• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Cemas dan Takut Membaca Kasus KDRT, Apa Sebabnya?
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Cemas dan Takut Membaca Kasus KDRT, Apa Sebabnya?

Cemas dan Takut Membaca Kasus KDRT, Apa Sebabnya?

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 07 Oktober 2022

“Terlalu sering membaca berita negatif, seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dapat memicu stres. Tanpa disadari, semakin mendalami berita tersebut, maka semakin kamu akan terbawa emosi.”

Cemas dan Takut Membaca Kasus KDRT, Apa Sebabnya?Cemas dan Takut Membaca Kasus KDRT, Apa Sebabnya?

Halodoc, Jakarta – Belakangan ini pemberitaan tentang KDRT  ramai dibicarakan dalam media daring dan media sosial. Entah kasusnya datang dari selebritis tanah air, maupun orang biasa yang beritanya diviralkan. Sebagai pembaca, kamu mungkin ikut kesal dengan kejadian yang dialami pelaku dan korban. 

Kebanyakan orang yang mengikuti berita kasus KDRT untuk mengetahui apa penyebabnya, bagaimana kronologisnya, hingga seperti apa kondisi korban saat ini. Namun, tanpa disadari, semakin mendalami berita, semakin kamu akan terbawa emosi. Entah emosi marah, cemas, hingga akhirnya takut membaca kasus KDRT. 

Perlu dipahami, membaca berita tentang kekerasan dapat memicu stres. Ketika berita tersebut sangat mengkhawatirkan, sebagian besar orang dapat mengalami tingkat kecemasan yang sangat tinggi. Bahkan, merasa sulit untuk mengatasi rasa takut dan cemas. Kira-kira apa sebabnya?

Alasan Membaca Berita KDRT Menyebabkan Cemas dan Takut

Kecemasan terkait pemberitaan yang kurang baik mungkin sudah ada sejak lama. Terapis asal Amerika Serikat, Steven Stosny, Ph.D., menyebutnya sebagai “headline stress disorder” dalam sebuah opini di The Washington Post. Dia menggambarkan pengalaman pribadinya dengan klien, di mana adanya siklus berita negatif, memicu perasaan khawatir dan tidak berdaya. Ia juga melaporkan bahwa hal tersebut sangat mempengaruhi klien wanita. 

Pengamatan Stosny mungkin benar. Menurut sebuah studi tahun 2012 yang terbit di Journal Plos One, wanita lebih baik daripada pria dalam mengingat berita negatif untuk waktu yang lama. Wanita juga memiliki reaksi fisiologis yang lebih kuat terhadap stres, yang disebabkan oleh berita semacam kasus KDRT atau kekerasan lainnya. 

“Banyak yang merasa secara pribadi diremehkan, ditolak, tidak terlihat, tidak didengar, dan tidak aman. Mereka melaporkan firasat dan ketidakpercayaan tentang masa depan,” tulis Stosny. 

Terlebih akhir-akhir ini media daring dibanjiri oleh berita sensasional yang mendapat lebih banyak perhatian. Berita tentang “bencana” lebih banyak dan sering dilaporkan dibandingkan berita positif. 

Perlu dipahami, membaca berita bernuansa negatif secara terus menerus dapat merusak  kesehatan mental. Sebab, paparan informasi negatif yang terus menerus dapat berdampak pada otak. Mengonsumsi berita negatif juga dapat mengaktifkan sistem saraf simpatik, yang menyebabkan tubuh melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin.

Kemudian, ketika tubuh mengalami krisis, kamu akan mengalami respon stres lebih sering. Beberapa gejala yang paling umum akibat terlalu sering membaca berita negatif yaitu kelelahan, kecemasan, depresi, dan sulit tidur. 

Istirahat Sejenak dari Berita Negatif

Ketika mengalami kecemasan tentang berita negatif yang ditampilkan di media, ada baiknya untuk beristirahat atau menghindari paparan jenis berita tersebut. Ketimbang menghabiskan waktu untuk membaca berita negatif, lebih baik melakukan aktivitas lain yang dapat membantu mengatur emosi dan membangun perasaan positif.

Sebenarnya, cara mengatasi kecemasan dan ketakutan yang disebabkan berita negatif, sama dengan kecemasan lainnya. Misalnya, pergi ke luar rumah, membaca buku, bertemu dengan teman, berolahraga, dan menghindari layar digital untuk sementara waktu. 

Cara lain untuk mengatasi kecemasan terkait berita di media massa adalah dengan fokus pada masalah yang dapat kamu selesaikan. Ingatlah, peristiwa yang dialami oleh orang yang diberitakan adalah diluar kendalimu. Tidak ada yang bisa kamu lakukan untuk membantu mereka, tapi bukan berarti kamu tidak berdaya.

Dibandingkan sibuk memikirkan masalah orang lain, sebaiknya fokuslah pada masalah pribadi yang harus kamu selesaikan. Kamu bisa melakukan perubahan positif pada dirimu atau keluarga untuk meredakan kecemasan. 

Itulah yang perlu diketahui tentang penyebab cemas dan takut membaca kasus KDRT di media massa. Jika kamu mengalami kecemasan atau ketakutan berlebih akibat paparan berita-berita negatif,  tidak ada salahnya untuk bertanya pada psikolog di Halodoc untuk mengatasinya. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Medical News Today. Diakses pada 2022. Anxious about the news? Our top tips on how to cope
Very Well Mind. Diakses pada 2022. Is Watching the News Bad for Mental Health?