• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Gadget untuk Bayi Bisa Sebabkan Terlambat Bicara

Gadget untuk Bayi Bisa Sebabkan Terlambat Bicara

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Gadget untuk Bayi Bisa Sebabkan Terlambat Bicara

Halodoc, Jakarta – Memberi gadget yang berisi berbagai video yang lucu dan menarik memang sering kali efektif untuk menenangkan bayi. Namun, tahukah ibu terlalu sering memberi gadget bisa menyebabkan bayi mengalami keterlambatan bicara, lho.

Seiring berkembangnya teknologi, gadget menjadi hal yang tidak bisa dihindari. Di satu sisi, gadget bisa dimanfaatkan untuk memberi hiburan dan bahkan mengedukasi anak. Namun, di sisi lain, penggunaan gadget yang terlalu sering dikhawatirkan bisa berdampak buruk pada perkembangan mereka.

Penggunaan Gadget Bisa Menyebabkan Bayi Terlambat Berbicara

Sebuah penelitian, yang dipresentasikan pada Pertemuan Masyarakat Akademik Anak 2017, mengungkapkan beberapa temuan yang mengejutkan. Studi tersebut menemukan bahwa semakin banyak waktu yang dihabiskan bayi antara usia enam bulan dan dua tahun menggunakan gadget, seperti smartphone, tablet, dan game elektronik, semakin tinggi risiko mereka mengalami keterlambatan bicara.

Menurut Dr Catherine Birken, peneliti senior studi tersebut, ini adalah studi pertama yang meneliti perangkat media seluler dan keterlambatan komunikasi pada anak-anak.

Pada studi yang melibatkan hampir 900 anak, para orangtua melaporkan jumlah waktu yang dihabiskan anak-anak mereka menggunakan layar dalam menit per hari pada usia 18 bulan. Peneliti kemudian menggunakan daftar periksa balita, alat skrining yang divalidasi untuk menilai perkembangan bahasa anak-anak pada usia 18 bulan. Mereka melihat berbagai hal, termasuk apakah anak menggunakan suara atau kata untuk mendapatkan perhatian atau bantuan dan merangkai kata-kata menjadi satu, dan berapa banyak kata yang digunakan anak.

Studi tersebut menemukan bahwa 20 persen anak menghabiskan rata-rata 28 menit sehari menggunakan layar. Setiap peningkatan waktu layar harian selama 20 menit dikaitkan dengan peningkatan risiko sebanyak 49 persen dari apa yang para peneliti sebut sebagai penundaan bicara ekspresif, yaitu kemampuan yang menggunakan suara dan kata. Namun, studi tersebut tidak menemukan hubungan antara penggunaan perangkat genggam dengan area komunikasi lainnya, seperti gerak tubuh, bahasa tubuh, dan interaksi sosial.

Baca juga: Speech Delay, Masalah Saraf atau Psikologis?

Penelitian Lebih Lanjut Masih Diperlukan

Birken yang juga seorang profesor pediatri di Universitas Toronto mengungkapkan bahwa meskipun penelitiannya menunjukkan tampaknya ada hubungan antara penggunaan perangkat genggam atau gadget dengan penundaan komunikasi pada anak-anak, lebih banyak penelitian masih diperlukan untuk menentukan apakah keterlambatan bicara pada bayi benar-benar disebabkan oleh penggunaan perangkat tersebut.

Penelitian lebih lanjut juga diperlukan untuk melihat jenis konten yang dilihat oleh bayi-bayi tersebut dan apakah mereka menggunakan perangkat dengan didampingi oleh orangtua atau pengasuh. Birken mengungkapkan bahwa untuk dapat benar-benar mengembangkan bukti untuk memberitahu orangtua dan dokter mengenai apa yang harus direkomendasikan, mereka masih membutuhkan penelitian yang lebih jauh.

Meski begitu, American Academy of Pediatrics (AAP) mengungkapkan bahwa penemuan Birken tersebut setidaknya cukup mengidentifikasikan hubungan antara penggunaan gadget dan perkembangan kemampuan bicara pada bayi, serta mendukung rekomendasi saat ini tentang penggunaan gadget pada bayi.

Rekomendasi yang digunakan saat ini adalah anak-anak di bawah 18 bulan tidak boleh diberikan gadget sama sekali, selain untuk mengobrol melalui video dengan keluarga. Hal ini karena kebisingan dan aktivitas layar mengganggu bayi yang masih kecil dan menyebabkan terputusnya hubungan mereka dengan orangtua.

Baca juga: Berapa Lama Anak Diperbolehkan Main Gadget?

AAP sendiri sejak tahun lalu tidak lagi merekomendasikan larangan layar total untuk bayi-bayi berusia 18-24 bulan. Sebaliknya, AAP merekomendasikan agar orangtua memilih program berkualitas tinggi dan menontonnya bersama bayi mereka untuk membantu Si Kecil memahami apa yang ia lihat.

Menurut Common Sense Media, organisasi nirlaba yang berfokus membantu anak-anak, orangtua dan pengajar dalam menjelajahi dunia media dan teknologi, ada peningkatan pada jumlah anak di bawah usia 2 tahun yang telah menggunakan perangkat seluler, dari hanya 10 persen pada tahun 2011 menjadi hampir 40 persen. Angka tersebut kemungkinan besar sudah meningkat lebih tinggi lagi sekarang ini mengingat smartphone semakin populer.

Michael Robb, direktur riset Common Sense Media mengungkapkan bahwa studi seperti itu penting untuk menyoroti risiko dampak buruk yang bisa terjadi terkait penggunaan media, khususnya perangkat seluler genggam.

Menurut Robb, gadget dapat memberikan dampak buruk bila penggunaan perangkat tersebut menggantikan interaksi orangtua dengan anak (seperti bermain, membaca, berbicara, bernyanyi, dan lain-lain) yang penting untuk perkembangan anak yang sehat.

Oleh karena itu, orangtua dianjurkan untuk sebisa mungkin tidak memberikan gadget pada bayi yang berusia 18-24 bulan. Bila ingin memberikan gadget pada Si Kecil, sebaiknya dampingi ia untuk menjelaskan apa yang ia lihat. Jangan sampai penggunaan gadget menggantikan interaksi antara orangtua dengan anak.

Baca juga: Kapan Sebaiknya Terapi Wicara Dilakukan?

Bila Si Kecil mengalami keterlambatan berbicara, mungkin ibu dapat mempertimbangkan untuk membawa Si Kecil mendapatkan terapi wicara. Ibu juga bisa berdiskusi seputar pola asuh anak dengan dokter melalui aplikasi Halodoc, lho. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang.

Referensi:
Deccan Chronicle. Diakses pada 2020. Letting babies play with phones can cause speech delays: study