• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Cegah COVID-19, Orang Sehat Tidak Perlu Pakai Masker?

Cegah COVID-19, Orang Sehat Tidak Perlu Pakai Masker?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Masuknya virus corona (korona) Wuhan ke Indonesia, membuat sebagian besar masyarakat panik. Segala cara digunakan untuk mencegah serangan penyakit COVID-19, mulai dari penggunaan hand sanitizer hingga masker. Permintaan masker yang tinggi, membuat barang ini menjadi super mahal, bahkan naik hingga 5-8 kali lipat.

Pertanyaannya, seberapa ampuh penggunaan masker untuk mencegah COVID-19? Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Terawan Putranto sudah mengatakan dengan tegas, penggunaan masker untuk menangkal virus corona hanya berlaku bagi orang sakit. Singkat kata, orang sehat tidak perlu menggunakan masker. Lantas, benarkah orang sehat tidak dianjurkan untuk menggunakan masker? 

Baca juga: 10 Fakta Virus Corona yang Wajib Diketahui

Tegas Penggunaan Masker, Bukan untuk Orang Sehat

Penjelasan Menkes senada dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). WHO menjelaskan, penggunaan masker hanya direkomendasikan untuk orang sakit, bukannya orang sehat. Menkes Terawan juga mengingatkan, agar orang sehat tidak melakukan kontak dengan yang sakit. Sedangkan orang yang sakit dihimbau untuk membatasi kegiatannya. 

Kepanikan virus corona terkait masker tidak hanya terjadi di Indonesia saja. Kondisi ini juga dialami masyarakat Amerika Serikat. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), masyarakat AS sebenarnya tidak membutuhkan masker. Mereka membelinya karena rasa takut. 

CDC mengatakan, orang sehat di AS tidak boleh memakai masker. Alasannya, masker tidak melindungi mereka dari coronavirus jenis terbaru. Menurut US Surgeon General (ahli bedah), masker sebenarnya dapat meningkatkan risiko infeksi jika tidak dipakai dengan benar. 

Bagaimana dengan pekerja medis yang merawat pengidap COVID-19? Nah, mereka yang tepat untuk menggunakan masker karena berisiko tinggi tertular virus ini. Lalu, kapan waktu yang tepat menggunakan masker? Ini tipsnya dari WHO.

  • Jika kondisi kamu sehat, kamu hanya perlu memakai masker jika merawat orang yang diduga terinfeksi COVID-19.

  • Kenakan masker jika kamu batuk atau bersin.

  • Masker efektif bila dibarengi dengan keadaan tangan yang bersih. Cucilah tangan menggunakan alkohol atau sabun dan air.

  • Jika kamu mengenakan masker, maka kamu harus tahu cara menggunakannya dan membuangnya dengan benar.

Kesimpulannya, baik WHO dan CDC tidak merekomendasikan orang sehat untuk mengenakan masker untuk melindungi diri dari penyakit pernapasan, termasuk COVID-19. 

Hal sebaliknya berlaku, masker harus digunakan oleh orang-orang sakit atau mereka yang menunjukkan gejala COVID-19. Tujuannya jelas, untuk melindungi orang lain dari infeksi virus misterius ini. 

Pastikan sakit yang kamu alami bukan karena virus corona. Jika kamu mencurigai diri atau anggota keluarga mengidap infeksi virus corona, atau sulit membedakan gejala COVID-19 dengan flu, segeralah tanyakan pada dokter

Kamu bisa bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Dengan begitu, kamu tidak perlu ke rumah sakit dan meminimalkan risiko terjangkit berbagai virus dan penyakit.

Baca juga: Virus Corona Masuk ke Indonesia, 2 Orang Positif di Depok!

Bukan Penyakit Airborne

Penggunaan masker dalam kasus virus corona Wuhan atau COVID-19 nyatanya diiringi banyak teori tidak berdasar. Ada yang bilang virus corona bisa menyebar lewat udara (airborne disease) sehingga menimbulkan kepanikan. Contohnya, seperti yang diutarakan wakil kepala Biro Urusan Sipil Shanghai, Tiongkok. 

Ia mengatakan, kemungkinan virus corona bisa menular melalui udara. Bagaimana faktanya? Klaim ini menimbulkan kontroversi. Menurut ahli dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok, tidak ada bukti ilmiah yang mendasarinya. 

Bantahan juga datang dari pakar virus di Australian Infectious Diseases Research Centre. Sang pakar berkata, pernyataan tersebut hanya klaim liar tanpa bukti pendukung. 

Masih belum percaya? Simaklah laporan yang dibuat WHO dalam Report of the WHO-China Joint Mission  on Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). WHO jelas mengatakan, penyebaran melalui udara belum dilaporkan untuk COVID-19. Penyebaran melalui udara tidak diyakini sebagai pendorong utama transmisi berdasarkan bukti yang tersedia. 

Selain WHO, pakar di CDC AS juga sependapat. Virus corona Wuhan menular melalui tetesan pernapasan dari orang yang terinfeksi. Tetesan atau percikan ini bisa keluar melalui batuk atau bersin.

Baca juga: WHO Tetapkan Virus Corona Masuk Global Health Emergency

Masih menurut CDC, penularan virus ini juga dapat melalui benda yang telah terkontaminasi virus corona. Prosesnya terjadi ketika seseorang menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi virus, dan menyentuh mulut, hidung atau mata. Namun, penularan lewat benda terkontaminasi tidak dianggap sebagai penularan utama.

Ahli lain dari National Institutes of Health - MedlinePlus mengatakan virus COVID-19 diperkirakan menyebar ke orang-orang dalam kontak dekat (sekitar 1,8 meter). Ketika pengidap COVID-19 batuk atau bersin, tetesan yang terinfeksi bisa menyemprot ke udara.

Nah, kamu dapat tertular penyakit ini kalau menghirup partikel-partikel tersebut. Singkat kata, COVID-19 menyebar lewat droplet, alias percikan batuk atau bersin dari pengidapnya. Droplet ini bisa masuk ke tubuh melalui mata, hidung atau mulut.

Kesimpulannya, belum ditemukan bukti kalau virus corona Wuhan bisa menular di udara bebas atau airborne disease. Virus misterius ini ditemukan para lendir atau droplet. Mau tahu contoh penyakit airborne disease? Sebut saja tuberculosis dan legionellosis. 

Jika ada hal yang masih ingin ditanyakan tentang virus corona, tanyakan langsung dengan dokter melalui aplikasi Halodoc. Hanya lewat smartphone, kamu bisa berbicara dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah.

Referensi:
CDC. Diakses pada 2020. How COVID-19 Spreads
CDC. Diakses pada 2020. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) - Frequently Asked Questions and Answers
National Institutes of Health - MedlinePlus. Diakses pada 2020. Coronavirus disease 2019 (COVID-19)
CNN. Diakses pada 2020. Masks can't stop the coronavirus in the US, but hysteria has led to bulk-buying, price-gouging and serious fear for the future
Newsweek. Diakses pada 2020. Coronavirus Could Be Airborne, Chinese Official Claims
WHO. Diakses pada 2020. Report of the WHO-China Joint Mission  on Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) 
WHO. Diakses pada 2020. Ventilation and airborne diseases 
WHO. Diakses pada 2020. Coronavirus disease (COVID-19) advice for the public: When and how to use masks