25 October 2018

Bunuh Diri Ajak Keluarga, Begini Penjelasan Psikologisnya

Bunuh Diri Ajak Keluarga, Begini Penjelasan Psikologisnya

Halodoc, Jakarta -  "Aku sudah sangat lelah. Maafkan aku. Aku sangat sayang anak dan istriku. Choky dan Snowy. Aku tidak sanggup meninggalkan mereka di dunia ini." Begitu isi tulisan yang ditinggalkan FX (45) sebelum mengakhiri hidupnya dengan menembakkan senjata api Revolver ke bagian bawah dagunya.

Mirisnya, tak hanya FX saja yang tewas, sebab istri MY (43) dan kedua anaknya RF (18) dan KF (11) pun juga ditemukan dalam keadaan tak bernyawa karena luka tembakan. Bahkan, kedua anjing peliharaan keluarga itu juga tak luput dari peristiwa nahas tersebut.

Hingga saat ini, dugaan sementara tewasnya satu keluarga di atas merupakan kasus pembunuhan dan bunuh diri. Pihak kepolisian menduga, FX sebagai pelaku pembunuhan sebelum mengakhiri hidupnya sendiri.

Tekanan dan Gangguan Psikologis

Memang sulit menerima peristiwa di atas dengan akal sehat. Apalagi FX dan keluarganya dikenal sebagai keluarga yang periang dan supel. Namun dalam kacamata psikologi, bunuh diri sendiri diduga terkait dengan kondisi mental psikologis yang mengalami gangguan seperti depresi.

Menurut para pakar, depresi ini disebabkan oleh beberapa faktor yang akan memengaruhi kondisi neuropsikologis (otak dan perilaku). Faktor-faktor ini bisa dipicu oleh berbagai hal. Mulai dari lingkungan, pola asuh, kehilangan dukungan sosial atau pekerjaan, dan lain-lain.

Berdasarkan data para ahli, lebih dari 90 persen orang-orang yang bunuh diri mengidap atau mengalami gangguan psikologis. Meski depresi dan bunuh diri amat terkait erat satu sama lain, tapi depresi dan bunuh diri masih berdiri sendiri. Kata ahli, dalam kebanyakan kasus, perasaan terisolasi dan kehilangan harapan (bagian dari depresi) merupakan hal yang sangat bisa menyebabkan terjadinya bunuh diri atau usaha bunuh diri.

Tak Selalu Luka Psikologi

Kendati depresi seringkali disangkutpautkan dengan bunuh diri, atau bahkan diduga menjadi biang keladi dari kasus bunuh diri, tetapi nyatanya kasus kematian ini tak selalu berkaitan dengan luka psikologi. Menurut seorang psikolog dari Amerika Serikat, peristiwa ini cenderung lebih pada rasa putus asa. Bunuh diri bukanlah sebuah sesuatu yang direncanakan, karena putus asa dapat dirasakan kapan saja. Nah, putus asa ini sendiri tak selalu disebabkan karena seseorang mengalami gangguan mental.

Menurut ahli dalam American Psychological Association, orang yang cenderung melakukan hal ini bisa dilihat dari masalah makan dan tidur dan juga adanya pikiran untuk sakit atau mati. Oleh sebab itu, para psikolog sepakat bahwa bila ada seseorang yang mengeluarkan pernyataan ambigu seperti ingin membunuh dirinya sendiri, sebaiknya kita perlu memberikan perhatian kepada mereka.

Kenali Tanda-tandanya

Sama halnya dengan penyakit-penyakit fisik, masalah psikologi, rasa putus asa, ataupun gangguan mental ini juga memiliki beberapa tanda. Berikut tanda-tandanya seperti ditulis para ahli dalam buku Mayo Clinic - Family Health Book.

1. Emosi yang labil

Tiap orang mungkin pernah mengalami naik turunnya suasana hati. Hal ini memang normal, tetapi perubahan suasana hati yang drastis perlu diperhatikan dengan serius. Misalnya, seseorang mengekspresikan emosi yang menggebu, tetapi di lain hari dia terlihat begitu putus asa atau tertekan.

2. Mengancam Ingin Membunuh Dirinya

Ada kalanya seseorang akan memberi tahu orang lain secara langsung tentang pikirannya untuk melakukan hal ini. Namun, di sisi lain bisa juga melakukan pendekatan secara tak langsung. Contohnya, mengatakan kalau dunia akan lebih baik tanpa kehadirannya atau kalau dia mati.

3. Menarik Diri

Tanda lainnya bisa berupa sikap yang menggambarkan tak suka bergaul dengan orang lain atau keinginan untuk dibiarkan seorang diri. Contohnya, adanya masalah di tempat kerja atau sekolah. Hal itu merupakan tanda lain menarik diri dari pergaulan.

4. Memberi Hadiah

Terkadang ada pula seseorang yang ingin mati akan memberikan barang miliknya yang berharga kepada orang lain. Alasannya, mereka yakin kalau hal tersebut sudah tidak dibutuhkannya lagi.

5. Perubahan Kepribadian

Perubahan kepribadian atau kebiasaan di sini akan terjadi secara ekstrem. Misalnya, pola tidur dan makan yang berubah. Contoh lainnya, seseorang yang biasanya pemalu, tiba-tiba menarik perhatian dalam sebuah situasi (misalnya, acara pesta). Bisa juga mereka yang tadinya amat terbuka, tiba-tiba menjadi penyendiri.

Punya keluhan kesehatan fisik atau mental? Kamu bisa lho bertanya langsung kepada ahlinya melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Baca juga: