• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini 5 Pilihan Pengobatan Osteoporosis Hormonal
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini 5 Pilihan Pengobatan Osteoporosis Hormonal

Ini 5 Pilihan Pengobatan Osteoporosis Hormonal

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 21 Desember 2021
Ini 5 Pilihan Pengobatan Osteoporosis Hormonal

“Terdapat beberapa jenis pengobatan hormonal untuk pengidap osteoporosis. Mulai dari terapi hormon estrogen, selective estrogen receptor modulators (SERMs), hingga pemberian hormon kalsitonin. Pada dasarnya, beberapa jenis pengobatan hormonal tersebut bermanfaat untuk menjaga kepadatan dan kekuatan tulang.”

Halodoc, Jakarta – Osteoporosis merupakan gangguan kesehatan yang menyerang tulang. Kondisi ini ditandai dengan berkurangnya kepadatan tulang, sehingga tulang menjadi keropos dan mudah retak. Akibatnya, pengidap osteoporosis rentan untuk mengalami patah tulang. 

Osteoporosis dapat dialami siapa saja, termasuk anak-anak dan orang dewasa. Penyebab osteoporosis pun beragam, salah satunya adalah ketidakseimbangan hormon pada tubuh. Namun, apa pun penyebabnya, pengidap osteoporosis perlu segera menjalani pengobatan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko terjadinya patah tulang bila terjatuh. 

Nah, salah satu jenis pengobatan osteoporosis adalah yang bersifat hormonal. Kira-kira apa saja ya pilihan pengobatan osteoporosis hormonal? yuk simak infonya di sini! 

Pilihan Pengobatan Osteoporosis Hormonal

Pengobatan osteoporosis yang bersifat hormonal dilakukan dengan memberikan hormon tertentu. Tujuannya untuk membantu menjaga kepadatan dan kekuatan tulang. Berikut adalah beberapa pilihan pengobatan tersebut, antara lain:

1. Terapi Hormon Estrogen

Pilihan pengobatan ini dapat dilakukan bagi wanita yang telah memasuki masa menopause. Pasalnya, ketika seseorang memasuki masa menopause, jumlah estrogen yang dihasilkan oleh tubuh akan menurun drastis. 

Namun, terapi hormon estrogen dapat meningkatkan risiko pembekuan darah yang dapat menyebabkan stroke. Lebih parahnya lagi, terapi hormon estrogen juga dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Maka dari itu, terapi hormon biasanya digunakan untuk menjaga kesehatan tulang pada wanita yang lebih muda.

2. Selective Estrogen Receptor Modulators (SERMs)

Dilansir dari Mayo Clinic, SERMs merupakan salah satu terapi yang menggunakan obat raloxifene. Nah, obat tersebut berfungsi untuk membantu menjaga kepadatan tulang dan mengurangi risiko patah tulang, terutama tulang belakang. Namun, pilihan pengobatan ini juga berpotensi menimbulkan berbagai efek samping. Misalnya seperti muka memerah, kram kaki, hingga meningkatkan risiko pembekuan darah.

3. Terapi Hormon Testosteron

Pada pria, osteoporosis mungkin memiliki keterkaitan dengan penurunan bertahap kadar testosteron akibat usia. Nah, terapi hormon testosteron juga dapat menjadi pilihan pengobatan osteoporosis pria. Terapi tersebut bertujuan untuk membantu memperbaiki kadar testosteron yang rendah.

4. Hormon Paratiroid

Hormon paratiroid merupakan hormon yang diproduksi secara alami di dalam tubuh. Hormon tersebut berfungsi untuk mengatur jumlah kalsium dalam tulang. Nah, perawatan osteoporosis menggunakan hormon paratiroid bertujuan untuk merangsang sel-sel yang membuat tulang baru. 

Umumnya, hormon paratiroid akan diberikan dalam bentuk suntikan pada pengidap osteoporosis. Bila dibandingkan pengobatan lainnya yang umumnya hanya memperlambat laju penipisan tulang, hormon paratiroid dapat meningkatkan kepadatan tulang. 

Akan tetapi, hormon paratiroid biasanya hanya digunakan pada sebagian kecil pengidap osteoporosis. Terutama bagi mereka yang memiliki kepadatan tulang sangat rendah atau menjalani perawatan lain yang tidak berhasil. Penggunaan hormon paratiroid juga dapat menimbulkan efek samping seperti mual dan muntah.

5. Pemberian Hormon Kalsitonin

Dokter juga dapat menyarankan pemberian kalsitonin sebagai salah satu pilihan pengobatan osteoporosis hormonal. Nah, kalsitonin merupakan hormon yang berfungsi untuk menguatkan kepadatan tulang. Hormon ini akan bekerja secara aktif dengan cara menghambat kerja sel yang melemahkan tulang. Pada pengidap osteoporosis, hormon kalsitonin biasanya diberikan dalam bentuk suntikan. 

Hal yang Perlu Dilakukan Pengidap Osteoporosis

Osteoporosis merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Namun, gejala dan tingkat keparahannya dapat dikendalikan. Maka dari itu, pengidap osteoporosis perlu melakukan berbagai hal, seperti:

  1. Tidak merokok. Merokok dapat meningkatkan pengeroposan tulang pada tubuh, sehingga meningkatkan risiko patah tulang secara drastis.
  2. Membatasi minuman beralkohol. Mengonsumsi lebih dari dua gelas minuman beralkohol setiap harinya dapat menghambat proses pembentukan tulang. Selain itu, berada di bawah pengaruh alkohol juga dapat meningkatkan risiko pengidap osteoporosis terjatuh.
  3. Mengurangi risiko jatuh. Pengidap osteoporosis, terutama yang sudah lansia, perlu menggunakan sepatu hak rendah dengan sol anti slip. Di samping itu, pastikan juga untuk memasang pegangan pada area dengan permukaan licin, seperti kamar mandi.

Nah, itulah penjelasan mengenai beberapa pilihan pengobatan osteoporosis hormonal. Mulai dari terapi hormon estrogen, hingga pemberian hormon kalsitonin. Penting bagi pengidap osteoporosis untuk segera menjalani pengobatan. Terutama bagi mereka yang sudah lansia dan memasuki masa menopause.

Di samping itu, penting untuk memeriksakan kepadatan tulang secara rutin sedari dini. Sebab, osteoporosis merupakan penyakit yang gejalanya seringkali tidak disadari. Melalui aplikasi Halodoc, kamu bisa membuat janji dengan dokter ortopedi di rumah sakit pilihanmu, untuk memeriksakan kondisi dan kepadatan tulang. Tentunya tanpa perlu mengantre atau menunggu lama. Jadi tunggu apa lagi? Yuk download Halodoc sekarang!

Referensi: 
NHS. Diakses pada 2021. Osteoporosis.
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Osteoporosis.
Healthline. Diakses pada 2021. What Do You Want to Know About Osteoporosis?
EMedicine Health. Diakses pada 2021. Hormone Replacement and Osteoporosis.
International Osteoporosis Foundation. Diakses pada 2021. MHT & SERM.
MSD Manual. Diakses pada 2021. Osteoporosis.