• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Bukan Hanya Demam, Rabies Bisa Sebabkan Pembengkakan Otak

Bukan Hanya Demam, Rabies Bisa Sebabkan Pembengkakan Otak

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta – Sebaiknya jangan sepelekan luka yang disebabkan oleh kucing maupun anjing, apalagi jika hewan tersebut merupakan hewan liar. Kondisi yang tidak segera diatasi dengan tepat dapat tingkatkan risiko penyakit rabies. Tahukah kamu bahwa penyakit rabies menjadi salah satu penyakit yang berbahaya dan dapat menyebabkan kematian? Hal ini disebabkan virus rabies yang ditularkan pada hewan dapat menyerang otak hingga saraf manusia.

Baca juga: 3 Gejala Rabies pada Manusia

Bukan hanya demam, virus rabies juga dapat meningkatkan risiko pembengkakan otak atau yang dikenal sebagai edema serebral. Selain itu, gejala yang tidak diatasi dapat meningkatkan risiko gejala lanjutan hingga timbulkan komplikasi. Untuk itu, sangat penting selalu berhati-hati ketika berkegiatan dengan hewan yang dapat menularkan penyakit ini dan lakukan pencegahan dengan suntik vaksin rabies. Simak ulasan lengkapnya mengenai penyakit rabies di sini.

Bukan Hanya Demam, Kenali Gejala Lain dari Rabies

Ada berbagai jenis hewan yang dapat menjadi pembawa virus rabies bagi manusia, seperti anjing, kucing, kera, hingga kelelawar. Jika kamu mengalami luka akibat gigitan atau cakaran hewan-hewan tersebut, sebaiknya jangan abaikan karena dapat berisiko mengalami penyakit rabies. Apalagi jika hewan tersebut merupakan hewan liar.

Biasanya, virus rabies memiliki masa inkubasi, hingga akhirnya gejala muncul pada pengidap rabies. Masa inkubasi berlangsung sekitar 4–12 minggu, tetapi, kondisi ini akan berbeda satu dengan yang lainnya. Melansir Centers for Disease Control and Prevention, masa inkubasi juga dapat dipengaruhi oleh lokasi luka yang terpapar virus rabies dan juga sistem imun tubuh yang dimiliki oleh korban gigitan hewan liar.

Baca juga: 4 Fakta tentang Rabies pada Manusia

Gejala awal dari penyakit rabies biasanya dinilai hampir serupa dengan penyakit flu, seperti rasa tidak nyaman dan juga demam. Namun tidak hanya demam, adanya paparan virus pada otak juga dapat tingkatkan risiko pembengkakan otak yang menyebabkan pengidap mengalami sakit kepala. Gejala ini mungkin dapat terjadi selama beberapa hari yang kemudian disertai dengan gejala lanjutan.

Gejala lanjutan pada pengidap rabies dapat berupa nyeri pada area bekas gigitan, mengalami rasa cemas yang tidak kunjung reda, hingga beberapa gejala lain, seperti:

  1. Hiperaktif;
  2. Terlalu bersemangat;
  3. Kram otot;
  4. Insomnia;
  5. Halusinasi;
  6. Produksi air liur berlebih;
  7. Kesulitan menelan;
  8. Takut air (Hydrophobia);
  9. Sesak napas.

Segera lakukan pemeriksaan pada rumah sakit terdekat atau gunakan aplikasi Halodoc untuk bertanya langsung pada dokter mengenai gejala yang kamu alami terkait dengan penyakit rabies. Kondisi ini yang tidak diatasi dapat menyebabkan komplikasi, seperti kelumpuhan, kondisi koma, hingga kematian.

Penanganan Penyakit Rabies

Rabies menjadi salah satu penyakit yang berbahaya dan disebabkan oleh paparan virus rabies. Virus ini dapat masuk ke dalam tubuh melalui gigitan hewan atau luka yang terbuka. Saat didalam tubuh, virus akan menyebar melalui pembuluh darah. Saat mencapai otak, virus dapat berkembang dan menyebabkan infeksi pada otak serta saraf tulang belakang.

Baca juga: Bagaimana Cara Rabies Menyerang Manusia?

Sebaiknya segera lakukan penanganan setelah kamu mengalami luka akibat gigitan atau cakaran hewan yang berpotensi menularkan penyakit rabies. Melakukan vaksin rabies dinilai cukup efektif untuk meningkatkan tubuh memproduksi antibodi penetral virus rabies. Penanganan ini dapat membantu tubuh dalam melawan virus rabies yang dapat menyebabkan infeksi pada otak maupun saraf.

Perlu diketahui, bahwa vaksin rabies merupakan salah satu vaksin yang terbilang aman bagi ibu hamil. Lalu, bagaimana pencegahan penyakit rabies? Melansi Kids Health, untuk mencegah penyakit rabies, sebaiknya penuhi jadwal vaksin hewan peliharaan dan hindari menyentuh hewan liar.

Referensi:
Kids Health. Diakses pada 2020. Rabies.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Rabies.
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2020. Rabies.