• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Bercak Putih di Mulut Bisa Menjadi Gejala Campak pada Anak

Bercak Putih di Mulut Bisa Menjadi Gejala Campak pada Anak

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta – Kesehatan anak menjadi salah satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Gangguan kesehatan yang kerap terjadi nyatanya dapat memengaruhi pertumbuhan maupun menyebabkan penyakit yang lebih serius. Salah satunya adalah penyakit campak. Penyakit ini menjadi salah satu penyakit yang disebabkan oleh virus dan sangat rentan terjadi pada anak-anak.

Baca juga: Berapa Lama Waktu Penyembuhan Campak?

Selain itu, penyakit campak menjadi salah satu penyakit yang sangat mudah menular. Penularan dan penyebaran virus dapat terjadi melalui percikan air liur saat pengidap campak bersin atau batuk. Tidak hanya itu, penularan juga dapat terjadi ketika seseorang menyentuh permukaan benda yang telah terpapar virus campak dan masuk melalui hidung. Ibu, sangat penting mengetahui beberapa gejala campak pada anak agar ibu dapat mengatasi penyakit ini dengan tepat!

Selain Bercak Putih, Kenali Gejala Lain dari Campak

Campak menjadi salah satu penyakit yang disebabkan oleh virus. Umumnya, gejala terkait campak akan muncul setelah 7–14 hari setelah anak terpapar virus campak. Sebaiknya jangan sepelekan gejala campak yang muncul pada anak-anak dan bayi. Hal ini bisa berbahaya jika tidak segera mendapatkan perawatan yang tepat.

Gejala awal dari penyakit campak yang umum dialami anak-anak adalah batuk, demam tinggi, hingga hidung yang berair. Setelah 2–3 hari gejala muncul, gejala selanjutnya ditandai dengan munculnya bercak putih pada bagian langit-langit mulut. Kondisi ini dikenal juga sebagai koplik spots. 

Setelah 3–5 hari muncul bercak putih pada mulut, gejala lain seperti ruam kemerahan baru muncul pada kulit anak. Biasanya ruam akan berupa bintik merah yang muncul pada bagian wajah. Bintik merah akan menyebar pada bagian tubuh lain, seperti leher, tangan, tungkai, hingga kaki. Kondisi ruam biasanya disertai dengan demam yang semakin meningkat.

Baca juga: Faktor yang Tingkatkan Risiko Penularan Campak

Hingga saat ini pengobatan yang dilakukan bertujuan agar gejala yang dialami pengidap campak mereda dan tidak semakin memburuk. Selain mengonsumsi obat yang disarankan oleh dokter, sebaiknya perbanyak istirahat anak, perhatikan asupan cairan yang dikonsumsi anak, hingga atur cahaya kamar agar anak merasa nyaman. Jangan lupa untuk tetap memberikan asupan makanan sehat dan bergizi agar kondisi anak semakin pulih.

Namun, jangan sepelekan saat gejala yang dialami anak semakin memburuk. Misalnya, mengalami batuk darah atau sesak napas. Segera kunjungi rumah sakit terdekat untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut terkait kondisi kesehatan yang dialami oleh anak.

Bisakah Campak pada Anak Dicegah?

Salah satu pencegahan yang paling efektif untuk menghindari anak-anak dari paparan virus campak dengan melakukan imunisasi. Ibu bisa melakukan imunisasi MMR pada anak, saat mereka berusia 12–15 bulan. Biasanya, imunisasi MMR akan kembali diulang saat anak berusia 4–6 tahun.

Jika anak masih lebih muda dari usia 1 tahun, ibu bisa mendapatkan vaksin campak saat bayi berusia 9 bulan. Apalagi jika ibu memiliki rencana bepergian ke tempat yang menjadi endemik penyakit campak. 

Kondisi campak bisa berbahaya bagi anak-anak. Hal ini meningkatkan risiko komplikasi kesehatan pada anak-anak. Mulai dari infeksi telinga, infeksi mata, paru-paru basah, hingga mengalami kejang.

Baca juga: Seberapa Ampuh Vaksin Mencegah Campak?

Jangan lupa gunakan Halodoc dan bertanya langsung pada dokter  ketika ibu mendapati gangguan kesehatan pada anak. Gejala yang diketahui lebih dini membuat penanganan lebih mudah dilakukan. Yuk, download Halodoc sekarang juga melalui App Store atau Google Play!

Referensi:
Kids Health. Diakses pada 2020. Measles.
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2020. Measles.
Stanford Children’s Health. Diakses pada 2020. Measles in Children.