Pentingnya Konsumsi Serat untuk Cegah Hematochezia

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Pentingnya Konsumsi Serat untuk Cegah Hematochezia

Halodoc, Jakarta – Hematochezia merupakan kondisi keluarnya darah segar pada feses yang biasanya disebabkan oleh perdarahan di saluran pencernaan bagian bawah. Meski pada beberapa kasus bisa juga disebabkan oleh perdarahan pada saluran pencernaan bagian atas. Lalu, benarkah kondisi ini bisa dicegah dengan banyak mengonsumsi serat?

Jawabannya, iya. Hematochezia dapat dicegah dengan banyak mengonsumsi makanan tinggi serat, agar tidak terjadi konstipasi atau sembelit. Sebab, salah satu faktor pemicu hematochezia adalah wasir dan divertikulitis, yang berawal dari konstipasi. Namun selain mengonsumsi makanan tinggi serat, hematochezia juga dapat dicegah dengan melakukan beberapa hal, yaitu:

  • Berhenti merokok (jika merupakan perokok) dan hindari asap rokok (jika perokok pasif).
  • Membatasi kebiasaan minum alkohol.
  • Tidak sembarangan mengonsumsi obat, khususnya obat antiinflamasi nonsteroid, tanpa berdiskusi dahulu dengan dokter. Sekarang, diskusi dengan dokter bisa dilakukan kapan dan di mana saja melalui aplikasi Halodoc, lewat fitur Chat atau Voice/Video Call.

Baca juga: Pola Hidup Sehat untuk Cegah Hematochezia

Selain diakibatkan oleh kurang serat berkepanjangan dan wasir, hematochezia juga dapat disebabkan oleh beberapa penyakit atau kondisi medis pada usus besar (kolon), seperti:

  • Luka pada anus atau fisura anus.
  • Kanker usus besar.
  • Kolitis ulseratif.
  • Penyakit Crohn.
  • Tumor jinak pada saluran pencernaan.
  • Polip usus.
  • Radang usus besar bagian akhir atau rektum (proctitis).

Oleh karena itu, ketika menjumpai ada darah segar pada feses ketika buang air besar, kamu perlu segera memeriksakan diri ke dokter, guna mengetahui penyebab pasti dan penanganan yang tepat. Untuk melakukan pemeriksaan, kini kamu bisa langsung buat janji dengan dokter di rumah sakit melalui aplikasi Halodoc. Jadi, pastikan kamu sudah download aplikasinya di ponselmu, ya.

Baca juga: Ini Alasan Intoleransi Laktosa Bisa Picu Diare Kronis

Bagaimana Mendiagnosis Hematochezia?

Untuk memastikan diagnosis hematochezia, dokter biasanya akan menanyakan gejala-gejala yang muncul terlebih dahulu. Selain keluarnya darah saat buang air besar, ada beberapa gejala lain yang dapat menyertai hematochezia, yaitu:

  • Sakit perut.
  • Demam.
  • Diare.
  • Perubahan pola buang air besar.
  • Penurunan berat badan.
  • Gejala anemia akibat kehilangan darah, seperti lemas, detak jantung tak beraturan, dan pingsan.

Namun jika darah yang keluar banyak dan cepat, pengidapnya dapat mengalami syok hingga kematian. Gejala syok yang perlu diwaspadai, yaitu:

  • Jantung berdebar.
  • Keringat dingin.
  • Berkurangnya frekuensi buang air kecil.
  • Kesadaran menurun.

Baca juga: Diare Parah Bisa Sebabkan Kematian, Benarkah?

Setelah menanyakan gejala yang terjadi, dokter juga akan meminta pengidap untuk melakukan pengambilan sampel feses untuk diperiksa di laboratorium, dan beberapa pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan untuk memastikan diagnosis hematochezia adalah:

  • Tes darah, untuk mengetahui jumlah sel darah, memeriksa kecepatan pembekuan darah, dan fungsi organ hati.
  • Kolonoskopi, untuk melihat kondisi usus besar dengan bantuan alat berbentuk selang tipis berkamera yang dimasukkan melalui dubur.
  • Biopsi, yaitu pengambilan sampel jaringan untuk kemudian diperiksa di laboratorium.
  • Foto Rontgen, untuk melihat kondisi saluran pencernaan dengan bantuan sinar-X, yang kadang juga menggunakan larutan khusus sebagai zat pewarna (cairan kontras).
  • Angiografi, untuk melihat kerusakan pada pembuluh darah dengan bantuan sinar-X atau gelombang magnetik menggunakan cairan kontras yang disuntikkan ke pembuluh darah.
  • Radionuclide scan. Prinsip kerja prosedur ini mirip dengan Hanya saja, cairan kontras pada prosedur ini akan diganti dengan bahan radioaktif.
  • Laparotomi. Prosedur ini dilakukan dengan cara membedah perut untuk memeriksa penyebab terjadinya hematochezia.

Referensi:

WebMD. Diakses pada 2019. Blood in Stool.

MedicineNet. Diakses pada 2019. Blood in the Stool (Rectal Bleeding, Hematochezia).