Bikin Penglihatan Kabur, Kenali 5 Gejala Neuritis Optik

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Neuritis Optik

Halodoc, Jakarta - Gangguan neuritis optik adalah kondisi terjadinya peradangan pada nervus optikus, ini merupakan saraf yang penting dan berperan dalam mengirimkan informasi dari mata ke otak mengenai apa yang sedang dilihat. Nyeri dan kehilangan daya lihat yang bersifat sementara pada satu mata merupakan gejala khas dari neuritis optik.

Penyakit ini sering juga dikaitkan dengan kondisi yang disebut sklerosis multipel, suatu penyakit yang menyebabkan peradangan dan kerusakan pada saraf di otak dan saraf tulang belakang. Tanda dan gejala neuritis optik bisa merupakan indikasi awal adanya sklerosis multipel atau hal tersebut bisa muncul seiring dengan perjalanan penyakit sklerosis multipel.

Selain sklerosis multipel, neuritis optik juga bisa terjadi bersamaan dengan penyakit infeksi atau imunitas lain seperti lupus. Neuritis optik biasanya mempengaruhi satu mata. Tanda dan gejala yang terjadi yaitu:

Baca juga: Pola Hidup Sehat Dapat Mencegah Terjadinya Multiple Sclerosis

  1. 1. Nyeri

Sebagian besar individu yang mengalami neuritis optik mengeluhkan nyeri pada mata yang diperburuk dengan gerakan bola mata. Terkadang, nyeri yang dirasakan seperti nyeri tumpul di belakang mata.

  1. Penurunan Penglihatan pada Satu Mata

Sebagian besar orang mengalami setidaknya penurunan daya lihat sementara, tapi derajat penurunan bisa berbeda-beda. Penurunan daya lihat yang signifikan biasanya berkembang dalam waktu jam atau hari dan membaik dalam beberapa minggu dan bulan.

  1. Penurunan Lapang Pandang

Penurunan lapang pandang bisa terjadi dengan pola yang tidak menentu. Hilangnya penglihatan bisa permanen pada sebagian kasus.

  1. Penurunan Daya Lihat Warna

Neuritis optik bisa memengaruhi persepsi warna dan individu yang mengalami bisa merasa bahwa warna tidak tampak seterang sebelumnya.

Baca juga: 6 Fakta Tentang Kerusakan Saraf Multiple Sclerosis

  1. Kilatan Cahaya

Kebanyakan individu yang mengalami neuritis optik melaporkan mengalami kilatan cahaya dengan pergerakan bola mata.

Peradangan dan kerusakan saraf optik diperkirakan oleh kelainan autoimun, yaitu adanya gangguan pada sistem kekebalan tubuh di mana sistem imun menyerang tubuh sendiri. Pada kelainan ini yang diserang oleh sistem imun tubuh merupakan selaput myelin. Beberapa penyakit autoimun yang berkaitan dengan neuritis optik yaitu multiple sclerosis dan neuromyelitis optica. Persentase risiko neuritis optik kambuh kembali pada pengidap multiple sclerosis adalah sekitar 50 persen. Selain kedua penyakit autoimun tersebut, beberapa faktor lain yang juga bisa menyebabkan neuritis optik yaitu:

  • Obat-obatan, misalnya beberapa jenis antibiotik dan pil kina
  • Infeksi bakteri (contohnya sifilis dan penyakit Lyme) atau infeksi virus (contohnya campak, herpes, dan gondongan)
  • Penyakit lainnya, seperti sarkoidosis, lupus, penyakit vaskuler, diabetes, glaukoma dan defisiensi vitamin B12 (sangat jarang terjadi.

Baca juga: Benarkah Multiple Sclerosis Merupakan Penyakit Turunan

Bagi seseorang yang mengalami neuritis optik, obat-obatan golongan beta interferon bisa diresepkan oleh dokter untuk menunda atau mencegah terjadinya sklerosis multiple. Obat yang diberikan dengan cara disuntikkan tersebut diresepkan pada individu yang memiliki risiko tinggi untuk terjadinya sklerosis multiple. Beberapa efek samping bisa terjadi, termasuk depresi, iritasi pada lokasi suntikan, dan gejala batuk pilek.

Apabila kamu membutuhkan saran penanganan ataupun resep dokter berkaitan dengan penyakit ini, kamu dapat menanyakannya pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana saja. Saran dokter dapat diterima dengan praktis dengan cara download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga.