistem Kekebalan Tubuh

Penyebab radang usus sebenarnya belum diketahui secara pasti. Sebelumnya, penyebab yang dicurigai adalah diet dan stres. Namun, sekarang dokter mengetahui beberapa faktor-faktor yang dapat memperburuk radang usus, meskipun bukan penyebabnya.

Salah satu kemungkinan penyebab radang usus  adalah kerusakan sistem kekebalan tubuh. Saat sistem kekebalan kamu mencoba melawan virus atau bakteri yang menyerang, respons kekebalan yang abnormal menyebabkan sistem kekebalan tubuh untuk menyerang sel-sel di saluran pencernaan. 

Faktor keturunan tampaknya juga berperan dalam hal radang usus, umumnya pada orang yang memiliki anggota keluarga dengan penyakit ini. Hanya saja kebanyakan orang yang mengalami radang usus, tidak memiliki riwayat dalam keluarga. Lebih jelasnya, faktor risiko terjadinya radang usus:

  1. Usia. Kebanyak orang yang mengalami radang usus berusia di bawah 30 tahun. Beberapa orang lainnya tidak mengalami penyakit ini sampai usia mereka 50 atau 60 tahun. 
  2. Ras atau Etnis. Meskipun Kaukasia memiliki risiko penyakit ini lebih tinggi, tetapi sebenarnya dapat terjadi pada ras apapun. Selain itu, keturunan Yahudi Ashkenazi juga berisiko lebih tinggi mengalami gangguan usus ini.
  3. Riwayat Keluarga. Kamu akan sangat berisiko jika memiliki kerabat dekat, seperti orang tua, saudara kandung, atau anak-anak yang mengalami penyakit ini.
  4. Merokok. Ini merupakan faktor risiko yang paling harus diwaspadai yang dapat berpotensi munculnya penyakit Crohn. Banyak manfaat kesehatan yang akan dialami jika kamu berhenti merokok. 
  5. Obat antiinflamasi nonsteroid. Obat ini termasuk ibuprofen (Advil dan Motrin IB), naproxen sodium (Aleve), natrium diklofenak (Voltaren) dan lainnya. Obat-obat ini dapat meningkatkan risiko mengembangkan radang usus atau memperburuk penyakit pada orang yang memiliki radang usus. 
  6. Lingkungan tempat tinggal. Apabila kamu tinggal di negara industri, kamu cenderung dapat mengalami radang usus. Maka itu, kemungkinan faktor lingkungan berperan. Orang yang tinggal di iklim yang panas tampaknya juga berisiko lebih besar.

Baca juga: Cara Diagnosis Penyakit Crohn

Selain itu, kamu juga perlu mewaspadai komplikasi yang mungkin terjadi akibat terganggunya radang usus, meliputi:

  • Kanker usus besar.
  • Radang kulit, mata, dan sendi.
  • Kolangitis.
  • Darah menggumpal. 

Referensi:

Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Inflammatory Bowel Disease (IBW)

WebMD. Diakses pada 2019.  Inflammatory Bowel Disease (IBW)