07 May 2018

Harus Tahu, Tanda Kekerasan Emosional dalam Hubungan

Harus Tahu, Tanda Kekerasan Emosional dalam Hubungan

Halodoc, Jakarta – Menurut ahli dari The Larazarus Institute, New Jersey, AS, kesetiaan setidaknya dibagi ke dalam tiga bentuk. Pertama, kesetiaan emosional, kesetiaan finasial, dan terakhir kesetiaan seksual. Tiga-tiganya jadi faktor penentu langgeng-tidaknya hubungan yang kamu dan pasangan jalani.

Nah, dari ketiganya, kesetiaan emosional ini kerap menjadi persoalan. Alih-alih ingin bahagia bersama pasangan, justru kekerasan emosional yang justru didapat. Lalu, apa saja sih tanda kekerasan emosional dalam hubungan? Berikut penjelasannya.

  1. Melontarkan Kalimat Kasar

Menurut ahli, faktor utama dari kekerasan emosional ini adalah membuat pasangan merasa “kerdil” dan malu. Pelakunya memang enggak pernah memukul atau melakukan kekerasan fisik, tapi mereka membuat pasangannya merasa seperti “sampah”. Contohnya, melontarkan kalimat kasar hingga melukai perasaan pasangan.

Misalnya, “Jika kamu tidak melakukannya, aku akan meninggalkanmu”. Enggak cuma itu, terkadang pelaku kekerasan emosional juga mungkin saja mengatakan bahwa enggak ada orang lain yang akan mencintai, menerima, dan menginginkan korban selain pelaku.

  1. Mengontrol Kehidupan

Pasangan sering mengontrol segala aspek kehidupan dan pilihan kamu? Kamu perlu harap-harap cemas, sebab itu bisa menjadi tanda dari kekerasan emosional. Misalnya, mereka mengatur cara berpakaian hingga pengeluaran bulanan pasangannya. Selain itu, pelakunya bisa juga sering mendikte ke mana korban boleh dan tidak boleh pergi.

Bahkan, dalam kasus yang lebih parah,  enggak jarang  pelakunya tak membolehkan kekasih untuk berteman dengan lawan jenis. Kamu harus tahu, ini bukanlah bentuk perhatian, tapi  bentuk kontrol yang tak lagi logis.

  1. Selalu Kontra

Kamu dan pasangan memang enggak harus sepaham mengenai sesuatu. Namun, jika pasangan selalu menunjukkan sikap kontra dalam hal apa pun terhadap dirimu, waspadalah. Apalagi bila Si Diaselalu mendominasi percakapan dan hanya mempertahankan pendapatnya. 

Selain itu, pelaku kekerasan emosional yang melakukan tindakan ini, biasanya enggak menunjukkan ketertarikannya terhadap pendapat kamu atau orang lain.

  1. Selalu Curiga

Yang ini kerap kali membuat jengkel korban kekerasan emosional. Pelakunya selalu merasa tidak percaya dan menaruh rasa curiga pada pasangannya. Parahnya lagi, pelakunya mengira semua hal yang korban lakukan bertujuan untuk menyakitinya. Bahkan, enggak jarang mereka menuduh korbannya sedang menggoda pria atau wanita lain.

  1. Mempertanyakan Tingkat Kesadaran

Apa pasangan sering menanyakan tingkat kewarasan kamu? Misalnya, bertanya seperti “Kamu sudah gila ya?” Contoh lainnya, pasangan juga sering menyalahkan kamu atas setiap kesalahan-kesalahan kecil. Tujuannya, untuk lebih membuat kamu merasa bersalah dan meminta maaf.

Jangan Terbuai Janji Manis

Kekerasan emosinal yang sudah enggak tertahankan lagi, biasanya akan membuat korbannya merasa kesal atau ingin melaporkan pelaku, baik ke keluarga, teman, atau pihak lainnya. Nah, ketika si pelaku mengetahui hal ini, barulah akan muncul tahap yang ahli sebut sebagai “bulan madu”. Pada fase ini, pelaku akan berubah drastis. Ia akan menunjukkan penyesalan, mengaku akan bersikap baik, atau berjanji akan segera berubah.

 

Enggak cuma itu, terkadang mereka juga akan membelikan pasangannya hadiah, lebih menghargai, menyatakan rasa cinta, hingga mendengarkan segala perkataan pasangannya dengan baik. Pokoknya, berubah jadi semanis gula. Nah, kata ahli, ditahap ini pelaku akan berubah dari “katak” menjadi seorang “pangeran”. Dengan begitu, korban pun akan luluh sehingga keinginan melaporkan pasangannya pun batal.

Kamu mesti hati-hati pada tahap ini. Meski kelihatannya semua sudah baik-bak saja, cepat atau lambat siklus kekerasan akan selalu muncul lagi. So, enggak ada salahnya kok segera “menyelamatkan” diri kamu dengan cara melaporkan pelaku.

Jadi, sebaiknya korban segera menyelamatkan dirinya, baik dengan memutuskan hubungan maupun menceritakannya pada orang lain. Korban bisa bercerita ke keluarga, teman, atau mencari bantuan pihak lain. Tak perlu takut, ingatlah bahwa kekerasan terjadi bukan karena kesalahan korban.

(Baca juga: Kenali Manfaat Kissing bagi Kesehatan Kamu dan Pasangan)

Punya masalah kesehatan dan ingin berdiskusi dengan dokter? Kamu bisa lo bertanya dengan dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!