02 April 2018

Hari Autis Sedunia, Kenali dan Beri Perhatian Khusus bagi Anak

Hari Autis Sedunia, Kenali dan Beri Perhatian Khusus bagi Anak

Halodoc, Jakarta – Berbicara soal autis memang sangat luas, apalagi ternyata ada banyak jenis-jenis autis. Pada dasarnya autis adalah sebuah kondisi perkembangan syaraf dimana pengidapnya mengalami kesulitan dalam memahami dan berkomunikasi dengan menggunakan tanda-tanda ataupun isyarat sosial yang umum diketahui.

Menurut penelitian yang dilansir dari Scilearn, 1 dari 68 anak-anak di Amerika Serikat didiagnosis mengidap autis. Sayangnya, sebagian anak-anak tersebut tidak mengalami penanganan khusus. Setiap anak memiliki bakatnya masing-masing, demikian juga anak-anak autis. Kalau dikembangkan sungguh-sungguh akan menjadi berbakat bahkan bisa mengikuti dan melebihi prestasi anak-anak “normal” lainnya.

Sebut saja Alexis Wineman yang didaulat menjadi Miss Montana 2012 dan sekarang aktif menggalakkan kesadaran dan tanggap autis ke khalayak dunia. Juga masih ada Rio "Soulshocka" Wyles, Marvin Viscito dan Christopher Duffley yang berbakat di bidang musik.

Memperingati Hari Autis Sedunia, berikut adalah beberapa fakta dari penelitian teranyar mengenai autis. Semoga lewat informasi ini, banyak orang yang semakin sadar, tanggap dan memberi perhatian khusus bagi anak.

  1. Autis Ada di dalam Gen

Berdasarkan data dari WHO, 1 dari 160 anak mengidap autis dan sebagian besar terjadi pada anak laki-laki. Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah jenis autis yang terjadi secara genetis dan juga mutasi gen saat pembentukan janin dalam kandungan. Penyebabnya adalah bisa dari paparan lingkungan, makanan yang menjadi asupan saat ibu dalam kondisi hamil, obat-obatan dan mood ibu.

Adapun Autism Spectrum Disorder (ASD) memiliki tanda-tanda sebagai berikut:

  • Tidak ada ekspresi seiring perkembangan usia menginjak enam bulan ke atas.
  • Menghindari kontak mata.
  • Setelah lewat usia satu tahun tidak ada mengeluarkan kata-kata, kalaupun ada hanya satu dua kalimat yang tidak memiliki arti ataupun makna.

Kalau orangtua ingin tahu lebih banyak mengenai Autism Spectrum Disorder (ASD), bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor orangtua bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

  1. Tantangan Komunikasi

Gangguan apraxia memengaruhi 65 persen anak-anak pengidap autis. Anak-anak dengan apraxia biasanya mengalami kesulitan dalam mengordinasikan penggunaan lidah, bibir, rahang, mulut secara akurat sehingga menghasilkan bunyi ataupun menyampaikan kata-kata yang ada di dalam otak. Sehingga ini yang membuat mereka mengalami penundaan berkomunikasi. Kalau orangtua membaca tanda-tanda demikian di usia anak menginjak satu tahun, ada baiknya orangtua segera memberikan penanganan khusus. Penanganan khusus ini dilakukan baik secara medis dalam arti berkonsultasi dengan ahli terapis, juga aktif memberikan perhatian khusus melalui interaksi sosial dalam pengasuhan dan bermain sehari-hari kepada anak.

  1. Usia Orangtua Menjadi Salah Satu Faktor Risiko Autis

Menurut studi yang didanai oleh Autism Speak dan diluncurkan di Journal Molecular Psychiatry menyebutkan bahwa ayah yang memiliki usia tua (> 50 tahun) ada kecenderungan memiliki anak yang mengidap autis. Walaupun tidak menjadi penyebab mayoritas tetap saja ada faktor yang memicu autis. Pertimbangannya adalah walaupun seorang pria dapat menghasilkan sperma seumur hidup tetap saja seiring pertambahan usia, kualitas sperma juga menurun. Apalagi kalau pola hidup dan makanannya tidak sehat juga bisa berdampak pada kualitas spermanya.

  1. Jangan Menunggu Penanganan Dokter/Terapis

Kesalahan yang sering dilakukan orangtua dalam menangani anak yang autis adalah kalau tidak tutup mata, menganggap seolah anak baik-baik saja ya melimpahkan semua tugas memberikan perhatian khusus pada anak ke dokter atau terapis. Padahal peran aktif orangtualah yang dapat menjadikan anak autis berprestasi seperti anak-anak lainnya. (Baca juga Timbang-menimbang Pola Asuh untuk Anak)

Ada tiga hal yang harus dicatat para orangtua dengan anak pengidap autis.

  1. Pelajari Tentang Autis

Kalau orangtua sudah membaca tanda-tanda “perbedaan” anak dengan anak pada umumnya sesegera mungkin pelajari tentang autis dan bagaimana penanganannya. Ada begitu banyak informasi yang bisa digali demikian juga lembaga-lembaga kesehatan terkait autis. Apalagi sudah ada peringatan Hari Autis Sedunia yang jatuh pada 2 April yang membuat isu ini bukan hal yang minim informasi lagi.

  1. Memahami Anak

Namanya juga Anda orangtua ya wajib tahulah tentang kebiasaan anak, apa yang anak suka dan tidak suka. Walaupun anak belum bisa mengomunikasikannya dengan baik, secara Anda punya ikatan batin dengan anak, sedikit-banyak orangtua bisa mempelajari kebiasaan dan sifat-sifat anak secara non verbal.

  1. Terima Anak Apa Adanya

Ada banyak orangtua yang menyangkal kalau anaknya mengidap autis. Untuk apa menjadikannya drama? Terima anak apa adanya dan move on! Yang harus dilakukan adalah memikirkan serta melakukan pendidikan dan treatment terbaik untuk anak. Tidak usah peduli dengan anggapan aneh lingkungan. Ada banyak anak autis yang bisa sukses dengan jalannya. Tugas orangtualah yang membimbing anak menemukan jalannya.

Selamat Hari Autis Sedunia! Jangan menyerah untuk masa depan anak.