Tinggal di Apartemen, Baikkah untuk Psikologis Anak?

dampak tinggal di apartemen, dampak anak tinggal di apartemen
IBU & ANAK 02 July 2018

Halodoc, Jakarta – Mahalnya harga rumah di ibu kota membuat masyarakat lebih memilih untuk menyewa atau bahkan membeli sebuah apartemen sebagai alternatif hunian. Tidak hanya harganya yang terbilang cukup bersaing, tinggal di apartemen disinyalir lebih aman dari ancaman bencana alam seperti banjir dibandingkan dengan rumah. Lokasi apartemen yang strategis pun tak luput dari pertimbangan orang memilih tinggal di apartemen.

Memang terasa nyaman dengan segala fasilitasnya, tetapi bagaimana dampak tinggal di apartemen untuk perkembangan psikologis anak? Tentunya, tembok tinggi apartemen membuat anak tidak bisa bergerak bebas. Meski beberapa apartemen telah memiliki fasilitas berupa taman bermain yang ramah anak, tetap saja ini tidak banyak pengaruhnya untuk tumbuh kembang anak.

Dampak Tinggal di Apartemen Bagi Perkembangan Psikologi Anak

Pasalnya, bangunan apartemen yang umumnya memiliki tinggi lebih dari 10 lantai ini membuat anak merasa takut untuk keluar ruangan tanpa pendampingan orang tua. Terlebih jika rumah tinggal sang anak berada di lantai yang cukup tinggi dan jauh dari taman tersebut. Tidak punya pilihan, anak pun pada akhirnya terpaksa bermain di dalam rumah seharian.

Pintu-pintu apartemen yang hampir selalu tertutup tidak jarang membuat seseorang menjadi antisosial. Individualis menjadi karakter utama yang akan dimiliki orang-orang yang tinggal di apartemen. Kondisi ini tentu tidak baik untuk perkembangan dan psikologi anak. Bersosialisasi sangat penting untuk menunjang tumbuh kembang anak, menjadikan ia pribadi yang lebih terbuka dan aktif.

Baca juga: Dampak Keluarga yang Tidak Harmonis pada Psikologi Anak

Namun, yang banyak terjadi, tak sedikit anak yang tumbuh menjadi pribadi yang egois, tertutup, dan pasif sebagai dampak tinggal di apartemen. Ini disebabkan karena mereka tidak bertegur sapa dengan para tetangga, tidak bermain dengan teman-teman sebayanya, dan menghabiskan waktu bermain di dalam rumah, tidak berinteraksi dengan dunia luar. Pada akhirnya, anak akan menjadi kurang percaya diri dalam menghadapi segala masalah yang menghampirinya.

Memberikan Gawai Bukan Jawaban yang Tepat

Ironisnya, kebanyakan orang tua yang terlalu sibuk akan aktivitas dan rutinitasnya lebih memilih untuk menggunakan cara instan dalam menghibur anak, yaitu memberikan mereka gawai untuk menggantikan waktu bermain mereka di luar. Alasannya sederhana, karena kesibukan orang tua sehingga tidak memiliki cukup waktu untuk menemani anak bermain di luar.

Padahal, memberikan gawai bukan menjadi jawaban yang tepat. Benda ini akan membuat anak lebih antisosial. Nantinya, di mana pun ia berada, ponsel akan menjadi teman terbaiknya. Jika dibiarkan, anak akan menjadi kecanduan, dan ini jelas tidak baik untuk perkembangannya di masa mendatang.

Baca juga: Ini Dampak Psikologi Anak yang Selalu Dijanjikan Hadiah

Solusi Agar Anak Tidak Menjadi Antisosial Meski Tinggal di Apartemen

Agar dampak tinggal di apartemen bagi perkembangan psikologi anak tidak terlalu negatif, orang tua hendaknya harus meluangkan waktu untuk sang buah hati. Tidak hanya di akhir pekan, tetapi setiap hari. Sempatkan untuk menemai anak belajar atau bermain, baik di dalam rumah maupun di luar. Alangkah lebih baik jika bisa menemani Si Kecil bermain di taman setiap sore hari.

Agar anak tumbuh menjadi pribadi yang aktif dan percaya diri, ajaklah ia untuk berinteraksi dengan teman-teman sebayanya dengan bermain di luar rumah. Ini akan membantu membentuk karakter dirinya sebagai bekal saat ia harus menghadapi orang lain nantinya.

Memang, dampak tinggal di apartemen tidak selamanya negatif untuk perkembangan psikologi anak. Tak sedikit keluarga yang memilih rumah sebagai tempat tinggal pun memiliki buah hati yang pasif dan antisosial. Intinya, bagaimana orang tua mengasuh anak adalah yang utama, bukan pada di mana ia tinggal.

Nah, jika ibu memiliki kendala atau permasalahan seputar mengasuh dan mendidik sang buah hati, ibu bisa mendapatkan solusinya dengan cepat melalui aplikasi Halodoc. Layanan Tanya Dokter akan langsung menghubungkan ibu dan berbagai dokter ahli sesuai bidangnya. Ibu bisa download aplikasi Halodoc melalui App Store atau Google Play Store.


Rekomendasi Artikel

KECANTIKAN

19 July 2018

Nah, agar kesehatan tubuh tetap terjaga selama lembur, ada beberapa makanan yang perlu dikonsumsi saat lembur...

Selengkapnya

KECANTIKAN

19 July 2018

Komedo atau bintik kecil berwarna putih pada permukaan wajah, kerap kali membuat penampilan jadi tak menarik....

Selengkapnya

DIET & NUTRISI

19 July 2018

Meski rasanya lezat, camilan dalam kemasan dapat membahayakan tubuh. Antara lain: mengganggu tekanan darah, gu...

Selengkapnya