29 June 2018

Calon Ibu Harus Tahu Bahaya Hipertensi yang Mengancam

Bahaya hipertensi

Halodoc, Jakarta – Salah satu keluhan umum saat kehamilan adalah hipertensi (tekanan darah tinggi). Ini adalah kondisi di mana tekanan darah ibu menunjukkan angka 140/90 mmHg. Jika ditangani dengan tepat, kondisi ini cenderung tidak membahayakan dan akan membaik setelah persalinan.

Baca juga: 7 Tanda Darah Tinggi yang Harus Diketahui semua orang

Berikut adalah beberapa jenis hipertensi yang mungkin terjadi saat kehamilan:

  • Hipertensi kronis, biasanya terjadi sebelum kehamilan atau usia kehamilan 20 minggu.
  • Hipertensi gestasional, biasanya terjadi setelah usia kehamilan 20 minggu (trimester ke-2). Kondisi ini bisa meningkatkan risiko preeklamsia pada ibu hamil.
  • Hipertensi kronis, biasanya terjadi pada wanita yang mengidap hipertensi kronis sebelum kehamilan. Kondisi ini ditandai dengan tekanan darah tinggi dan kadar protein dalam urine yang tinggi.
  • Preeklamsia, yaitu komplikasi pada kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan kerusakan organ, seperti kerusakan ginjal yang ditandai dengan tingginya kadar protein pada urine (proteinuria).
  • Eklamsia, ini adalah kondisi terparah terkait hipertensi dalam kehamilan. Kondisi ini menyebabkan ibu hamil mengalami kejang, hingga penurunan kesadaran yang bisa membahayakan ibu dan janin.

Bahaya Hipertensi Saat Hamil

Bagi calon ibu, berikut adalah beberapa bahaya hipertensi saat hamil:

1. Terhambatnya Aliran Darah ke Plasenta

Hipertensi bisa menghambat aliran darah ke plasenta, menyebabkan janin kekurangan oksigen dan nutrisi penting yang dibutuhkannya. Ini akan berdampak pada pertumbuhan janin yang lambat, berat bayi lahir rendah (BBLR), kelahiran prematur, hingga kematian janin dalam kandungan.

2. Abrupsi Plasenta

Preeklamsia bisa meningkatkan risiko abrupsi plasenta, yaitu kondisi di mana plasenta terpisah dari dinding dalam rahim sebelum persalinan. Kondisi ini bisa menyebabkan terjadinya perdarahan dan kerusakan plasenta yang bisa mengancam nyawa ibu dan janin dalam kandungan.

3. Risiko Penyakit Jantung

Preeklamsia juga bisa meningkatkan risiko penyakit jantung setelah melahirkan. Risiko ini akan lebih besar jika ibu melahirkan bayi secara prematur. Untuk meminimalkan risiko ini, ibu perlu menerapkan gaya hidup sehat setelah melahirkan. Antara lain dengan menjaga berat badan ideal, perbanyak konsumsi buah dan sayur, batasi makanan bergaram tinggi, berolahraga secara rutin, serta berhenti merokok dan hindari konsumsi alkohol.

Baca juga: Makanan Asin Bisa Bikin Darah Tinggi, Kenali Faktanya

Tips Mencegah Hipertensi Saat Hamil

Berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah hipertensi saat hamil:

 

  • Perbanyak makanan yang bergizi, terutama asupan yang dibutuhkan selama kehamilan. Misalnya, perbanyak mengonsumsi sayuran, ikan, buah-buahan, serta minum air putih. Jangan lupa juga untuk membatasi asupan garam harian.
  • Batasi asupan garam. Departemen Kesehatan RI merekomendasikan agar asupan garam harian tidak lebih dari 5 gram atau setara dengan satu sendok teh. Jika ibu sudah mengidap hipertensi, pastikan asupan garam harian tidak lebih dari 3 gram.
  • Terapkan pola hidup sehat. Antara lain menghentikan kebiasaan merokok, hindari konsumsi alkohol, dan kebiasaan buruk lain yang berdampak pada tekanan darah saat hamil.

 

  • Rutin berolahraga. Ini dilakukan untuk melancarkan sirkulasi darah dan oksigen dalam tubuh. Misalnya, berjalan kaki, berenang, yoga, dan senam hamil.

Baca juga: Inilah 4 Olahraga yang Baik untuk Bumil

 

  • Hindari stres. Alasannya karena stres bisa memicu naiknya tekanan darah.
  • Hindari kelelahan. Sebisa mungkin, ibu hamil perlu segera beristirahat saat merasa lelah.
  • Rutin periksa ke dokter. Ini dilakukan untuk memantau tekanan darah ibu selama kehamilan.

 

Itulah tiga bahaya hipertensi yang perlu diketahui. Kalau ibu punya pertanyaan lain seputar tekanan darah saat hamil, gunakan aplikasi Halodoc saja. Sebab melalui Halodoc, ibu bisa berbicara dengan dokter tepercaya kapan saja dan dimana saja melalui Chat, dan Voice/Video Call. Jadi, yuk download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play sekarang juga!