• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Cairan Ketuban Terlalu Sedikit Bisa Sebabkan Gawat Janin

Cairan Ketuban Terlalu Sedikit Bisa Sebabkan Gawat Janin

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Pernah mendengar istilah gawat janin sebelumnya? Kondisi ini terjadi saat janin dalam kandungan tidak mendapat pasokan oksigen yang cukup selama masa kehamilan atau persalinan, sehingga denyut jantung janin menjadi tidak normal. Gawat janin juga bisa dipicu oleh cairan ketuban yang terlalu sedikit. Jika hal ini terjadi, janin sedang tidak dalam kondisi yang baik-baik saja. Lantas, apa saja faktor risiko gawat janin yang perlu diwaspadai?

Baca juga: Ibu, Ketahui 4 Gejala Gawat Janin yang Harus Ditangani

Cairan Ketuban Terlalu Sedikit Jadi Faktor Risiko Gawat Janin

Janin dalam kandungan umumnya akan mengalami perpindahan posisi, terutama saat mendekati hari perkiraan lahir (HPL). Namun, saat pergerakan janin dalam kandungan mengalami penurunan atau tidak sesering biasanya, kondisi ini bisa menjadi tanda adanya masalah pada perkembangan janin, dan merupakan salah satu indikasi dari gawat janin.

Bukan itu saja, cairan ketuban yang terlalu sedikit juga menjadi salah satu faktor risiko gawat janin yang perlu diwaspadai. Air ketuban mengandung nutrisi, hormon, dan sel pembentuk sistem kekebalan tubuh yang dihasilkan oleh ibu untuk janin. Jika air ketuban kurang di akhir usia kehamilan, maka dokter akan menyarankan ibu untuk segera melahirkan untuk mencegah terjadinya sejumlah komplikasi.

Namun, jika air ketuban terlalu sedikit di pertengahan kehamilan, maka dokter akan melakukan beberapa langkah perawatan, seperti:

  • Menambah cairan ke dalam kantung ketuban.
  • Menambah asupan cairan selama masa kehamilan.
  • Istirahat total.

Jika cairan ketuban terlalu sedikit dan dibiarkan tanpa perawatan, maka kondisi ini akan menyebabkan gawat janin dan menimbulkan beberapa komplikasi serius, seperti kelahiran prematur, keguguran, serta bayi lahir dengan berat badan rendah. Bukan hanya cairan ketuban yang terlalu sedikit saja yang menjadi indikasi gawat janin, berikut faktor risiko gawat janin lainnya.

Baca juga: Hamil Terlalu Lama Bisa Sebabkan Gawat Janin

Faktor Risiko Gawat Janin Lainnya

Ada banyak kondisi yang menjadi penyebab gawat janin. Bukan hanya cairan ketuban yang terlalu sedikit saja, berikut ini sejumlah faktor risiko gawat janin lainnya:

  • Bayi belum lahir saat usia kandungan lebih dari 42 minggu.
  • Sedikitnya kadar oksigen yang diperoleh bayi.
  • Mengidap preeklampsia, sehingga memengaruhi fungsi plasenta.
  • Wanita hamil yang berusia di atas 35 tahun.
  • Mengidap diabetes gestasional atau tekanan darah tinggi.
  • Mengalami kompresi tali pusar. 
  • Mengidap infeksi pada janin.
  • Mengalami obesitas saat hamil.
  • Merokok.
  • Mengalami perdarahan antepartum (melalui vagina).

Janin yang sehat akan ditandai dengan pergerakan janin yang aktif dalam rahim, pertumbuhan dan perkembangan organ tubuh janin normal dan sehat, jantung berdetak secara teratur, serta perubahan posisi janin menjelang kelahiran. Jadi, saat ibu memiliki sejumlah kondisi yang menjadi faktor risiko gawat janin, segera temui dokter di rumah sakit terdekat untuk mendapatkan langkah penanganan yang tepat.

Baca juga: 4 Pemeriksaan untuk Deteksi Terjadinya Gawat Janin

Sedangkan saat janin dalam kandungan mengalami gawat janin, maka hal tersebut akan ditunjukkan dengan tanda, seperti penurunan detak jantung, serta penurunan pergerakan janin dalam kandungan. Jadi, selalu lakukan pemeriksaan rutin secara berkala selama ibu mengandung, agar hal-hal yang tidak diinginkan dapat diatasi secepatnya tanpa menimbulkan komplikasi yang membahayakan.


Referensi:
Baby Centre. Diakses pada 2020. Fetal distress.
American Pregnancy. Diakses pada 2020. Fetal distress.
Medical News Today. Diakses pada 2020. Ten common labor complications.