27 April 2018

Cemburu Buta? Hati-hati Tanda Gangguan Ini

Cemburu Buta? Hati-hati Tanda Gangguan Ini

Halodoc, Jakarta – Meski wajar, cemburu buta perlu diwaspadai. Sebab bisa jadi, cemburu buta bisa menjadi tanda adanya gangguan kepribadian. Gangguan ini tak jarang membuat seseorang melakukan apapun untuk melampiaskan rasa cemburunya, termasuk melakukan kekerasan.

(Baca juga : Sebelum Resmi Pacaran, Tanyakan 4 Hal Ini pada Pasangan)

Cemburu adalah emosi alamiah manusia yang merujuk pada pikiran dan perasaan negatif, misalkan perasaan terancam, takut, dan khawatir kehilangan sesuatu yang disayanginya. Ini bisa terjadi saat seseorang merasa komitmennya dilanggar, kepercayaannya dirusak, dan perilaku lain yang bisa memunculkan rasa cemburu. Uniknya, setiap orang punya cara berbeda untuk menunjukkan rasa cemburu. Tapi apapun pilihannya, cemburu masih dianggap wajar jika kamu mampu menenangkan diri dan mulai membicarakan masalah tersebut tanpa terbutakan emosi.

Dampak Cemburu Bagi Kesehatan

Saat rasa cemburu muncul, keadaan ini akan mengaktifkan beberapa area otak. Diantaranya adalah area yang sama dalam memproses rasa sakit fisik, area yang mengatur emosi (korteks frontal kiri), dan area sistem dopamin yang berperan dalam membentuk emosi. Reaksi fisiologis inilah yang dapat membuat orang cemburu menjadi lebih sensitif dan posesif. Alhasil, sikap tersebut bisa meningkatkan stres tubuh yang berdampak pada kondisi fisik (tekanan darah dan denyut jantung meningkat) dan psikis (gangguan tidur, nafsu makan, hingga depresi).

Sebuah studi bahkan menyebutkan bahwa rasa cemburu bisa memengaruhi indera penglihatan seseorang. Semakin besar rasa cemburunya, maka semakin sulit seseorang untuk melihat objek dengan detil. Itu sebabnya para ahli menyarankan agar seseorang yang cemburu mengendalikan perasaannya terlebih dahulu sebelum beraktivitas, terutama saat mengemudi.

Sindrom Othello : Cemburu yang Membutakan

Sindrom Othello adalah gangguan kejiwaan yang terjadi saat seseorang meyakini pasangannya tidak setia, meski tidak ada bukti kuat yang membuktikannya. Istilah ini pertama kali disebutkan pada tahun 1995 oleh John Todd dan K. Dewhurst, seorang psikiater yang menulis paper berjudul “The Othello Syndrome : a study in the psychopathology of sexual jealousy”. Kata Othello sendiri merujuk pada drama karya Shakespeare, seorang penulis legendaris Inggris. Drama tersebut mengisahkan seorang suami bernama Othello yang membunuh istirinya karena kecurigaan yang tidak terbukti kebenarannya.

Orang yang mengidap sindrom ini akan merasakan cemburu buta dan tidak mampu mengendalikan perasaannya. Sindrom ini termasuk gangguan kejiwaan delusi, karena pengidapnya tidak mampu membedakan mana yang kenyataan dan imajinasi. Ia hanya meyakini dan bersikap sesuai apa yang ia percaya, meskipun tidak ada bukti apapun yang memperkuat kecurigaannya. Itu sebabnya orang dengan sindrom ini akan meyakini kalau pasangannya selingkuh sehingga ia akan terus cemburu dan berusaha membuktikannya. Caranya bisa beragam, mulai dari menginterogasi, menguji, menguntit, bahkan hingga melakukan pembunuhan (baik kepada pasangannya atau orang yang dianggap mengganggu hubungannya).

Sebenarnya, belum diketahui secara pasti apa penyebab seseorang mengalami Sindrom Othello. Tapi kalau kamu atau pasangan memiliki kecenderungan sindrom ini, ada baiknya kamu bicara dengan dokter. Untuk bicara dengan dokter, kamu bisa memanfaatkan fitur Contact Doctor  di aplikasi Halodoc. Bicarakan saja keluhan yang kamu rasakan pada dokter melalui Chat, Voice Call, atau Video Call kapan saja dan dimana saja. Jadi, ayo download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play. (Baca juga : 5 Tanda Gangguan Kepribadian, Hati-Hati Terkena Salah Satunya)