Ketahui Faktor Risiko yang Tingkatkan Limfogranuloma Venereum

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Ketahui Faktor Risiko yang Tingkatkan Limfogranuloma Venereum

Halodoc, Jakarta – Ada banyak jenis penyakit yang ditularkan melalui hubungan intim, salah satunya limfogranuloma venereum. Chlamydia trachomatis merupakan jenis bakteri penyebab limfogranuloma venereum yang dapat menembus kulit dan penyumbatan di sekitar kelenjar limfe.

Penyakit ini bisa memengaruhi node atau saluran limfe, alat kelamin bagian luar, rektum, dan mulut. Ada pula beberapa faktor risiko yang meningkatkan peluang terjadinya limfogranuloma venereum, yakni:

  • Berjenis kelamin pria.

  • Melakukan hubungan intim tanpa menggunakan pengaman.

  • Melakukan seks anal atau seks oral atau keduanya

  • Seorang pekerja seksual.

  • Melakukan hubungan intim dengan seseorang dari daerah endemik.

  • Sering bergonta-ganti pasangan seksual

Baca Juga: Awas, Limfogranuloma Venereum Muncul Bersama IMS

Gejala Limfogranuloma Venereum

Gejala limfogranuloma venereum umumnya muncul satu bulan setelah bakteri masuk ke dalam tubuh. Gejala yang muncul dapat berupa:

  • Cairan limfe yang berasal dari kelenjar limfa keluar dari kulit

  • Rektum berdarah atau bernanah

  • Muncul luka pada area genital

  • Terasa nyeri saat buang air besar

  • Area selangkangan membengkak

Biasanya, gejala pada tahap awal adalah kemunculan lesi di area genital yang kemudian berkembang menjadi ulserasi. Ulserasi merupakan lesi yang berbentuk seperti kawah pada kulit atau mukosa mulut. 

Terkadang banyak yang keliru menganggap gejala limfogranuloma venereum sebagai gejala kolitis ulseratif. Ini karena, infeksi limfogranuloma venereum masih dianggap langka, sehingga identifikasinya tidak selalu jelas.

Baca Juga: Ini yang Terjadi Pada Tubuh ketika Mengidap Chlamydia

Bagaimana Cara Mendiagnosis Limfogranuloma Venereum?

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, gejala limfogranuloma venereum terkadang sulit diidentifikasi karena mirip dengan kondisi kolitis ulseratif. Maka dari itu, sebelum mendiagnosis kondisi ini, seseorang perlu mengidentifikasi gangguan limfadenopati dan ulkus genital terlebih dahulu. 

Skrining penyakit menular seksual juga perlu dilakukan sebelum melakukan langkah-langkah diagnosis untuk memastikan adanya bakteri penyebab limfogranuloma. Beberapa metode diagnosis limfogranuloma yang bisa dilakukan, yakni:

  • Kultur chlamydia trachomatis. Metode ini dapat dilakukan dengan mengambil sampel cairan dari  kelenjar getah benin, cairan yang keluar dari ulkus dan jaringan rektum dengan bantuan jarum.

  • CT scan. CT scan dapat berguna untuk mendeteksi penyebab limfadenopati.

  • Kolonoskopi dan sigmoidoskopi. Metode kolonoskopi dan sigmoidoskopi dapat dikombinasikan dengan biopsi jaringan rektum dan anus untuk memberikan hasil lebih akurat.

  • Tes fiksasi komplemen. Ini merupakan metode tes imunologi yang bertujuan untuk mendeteksi antibodi atau antigen spesifik di dalam darah untuk mencari bakteri chlamydia trachomatis.

Pengobatan Limfogranuloma Venereum

Perawatan untuk mengurangi gejala limfogranuloma venereum adalah dengan drainase bubo. Bubo kemudian dapat dikeringkan dengan jarum, pembedahan, atau konsumsi antibiotik. Contoh obat yang biasanya diresepkan adalah doxycycline, eritromisin, atau tetrasiklin.

Obat-obatan tersebut perlu dikonsumsi secara rutin selama 21 hari. Pasangan pengidap juga sebaiknya diuji guna mendeteksi apakah ada infeksi klamidia pada uretra, serviks, atau dubur. Hal ini bertujuan untuk memutus rantai penularan bakteri

Baca Juga: Sudah Diobati, Bisakah Chlamydia Kambuh Kembali?

Kalau kamu merasa mengalami gejala yang mirip seperti penyakit menular seksual ini, jangan malu tanya ke dokter Halodoc untuk memastikannya. Klik Talk to A Doctor yang ada di aplikasi Halodoc untuk menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play!