• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • In-depth: Orangtua, Pahami Efek Berbahaya Kelebihan Gula bagi Anak

In-depth: Orangtua, Pahami Efek Berbahaya Kelebihan Gula bagi Anak

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
undefined

Gula memiliki reputasi pahit-manis dalam hal kesehatan. Selain dikaitkan dengan diabetes, gula ada korelasinya dengan berbagai masalah kesehatan yang bisa menghantui anak.

Ibu, konsumsi gula dalam jumlah yang tepat dapat berguna untuk kesehatan. Namun, bila terjadi kelebihan gula pada anak, kesehatan tubuh jadi taruhannya!

------------------------------------------------------------------------------------------

Halodoc, Jakarta - Menurut data United States Department of Agriculture (USDA), berdasarkan laporan penggunaan gula untuk penduduk Indonesia tahun 2018, asupan gula penduduk Indonesia sebanyak 11,47 kg per orang per tahun. Jika diambil konsumsi per hari, berarti rata-rata sebanyak 32 gram tiap harinya.

Ya, artinya ini jauh melebihi standar yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu 25 gram (enam sendok teh). 

Kelebihan gula pada anak bisa menimbulkan efek yang berbahaya, seperti diabetes pada anak. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengungkapkan, penyakit diabetes menjadi pembunuh nomor tiga di Indonesia.

Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) 2019 juga mengatakan, angka kejadian diabetes pada anak usia 0-18 tahun mengalami peningkatan yang drastis. Sungguh mengkhawatirkan, bukan? 

Kejamnya gula pada anak bukan soal diabetes. Banyak pakar sepakat, efek berbahaya kelebihan gula pada anak bisa memicu berbagai penyakit. Sebut saja obesitas, penyakit jantung, hingga masalah gigi. Hmm, sudah diabetes, diiringi sederet penyakit lainnya pula!

Baca juga: 5 Efek Samping Diabetes yang Tidak Terduga


Dampak Obesitas Gegara Si Manis

Kenapa obesitas bisa sangat berbahaya apabila dialami anak-anak? Hampir enam tahun lalu, pakar di WHO telah mengingatkan pentingnya mengurangi asupan gula, termasuk pada anak-anak.

Melalui laporan WHO berjudul “Guideline: Sugars intake for adults and children” disebutkan, penyakit tidak menular (PTM) bertanggung jawab atas:

  • 38 juta (68 persen) dari 56 juta kematian dunia pada tahun 2012.
  • 40 persen dari kematian tersebut adalah kematian prematur (di bawah usia 70 tahun.

Ada beberapa faktor risiko yang menyebabkan kondisi ini, seperti pola makan yang buruk dan kurangnya aktivitas fisik. 

Masih merujuk pada laporan di atas, PTM juga dapat dipicu oleh obesitas. Nah, tingginya asupan gula menjadi perhatian karena hubungannya berkaitan erat dengan kualitas makanan yang buruk, obesitas, dan semakin tingginya risiko mengalami PTM. 

Masalah obesitas pada anak sebenarnya bukan cuma berkaitan dengan konsumsi lemak saja. Kelebihan gula pada anak juga menjadi penyulut meroketnya berat badan Si Kecil. Gula adalah bagian dari karbohidrat yang menjadi sumber utama energi dan diperlukan untuk pertumbuhan tubuh anak. Hal yang patut diperhatikan, tubuh manusia amat mudah mencerna dan menyerap gula sebagai sumber energi tubuh. 

“Sisa dari gula yang tidak terpakai akan disimpan sebagai glikogen di otot dan sebagai lipid di jaringan lemak. Dari sini bisa terlihat apabila konsumsi gula berlebih, sisa gula akan menjadi lemak dan menambah berat badan anak,” jelas dr. Isabella Riandani, SpA. pada Halodoc.

Beberapa awam beranggapan kalau asupan gula berlebih pada anak tak menjadi soal, sebab kelebihan gula itu akan segera “dibakar” lewat proses metabolisme. Memang betul demikian, tapi dampak konsumsi gula berlebihan lain lagi ceritanya. 

“Peran metabolisme anak memang lebih baik daripada dewasa karena masih dipengaruhi oleh hormon terutama hormon pertumbuhan. Namun, obesitas tetap bisa terjadi karena asupan kalori yang berlebih dalam jangka panjang,” ujar dr. Isabella.


Obesitas Bukan Hanya karena Asupan Gula

Ibu, asupan tinggi gula bukan satu-satunya penyebab penambahan berat badan. Terlalu banyak energi dari sumber manapun juga akan membuat anak bertambah gemuk.

Pendapat senada juga dikatakan oleh dr. Isabella. Menurutnya obesitas bukan cuma dipicu oleh asupan gula berlebih saja. Masih ada berbagai faktor lain yang menyertainya.

“Dasar dari obesitas adalah faktor genetik dan faktor lingkungan (berlebihan makan dan kurangnya aktivitas). Anak yang lahir dari keluarga yang salah satu atau kedua orangtuanya obesitas, tentunya mempunyai risiko lebih tinggi untuk menjadi obesitas pula,” jelasnya.

Nah, bagi orangtua yang masih abai terhadap masalah obesitas pada anak rasanya perlu harap-harap cemas. Komplikasi dari obesitas pada anak tidak main-main. Menurut IDAI, dampak fisik obesitas pada anak bisa menyebabkan kesakitan, kematian, dan mengenai seluruh organ. 

Timbunan lemak ini juga bakal memicu penyakit kardiovaskular, hipertensi, stroke, diabetes, perlemakan hati, infeksi jamur dan kulit, gangguan panggul dan lutut, kista ovarium, hingga gejala sesak atau asma.

Obesitas juga bisa berimbas pada psikisnya Si Kecil, seperti membuat anak minder, depresi, bau badan yang kurang sedap, kesulitan gerak, dan berisiko tinggi mendapat perlakuan bully.

Baca juga: Jangan Anggap Remeh, Ini Dampak dari Obesitas


Jahatnya Gula Tambahan yang Tersembunyi

Pada dasarnya, gula ada dalam setiap makanan yang mengandung karbohidrat. Sebut saja nasi, buah-buahan, biji-bijian, hingga produk susu. Mengonsumsi makanan utuh yang mengandung gula alami sebenarnya bukan persoalan besar, asal dikonsumsi dalam takaran tepat.

Nah, yang jadi perkara besar adalah ketika mengonsumsi terlalu banyak gula tambahan (added sugar).

Added sugar ini ada di mana-mana, mulai dari minuman yang dimaniskan dengan gula (sugar-sweetened beverages/SSB) seperti minuman bersoda, minuman buah, minuman berenergi, hingga permen, sereal, roti, kue, dan sebagian besar makanan olahan lainnya. Bahkan, added sugar tidak hanya ada terdapat dalam makanan manis. Contohnya, daging yang diawetkan, hingga sambal atau saus tomat.

Menurut jurnal berjudul “Sugar Intake in Children and Adolescents and Its Effects on Health”, konsumsi SSB pada anak-anak terbukti positif berkorelasi dengan peningkatan preferensi untuk mengonsumsi makanan lain yang mengandung gula tambahan. 

Sebuah studi prospektif pada anak kecil menemukan, mereka yang mengonsumsi lebih banyak SSB di antara waktu makan, lebih cenderung mengalami kelebihan berat pada pada usia 4,5 tahun. Konsumsi SSB yang lebih besar pada usia 5 tahun juga dikaitkan dengan persentase lemak tubuh yang lebih tinggi, lingkar pinggang, dan berat badan berlebih hingga usia 15 tahun.

“Konsumsi sugar sweetened beverages (SSB) yang berlebihan akan meningkatkan tingginya kadar gula darah yang apabila tidak digunakan sebagai sumber energi, akan disimpan sebagai lemak tubuh dan memudahkan terjadinya obesitas,” kata dr. Isabella pada Halodoc.

Hati-hati, anak-anak yang mengonsumsi setidaknya satu minuman manis setiap harinya, memiliki kemungkinan dua kali lebih besar kelebihan berat badan satu tahun kemudian, bila dibandingkan dengan anak-anak dengan tingkat konsumsi SSB yang lebih rendah. 

Oleh sebab itu, ibu dan ayah harus cermat terhadap persoalan added sugar ini, baik di SSB atau makanan kemasan atau olahan lainnya. Cara mewaspadai gula tersembunyi mudah, yaitu membaca kandungan makanan/minuman yang diberikan pada Si Kecil.


Baca juga: Pentingnya Membatasi Konsumsi Gula pada Anak Usia Dini


Memicu Banyak Penyakit, Berujung pada Jantung

Ibu, tahukah bahwa kelebihan gula bagi anak juga diam-diam dapat menghantui kesehatan jantungnya. Mau bukti? Simak studi dari American Heart Association, berjudul “Added Sugars and Cardiovascular Disease Risk in Children: A Scientific Statement From the American Heart Association”.

Menurut peneliti, terdapat bukti kuat yang mendukung hubungan gula tambahan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular pada anak-anak di AS. Peningkatan masalah jantung terkait gula tambahan ini dipicu melalui peningkatan asupan energi, peningkatan adipositas (kelebihan timbunan lemak pada tubuh), dan dislipidemia (kondisi di mana kadar lemak dalam darah meningkat).

“Penyakit kardiovaskular pada anak obesitas seperti hipertensi dan dislipidemia bisa terjadi pada usia anak-anak” jelas dr. Isabella. 

Sayangnya, bagaimana gula memengaruhi kesehatan jantung belum sepenuhnya dipahami. Namun, tampaknya gula memiliki beberapa hubungan tidak langsung. Misalnya, jumlah gula yang tinggi yang membebani organ hati. 

Seiring waktu, hal ini menyebabkan penumpukan lemak yang lebih besar. Kondisi ini nantinya bisa berujung pada penyakit hati berlemak, penyebab diabetes, dan meningkatkan risiko penyakit jantung.

Dampak negatif kelebihan gula bagi anak memang menakutkan. Ringkasnya, pakar di Harvard Medical School dan American Academy of Pediatrics mengatakan, kondisi ini bisa memicu tekanan darah tinggi, peradangan, penambahan berat badan, diabetes, kolesterol tinggi, dan penyakit hati berlemak. Hati-hati, semuanya terkait dengan peningkatan risiko serangan jantung dan stroke

Baca juga: Ketahui 3 Penyakit Jantung yang Mengintai Anak


Gula Bikin Anak Kecanduan? 

Terdapat perdebatan sengit menyambut sebuah artikel di jurnal medis yang menyarankan gula harus dianggap sebagai obat adiktif. Cukup serius, bukan? Namun, banyak pula ahli yang kontra terhadap jurnal tersebut. Mereka mengatakan klaim tersebut ‘tidak masuk akal’.

Sebuah tinjauan naratif yang diterbitkan dalam British Journal of Sports Medicine, menyarankan bahwa gula harus dianggap sebagai zat adiktif. Bahkan, gula bisa setara dengan obat-obatan seperti kokain yang kerap membuat orang kecanduan. Di samping itu, gula juga disebut dapat bertindak sebagai pintu gerbang ke alkohol dan zat adiktif lainnya. Namun, pakar di Universitas Cambridge mengatakan, penelitian tersebut telah disalahpahami oleh para penulis jurnal tersebut. 

Hal senada juga dijelaskan oleh dr. Isabella. Menurutnya, gula tidak termasuk zat adiktif sehingga tidak menyebabkan kecanduan. Namun, pada beberapa orang bisa memberikan efek seperti ‘kecanduan’ karena gula dapat merangsang sistem dopamin bekerja dan meningkatkan mood. 

“Pada anak, rasa manis juga bisa menghilangkan nyeri dan sedih. Anak-anak bisa menunjukkan perilaku seperti ‘kecanduan’ gula bila orangtua sangat melarang anaknya makan makanan manis,” jelasnya.

Menurut dr. Isabella, pada keadaan diabetes melitus di mana kadar gula tinggi tidak terkontrol, kelebihan gula bisa menyebabkan koma karena ketoasidosis diabetikum (KAD) yang bisa membahayakan nyawa.

Anggapan kelebihan gula dapat membuat anak hiperaktif, apalagi Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) juga tidak terbukti secara ilmiah. Pada dasarnya, gula (makanan/minuman manis) menjadi sumber energi, sehingga membuat anak menjadi lebih aktif setelah mengonsumsinya. 

“Jadi, pernyataan bahwa konsumsi gula berlebihan bisa membuat anak hiperaktif hanya mitos belaka,” pungkasnya.


Dampak Kelebihan Gula bagi Kesehatan Gigi Anak

Bicara soal dampak kelebihan gula bagi anak, tentu belum tuntas jika belum membahas tentang bagaimana efeknya pada kesehatan gigi. Selain berdampak pada peningkatan risiko obesitas, masalah kesehatan jantung, hingga kecanduan, asupan gula yang berlebihan juga bisa mendatangkan dampak negatif bagi kesehatan mulut dan gigi anak. 

Lantas, apa saja dampak kelebihan asupan gula bagi kesehatan mulut dan gigi anak?

Mengutip laman American Dental Association, karies gigi dijelaskan sebagai kondisi yang terjadi ketika bakteri yang hidup di plak gigi menghasilkan asam yang menurunkan pH pada permukaan gigi. Hal ini bisa menyebabkan terjadinya demineralisasi, dengan kalsium dan fosfat berdifusi keluar dari email gigi. 

Akibatnya, struktur dan lapisan terluar gigi menjadi rusak atau terkikis, lalu secara bertahap semakin menggerogoti dentin atau lapisan tengah gigi. Pada kasus yang parah, bukan tidak mungkin jika pengikisan terus berlanjut hingga mencapai sementum atau akar gigi. 

Baca juga: Waspada, 4 Makanan Ini Picu Karies Gigi pada Anak


Seberapa Besar Risiko Karies Gigi pada Anak dari Makanan dan Minuman Manis?

Secara umum, perkembangan karies gigi pada anak dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti riwayat penyakit yang diidap sebelumnya, penggunaan fluoride, dan pola makan. Faktor makanan juga meliputi jumlah gula yang dikonsumsi, konsentrasi gula dalam makanan, bentuk fisik karbohidrat, retensi oral (lamanya gigi terkena penurunan pH plak), frekuensi makan dan ngemil.

Mari simak penelitian terbaru yang dipublikasikan di Journal of Public Health (Oxford, England) pada tahun 2017 mengungkapkan, anak di bawah usia 5 tahun yang sering mengonsumsi makanan manis seperti permen, cokelat, dan minuman bersoda berisiko tinggi mengalami karies gigi.

Selain itu, hal yang mungkin jarang ibu perhatikan oleh orangtua adalah cara mengonsumsi gula juga berpengaruh pada kerusakan gigi anak.

Dokter gigi anak, drg. Dewi Anggreani Bibi, Sp.KGA., mengungkapkan bahwa risiko terjadinya karies gigi dan gigi berlubang lebih tinggi, jika mengonsumsi makanan manis dengan cara diemut.

“Makanan yang diemut dapat mengendap pada rongga mulut dalam waktu yang lebih lama dibandingkan dengan mengunyah dan menelan. Makanan yang diemut ini mudah menempel pada gigi geligi di dalam rongga mulut sehingga mempercepat pula terjadinya proses karies gigi,” papar drg. Dewi pada Halodoc, melalui wawancara eksklusif.

Selain itu, ada berbagai jenis dan tekstur makanan manis, mulai dari cair, lengket, keras, dan renyah. Pada dasarnya, semua jenis dan tekstur makanan manis berpengaruh pada kerusakan gigi anak. Jika dikonsumsi terus-menerus sepanjang waktu, kondisi ini mempercepat terjadinya kerusakan gigi atau karies gigi. 

“Jenis makanan manis dengan konsistensi lengket lebih berisiko menempel lebih lama di permukaan gigi dan mudah difermentasikan bakteri, sehingga lebih memicu terjadinya karies. Walaupun cairan saliva adalah pembersih alamiah rongga mulut. Namun, perlekatan makanan manis dan lengket sulit dibersihkan terutama pada fissure dan celah gigi yang dalam pada gigi geraham,” kata drg. Dewi.

Baca juga: Pentingnya Mengajarkan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Anak


Apa Bahaya Karies Gigi pada Anak?

Selain karena konsumsi gula atau makanan manis berlebihan, karies gigi juga bisa terjadi akibat bakteri Streptococcus mutans. Terlepas dari penyebabnya, karies gigi pada anak bukan penyakit yang bisa dipandang sebelah mata. 

Jika tidak segera mendapatkan perawatan, karies gigi bisa mengakibatkan infeksi serius jangka panjang dan dapat berakibat fatal.

“Konsumsi gula berlebih juga meningkatkan risiko penyakit pada gusi. Hal ini disebabkan karena mekanisme biologis dari gula atau karbohidrat meningkatkan stres oksidatif (jumlah radikal bebas dalam tubuh meningkat), yang memiliki pengaruh besar pada patogenesis dari penyakit inflamasi kronis termasuk periodontitis,” jelas drg. Dewi.


Penanganan Masalah Gigi Anak sejak Dini

Anak yang terlanjur mengalami karies gigi pada fase geligi susu harus segera mendapatkan perawatan gigi. Gigi susu yang sudah rusak memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan gigi permanennya kelak. Gigi susu yang rusak atau karies bisa menyebabkan gigi tanggal sebelum waktunya. Hal ini mengakibatkan rahang anak mengecil.

“Hal ini menyebabkan gigi permanen yang berada di bawah gigi susu tidak mendapatkan tempat yang optimal untuk tumbuh dan hal ini menyebabkan gigi permanen tumbuh berantakan,” terang drg. Dewi.

Selain itu, beberapa tips lain yang bisa ibu lakukan untuk menjaga kesehatan gigi anak dari drg. Dewi, yaitu:

  • Ajarkan anak sikat gigi sejak dini.
  • Pakai pasta gigi dengan kandungan fluoride.
  • Menjadi contoh yang baik untuk anak dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut.
  • Hindari minum susu botol sambil tidur.
  • Tidak menggunakan sikat gigi dan peralatan makan minum secara bersama-sama atau bergantian.
  • Kenalkan anak dengan makanan sehat seperti buah-buahan dan sayuran. Selain itu, hindari ngemil makanan dan minuman manis yang lengket di antara waktu makan besar.
  • Ajarkan anak untuk disiplin makan yang teratur, aktivitas fisik seperti berolahraga sesuai kegemarannya dan tidur yang cukup.
  • Hindari memberi hadiah makanan manis pada anak-anak.
  • Ajak anak rutin cek ke dokter spesialis gigi anak minimal 6 bulan sekali.

Itulah ulasan tentang efek berbahaya kelebihan gula bagi anak. Sedini mungkin, ajak anak untuk memiliki pola makan sehat dan bergizi seimbang.

Selain itu, penting juga untuk memeriksakan kesehatan anak secara rutin, agar segala risiko penyakit bisa diantisipasi. Ibu bisa menggunakan aplikasi Halodoc untuk berbicara dengan dokter anak lewat chat, atau buat janji dengan dokter di rumah sakit, jika ingin memeriksakan kesehatan anak. Jangan lupa download dulu aplikasinya, ya!


Referensi:
American Heart Association. Diakses pada 2021. Sugar Recommendation Healthy Kids and Teens Infographic
American Academy of Pediatrics. Diakses pada 2021. Added sugar in kids’ diets: How much is too much?
Arizona OBGYN Affiliates. Diakses pada 2021. How Sugar Affects A Childs Brain
British Journal of Sports Medicine. Diakses pada 2021. Sugar addiction: is it real? A narrative review
European Journal of Paediatric Dentistry. The effect of added sugars on children’s health outcomes: Obesity, Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS), Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) and Chronic Diseases
Harvard Medical School. Diakses pada 2021. The sweet danger of sugar
Harvard Medical School. Diakses pada 2021.Added sugar: Where is it hiding?
IDAI. Diakses pada 2021. Sekilas tentang Obesitas pada Buah Hati
JAMA Internal Medicine. Diakses pada 2021. Added Sugar Intake and Cardiovascular Diseases Mortality Among US Adults
Kemenkes RI. Diakses pada 2021. Penyakit Tidak Menular Kini Ancam Usia Muda
Kemenkes RI. Diakses pada 2021. Anak Juga Bisa Diabetes
ResearchGate. Diakses pada 2021. Sugar Intake in Children and Adolescents and Its Effects on Health
The Guardian. Diakses pada 2021. Is sugar really as addictive as cocaine? Scientists row over effect on body and brain
WHO. Diakses pada 2021. WHO calls on countries to reduce sugars intake among adults and children.
WHO. Diakses pada 2021. Sugars and Dental Caries.
American Dental Association. Diakses pada 2021. Caries Risk Assessment and Management.
British Journal of Nutrition (2010), 104, 1555–1564. Diakses pada 2021. Sugar Intake and Dental Decay: Results From a National Survey of Children in Scotland.
Journal of Public Health (Oxford, England) 2018; 40(3): e275–e283. Diakses pada 2021. Positive Association Between Sugar Consumption and Dental Decay Prevalence Independent of Oral Hygiene in Pre-School Children: a Longitudinal Prospective Study.
Wawancara dengan Dokter Spesialis Anak, dr. Isabella Riandani, SpA.
Wawancara dengan Dokter Spesialis Gigi Anak, drg. Dewi Anggreani Bibi, Sp.KGA.