• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Cara Mengajarkan Anak Mejadi Pribadi yang Optimis

Cara Mengajarkan Anak Mejadi Pribadi yang Optimis

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Orangtua perlu mengajar anak-anak mereka bahwa tidak selamanya perjalanan hidup lancar, tetapi semua bisa menjadi lebih baik ketika kita belajar mengatasi masalah dan tetap optimis.

Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh Psych Central, disebutkan kalau mengajarkan optimisme pada anak tidak hanya memberikan semangat, tetapi juga meningkatkan kemampuan untuk mengatasi tekanan hidup ke depannya. Informasi selengkapnya mengenai cara mengajarkan anak menjadi pribadi yang optimis bisa dibaca di bawah ini!

Menanamkan Sikap Optimis pada Anak

Tidak selamanya orangtua selalu mendampingi anak-anaknya. Untuk itu, sangat penting memberikan pembekalan sedari dini untuk melatih mental dan kepribadian anak. Ketika hidup menjadi sulit, semua orangtua ingin anak-anaknya supaya tetap bertahan dan berjalan.

Baca juga: Waspada, Ini 5 Dampak Memaksakan Kehendak pada Anak

Ketika anak memahami konsep ini, saat bertemu masalah alih-alih menyerah anak-anak akan teryakinkan kalau segala sesuatu dapat menjadi lebih baik jika mereka berusaha atau mengusahakannya. Bagaimana menanamkan sikap optimis pada anak? Selengkapnya di sini!

1. Menjadi Model Optimisme Itu Sendiri

Orangtua adalah role model buat anak-anaknya. Kalau orangtua ingin anak-anaknya memiliki kepribadian yang optimis, orangtua semestinya memulai dari diri sendiri. Jangan pernah menunjukkan sikap negatif ke anak-anak. Misalnya dengan mengatakan, “Semua salah” atau “Tidak akan pernah ada uang yang cukup”.

Selalu berfokus pada pikiran negatif adalah sifat pesimis klasik. Lebih buruk lagi, pandangan dan sikap ini dikomunikasikan kepada anak-anak yang selalu memperhatikan dan mendengarkan orangtuanya. 

Semakin orangtua sering mengeluh semakin besar kemungkinan anak-anak mengembangkan sifat yang sama. Jika orangtua ingin membantu anak-anak menjadi lebih bersemangat, mulailah dengan memiliki pandangan bersemangat itu sendiri.

2. Menumbuhkan Sikap Bersyukur pada Anak-Anak

Menumbuhkan sikap bersyukur itu sejalan dengan menjadi contoh buat anak-anak. Orangtua dapat dapat membantu anak-anak menjadi lebih optimis dengan menjadikan rasa terima kasih sebagai kebiasaan di rumah. 

Untuk memulai kebiasaan ini, dorong semua anggota keluarga untuk membagikan satu hal baik yang terjadi atau yang mereka syukuri. Secara natural ini akan merangsang pengalaman yang patut disyukuri setiap harinya. 

Baca juga: Ayo Ketahui, Tipe Parenting yang Tepat

Seiring bertambahnya usia anak, kebiasaan ini akan datang secara alami kepada mereka dan akan menjalani hidup yang lebih bahagia, lebih sehat, dan penuh syukur.

3. Ajari Anak Mengenai Tanggung jawab

Memberi anak-anak peluang untuk menyelesaikan tanggung jawabnya dapat memicu anak untuk merasakan apa arti pencapaian dan bangga untuk itu. Mencapai kesuksesan dan mengalami kebanggaan pencapaian akan sangat membantu mereka mengembangkan sikap "bisa-lakukan". 

Cara yang baik untuk mengenalkan anak akan sikap ini adalah dengan memberikan tugas rumah tangga yang sesuai dengan usia mereka. Ini tidak hanya mengajarkan tanggung jawab, tetapi juga membantu menumbuhkan kepercayaan diri dan membuat mereka merasa mampu.

Selain itu, belajarlah untuk melepaskan kendali sesekali dan dorong anak-anak untuk mencoba sesuatu yang baru. Naluri orangtua untuk melindungi anak-anak kita dari bahaya adalah wajar, tetapi ini terkadang dapat merusak kepercayaan diri dan secara tidak sadar mengirim pesan bahwa mereka tidak dapat berdiri dengan kedua kakinya sendiri. 

Jadi, dorong mereka untuk mempelajari keterampilan dan hobi baru, termasuk melakukan perjalanan tanpa orangtua. 

4. Memberikan Batasan pada Penggunaan Media Sosial

Era sekarang ini media sosial adalah medium yang memperkenalkan kita pada dunia yang tidak tersentuh secara fisik. Namun, tidak semua yang ada di dunia online adalah baik. Rentetan informasi buruk yang terus-menerus dapat melemahkan dan melelahkan bagi anak-anak serta dapat memengaruhi cara pandangan mereka. 

Untuk mencegah hal ini, lindungi anak sebanyak mungkin dari media negatif. Cara terbaik untuk meminimalkan dampak-dampak negatif dari perkembangan media sosial adalah dengan mengadakan makan malam tanpa perangkat elektronik. 

Orangtua juga perlu mengatur acara keluarga di mana semua anggota hanya terhubung dan menikmati kebersamaan satu sama lain. Selamat mencoba! Butuh informasi lebih detail mengenai pola asuh anak bisa ditanyakan ke aplikasi Halodoc.    

Psikolog atau psikiater yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik. Caranya, cukup download Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat, kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah.



Referensi:
Psych Central. Diakses pada 2020. 6 Tips For Raising Optimistic Kids.
Psychology Today. Diakses pada 2020. 6 Steps for Teaching Your Child Optimism.