21 March 2019

Bisakah Deteksi Glomerulonefritis Lewat Warna Urine?

Bisakah Deteksi Glomerulonefritis Lewat Warna Urine?

Halodoc, Jakarta - Glomerulonefritis adalah gangguan pada glomerulus yang menyebabkan bagian ini mengalami peradangan. Glomerulus adalah bagian ginjal yang memiliki fungsi untuk menyaring dan membuang cairan serta elektrolit yang berlebih pada tubuh, serta zat sisa yang ada dalam aliran darah. Jika glomerulus mengalami kerusakan, maka hal ini menyebabkan darah dan protein terbuang lewat urine. Oleh karena itu, deteksi glomerulonefritis dilakukan melalui warna urine.

Setiap pengidap glomerulonefritis bisa mengalami perbedaan kondisi. Ada yang mengalaminya dalam waktu singkat, namun ada juga yang panjang. Parahnya, penyakit ini bisa berkembang pesat sehingga mengakibatkan kerusakan ginjal dalam hitungan minggu atau bulan. Kondisi ini dapat disebut rapidly progressive glomerulonephritis (RPGN).

Glomerulonefritis akut bisa terjadi akibat respons tubuh terhadap infeksi yang sedang terjadi pada tubuh. Sementara pada kasus glomerulonefritis kronis, pengidap seringkali tidak mengetahui penyebabnya dan tidak merasakan gejala, sehingga menyebabkan kerusakan ginjal yang tidak dapat diperbaiki kembali. Jika glomerulonefritis kronis dapat dideteksi sejak awal, maka kondisi ini dapat dicegah perkembangannya.

Baca Juga: Komplikasi yang Bisa Disebabkan oleh Glomerulonefritis

Gejala Glomerulonefritis

Gejala umum yang bisa muncul pada penderita glomerulonefritis antara lain:

  • Urine yang berbuih dan berwarna kemerahan.

  • Hipertensi.

  • Pembengkakan pada wajah, tangan, kaki, dan perut.

  • Kelelahan.

  • Frekuensi buang air kecil berkurang.

  • Munculnya cairan di paru-paru yang menyebabkan batuk.

Sementara untuk deteksi glomerulonefritis kronis, dokter sering mengalami kesulitan karena biasanya terjadi tanpa menimbulkan gejala. Apabila muncul gejala, gejalanya serupa dengan gejala yang ada pada glomerulonefritis akut. Berbeda dengan glomerulonefritis akut, pada glomerulonefritis kronik terjadi frekuensi buang air kecil yang meningkat di malam hari.

Penyebab Glomerulonefritis

Penyebab paling sering dari glomerulonefritis adalah bakteri Streptococcus. Penyebab lainnya terjadi akibat berbagai kondisi, misalnya infeksi, gangguan sistem imun, dan gangguan pembuluh darah. Beberapa hal yang menyebabkan glomerulonefritis akut, yaitu:

  • Infeksi. Bakteri atau virus dan menyebabkan infeksi yang terjadi pada tubuh dan mengakibatkan reaksi kekebalan tubuh yang berlebihan sehingga mengakibatkan peradangan pada ginjal dan terjadi glomerulonefritis. Contoh infeksi yang dapat menyebabkan glomerulonefritis, antara lain adalah infeksi bakteri Streptococcus pada tenggorokan, infeksi gigi, endokarditis bakteri, HIV, hepatitis B, dan hepatitis C.

  • Kelainan Sistem Imun. Contoh kondisi yang berefek pada ginjal adalah penyakit lupus, kondisi ini menyebabkan peradangan pada berbagai organ tubuh, termasuk ginjal. Selain itu glomerulonefritis dapat disebabkan oleh kelainan sistem imun lainnya, seperti sindrom Goodpasture yang menyerupai pneumonia dan menyebabkan perdarahan di paru-paru dan ginjal, serta nefropati IgA yang menyebabkan endapan salah satu protein sistem pertahanan tubuh (IgA) pada glomerulus ginjal.

  • Vaskulitis. Vaskulitis terjadi pada berbagai organ, termasuk ginjal. Contoh penyakit vaskulitis yang menyerang pembuluh darah ginjal dan mengakibatkan glomerulonefritis adalah poliarteritis dan granulomatosis Wegener.

Sementara glomerulonefritis kronis seringkali tidak memiliki penyebab yang khusus. Salah satu penyakit genetik, yaitu sindrom Alport menyebabkan glomerulonefritis kronis. Paparan zat kimia pelarut hidrokarbon dan riwayat kanker juga diduga memicu terjadinya glomerulonefritis kronis.

Baca Juga: Gara-Gara Kelainan Sistem Imun, Ketahui Fakta Glomerulonefritis

Diagnosis Glomerulonefritis

Deteksi glomerulonefritis bisa dilakukan dengan beberapa langkah, yakni:

  • Pemeriksaan urine. Metode ini penting dalam mendiagnosis glomerulonefritis karena dapat mendeteksi adanya kerusakan struktur glomerulus melalui warna, kandungan serta berat jenis.

  • Tes darah. Cara ini memberikan informasi tambahan terkait kerusakan ginjal. Saat tes darah glomerulonefritis diketahui melalui menurunnya kadar hemoglobin, meningkatnya kadar zat sisa seperti ureum dan kreatinin, serta menurunnya kadar protein albumin dalam darah karena keluar melalui urine.

  • Tes Imunologi. Tes ini dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai kelainan sistem imun. Pemeriksaan tersebut antara lain antinuclear antibodies (ANA), komplemen, antineutrophil cytoplasmic antibody (ANCA), dan antiglomerular basement membrane (anti-GBM).

  • Pencitraan. Pencitraan bertujuan untuk memperlihatkan gambaran kondisi ginjal secara visual. Metode pencitraan yang dapat digunakan adalah foto rontgen, CT scan, dan USG.

  • Biopsi ginjal. Dilakukan dengan mengambil sampel jaringan ginjal dan diperiksa di bawah mikroskop untuk memastikan kondisi. Biopsi juga membantu dokter untuk mencari penyebab dari glomerulonefritis tersebut.

Baca Juga: Glomerulonefritis Bisa Sebabkan Ginjal Kronik pada Usia Muda

Itulah hal-hal yang perlu kamu ketahui tentang glomerulonefritis. Jika kamu mempunyai pertanyaan perihal penyakit ini, dokter dari Halodoc siap membantu. Komunikasi dengan dokter dapat dilakukan dengan mudah melalui Chat atau Voice/Video Call. Kamu juga bisa membeli obat di aplikasi Halodoc, dan pesananmu akan diantar ke tempat tujuan dalam waktu satu jam. Yuk,  download aplikasinya sekarang di App Store dan Google Play!