• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Gejala dan Penanganan Penyakit Stockholm Syndrome
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Gejala dan Penanganan Penyakit Stockholm Syndrome

Gejala dan Penanganan Penyakit Stockholm Syndrome

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 06 Oktober 2022

“Stockholm syndrome dapat terjadi pada korban penculikan. Sindrom ini bisa diatasi dengan terapi psikologi atau psikoterapi.”

Gejala dan Penanganan Penyakit Stockholm SyndromeGejala dan Penanganan Penyakit Stockholm Syndrome

Halodoc, Jakarta – Stockholm syndrome adalah suatu kondisi di mana korban sandera mengembangkan aliansi psikologis dengan penculiknya selama penyanderaan. Korban membentuk ikatan emosional dengan penculiknya dan menjadi simpatik terhadap mereka. 

Mereka mungkin tidak melarikan diri ketika diberi kesempatan, dan mereka bahkan mungkin mencoba mencegah penculiknya menghadapi konsekuensi atas tindakan mereka.

Gejala Stockholm Syndrome

Istilah Stockholm syndrome diciptakan untuk menggambarkan apa yang terjadi pada korban perampokan bank tahun 1973 di Stockholm, Swedia. Selama enam hari, perampok bank menegosiasikan rencana dengan polisi yang akan memungkinkan mereka meninggalkan bank dengan aman.

Selama periode ini, sebagian besar karyawan bank yang disandera menjadi sangat bersimpati kepada para perampok. Bahkan setelah dibebaskan, para sandera menolak untuk meninggalkan penculiknya dan kemudian membela mereka. 

Mereka juga menolak untuk bersaksi di pengadilan melawan mereka dan bahkan membantu mengumpulkan uang untuk pembelaan para perampok. Karena peristiwa inilah tercipta istilah stockholm syndrome.

Orang dengan sindrom ini sering mengalami gejala yang mirip dengan PTSD atau gangguan stres pasca trauma. Gejala mungkin termasuk:

  • Mudah terkejut.
  • Ketidakpercayaan.
  • Perasaan tidak nyata.
  • Kilas balik .
  • Ketidakmampuan untuk menikmati pengalaman yang sebelumnya menyenangkan.
  • Sifat lekas marah.
  • Mimpi buruk.
  • Kesulitan berkonsentrasi.

Gejala lainnya yang juga dapat terjadi adalah:

  • Ketidakmampuan untuk terlibat dalam perilaku yang dapat membantu pembebasan mereka.
  • Perasaan negatif terhadap teman, keluarga, atau pihak berwenang yang mencoba menyelamatkan mereka.
  • Perasaan positif terhadap penculiknya.
  • Dukungan atas perilaku penculik (dan alasan di baliknya).

Bagaimana Mengobatinya?

Pilihan pengobatan untuk stockholm syndrome biasanya berupa konseling atau pengobatan psikologis untuk gangguan stres pasca-trauma. Psikoterapi jangka panjang dapat membantu meringankan gejala dan mengelola masalah langsung seperti kecemasan dan depresi.

Berikut ini pilihan pengobatannya:

1. Konseling atau Terapi Psikologis

Konseling melibatkan proses di mana seorang profesional terlatih membantu pengidap sindrom ini untuk menemukan cara untuk mengatasi dan memahami masalah mereka. 

Ini adalah bentuk terapi bicara yang menuntun pengidap melalui ingatan yang menyakitkan dan membantu mengembangkan mekanisme koping.

2. Terapi Pemaparan

Terapi ini membantu pengidap menghadapi situasi dan ingatan yang ditakuti pasien dengan aman, sehingga mereka dapat belajar mengatasinya secara bertahap. 

Salah satu pendekatan biasanya menggunakan program virtual reality, yang memungkinkan pengidap untuk memasuki situasi serupa untuk memiliki pendekatan yang berbeda terhadap situasi traumatis.

3. Desensitisasi dan Pemrosesan Ulang Gerakan Mata (EMDR)

Pengobatan untuk Stockholm syndrome juga termasuk terapi EMDR, yang biasanya digunakan untuk pasien PTSD. Ini menggabungkan terapi pemaparan dengan serangkaian gerakan mata terpandu yang membantu pasien memproses kenangan traumatis dan mengubah cara pengidap bereaksi terhadapnya.

Itulah pembahasan mengenai gejala dan pengobatan untuk Stockholm syndrome. Perlu diketahui bahwa sindrom ini tidak terjadi pada setiap korban atau kasus penyanderaan. 

Namun, tidak jelas mengapa hal ini terjadi. Banyak ahli menganggapnya sebagai mekanisme koping (Coping Mechanism) untuk menangani trauma terkait. Hal ini memungkinkan para korban untuk menghadapi trauma atau situasi yang menakutkan.

Meskipun tidak diakui sebagai kondisi kesehatan mental dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM 5) edisi terbaru, tanda-tanda Stockholm syndrome telah diamati pada beberapa kasus. Namun, terapi dapat membantu korban untuk pulih dari efek buruk atau efek jangka panjang dari gangguan mental ini. 

Jadi, jika kamu atau orang terdekat ada yang mengalami gejala sindrom ini, jangan ragu untuk mencari bantuan ahlinya. Agar mudah, kamu bisa download Halodoc untuk membuat janji medis dengan psikolog atau psikiater.

Referensi:
Mind Help. Diakses pada 2022. Stockholm Syndrome.
Very Well Mind. Diakses pada 2022. What Is Stockholm Syndrome?