03 July 2018

Enggak Hanya Orang Dewasa, Bayi Pun Bisa Kena Gagal Jantung

gagal jantung pada bayi, kelainan jantung pada bayi, PDA pada bayi

Halodoc, Jakarta - Gagal jantung terjadi ketika otot jantung melemah hingga tak mampu memompa cukup darah ke seluruh tubuh. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh berbagai penyakit, seperti hipertensi, diabetes, kardiomiopati atau kelainan otot jantung, dan penyakit lainnya. Meski begitu, gagal jantung tak hanya bisa terjadi pada orang dewasa. Bayi pun bisa mengalami gagal jantung.

Kondisi jantung bayi yang lemah sejak lahir umumnya disebabkan oleh ketidaksempurnaan perkembangan struktur jantung, sehingga dikenal sebagai penyakit jantung bawaan atau kelainan jantung kongenital. Salah satu penyakit jantung bawaan yang bisa memicu gagal jantung pada bayi adalah patent ductus arteriosus (PDA).

Baca juga: Ternyata ada Penyakit Jantung Bawaan yang Bisa Disembuhkan

Ductus arteriosus sendiri adalah lubang di jantung yang membantu bayi bernapas selama di kandungan. Normalnya, lubang ini menutup dengan sendirinya dalam waktu dua sampai tiga hari setelah bayi lahir. Tetapi pada pengidap PDA, ductus arteriosus tetap terbuka (patent), sehingga menyebabkan masalah pada kinerja jantung bayi.

Penyebab Bayi Mengidap PDA

Kelainan jantung kongenital biasanya mulai muncul sejak tahap perkembangan awal jantung bayi di dalam kandungan. Namun, pada banyak kasus, penyebab pasti sulit diketahui. Tetapi ada beberapa faktor meningkatkan risiko bayi mengidap PDA saat lahir.

  • Kelahiran prematur. Ductus arteriosus pada bayi yang lahir di usia normal akan menutup secara otomatis dua atau tiga hari setelah lahir. Sementara itu, bayi yang lahir prematur lebih  berisiko mengidap PDA. Kasus PDA pada bayi prematur dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan bayi yang lahir di usia normal.
  • Kondisi genetik dan riwayat keluarga. Keluarga yang memiliki riwayat kelainan jantung kongenital dan kondisi genetik lain, seperti sindrom Down, lebih berisiko mengidap PDA saat lahir.
  • Infeksi virus rubella saat hamil. Jika ibu terpapar virus rubella saat hamil, bayi yang ibu kandung berisiko lebih tinggi mengidap PDA. Virus rubella bisa menyebar ke aliran darah janin melalui plasenta, mengakibatkan rusaknya pembuluh darah dan berbagai organ tubuh, termasuk jantung.
  • Lahir di daerah pegunungan. Bayi yang lahir di dataran yang tingginya melebihi 3000 meter memiliki risiko mengidap PDA lebih tinggi dari bayi yang lahir di dataran rendah. Dataran tinggi memiliki tekanan udara yang lebih rendah dan level oksigen yang tipis. Kondisi inilah yang memicu PDA pada bayi.
  • Bayi berjenis kelamin perempuan. PDA dua kali lebih banyak ditemukan pada bayi perempuan dibandingkan laki-laki.

Baca juga: Gaya Hidup Enggak Sehat, Waspada Penyakit Jantung Turunan

Mengobati Gagal Jantung PDA pada Bayi

Ukuran ductus arteriosus bervariasi. Lubang yang lebar membuat aliran darah pada jantung dan paru-paru menjadi terlalu tinggi. Jika dibiarkan, tekanan darah pada paru-paru bisa meningkat sehingga menyebabkan hipertensi pulmonal, dan jantung bayi bisa membengkak dan melemah. Dibutuhkan operasi dan metode penanganan khusus lainnya untuk menutup PDA.

Namun, jika PDA berukuran kecil, lubang ini tidak akan membuat jantung dan paru-paru bekerja lebih keras. Kabar baiknya, lubang PDA yang berukuran kecil ini bisa berangsur menutup dengan sendirinya dalam beberapa bulan. Sehingga tidak dibutuhkan operasi atau metode penanganan lain.

Kebanyakan bayi yang mengidap PDA bisa disembuhkan tanpa operasi, yaitu dengan menutup lubang PDA lewat kateter atau tabung kecil panjang. Caranya, dokter akan memasukkan kateter lewat pembuluh darah untuk mencapai jantung dan lubang PDA. Kemudian, PDA akan ditutup dengan alat yang dimasukkan lewat kateter. Untuk mengetahui secara pasti penanganan yang paling tepat untuk kondisi bayi, ibu harus mendiskusikannya bersama dengan dokter ahli.

Baca juga: Nayyara, Si Cantik yang Berhasil Mengalahkan Gagal Jantung

Jika ibu memiliki faktor risiko di atas, ibu bisa bertanya tentang cara untuk mencegah kelainan jantung bawaan bayi pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tentang solusi terbaik untuk kulit Si Kecil, tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc di App Store dan Google Play!