• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Bedanya Kernikterus dengan Penyakit Kuning pada Bayi

Ini Bedanya Kernikterus dengan Penyakit Kuning pada Bayi

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Penyakit kuning adalah kondisi yang terjadi ketika zat kimia yang disebut bilirubin menumpuk di dalam darah bayi. Selama kehamilan, hati ibu mengeluarkan bilirubin untuk bayi, tetapi setelah lahir hati bayi harus mengeluarkan bilirubin. 

Pada beberapa bayi, hati mungkin tidak cukup berkembang untuk secara efisien menyingkirkan bilirubin. Ketika terlalu banyak bilirubin menumpuk di tubuh bayi, kulit dan putih mata mungkin terlihat kuning.

Penyakit kuning yang parah dan tidak dirawat dapat menyebabkan kondisi yang disebut kernikterus. Kernikterus adalah jenis kerusakan otak yang dapat disebabkan oleh kadar bilirubin yang tinggi dalam darah bayi. 

Baca juga: Penyakit Kuning Bisa Disebabkan oleh Penyakit Hati?

Kondisi ini dapat menyebabkan cerebral palsy athetoid dan gangguan pendengaran. Selain itu, kernikterus juga dapat menyebabkan masalah dengan penglihatan, gigi, dan kadang-kadang dapat mengakibatkan cacat intelektual. Deteksi dini dan pengelolaan penyakit kuning dapat mencegah kernikterus.

Pahami Gejala untuk Penanganan Tepat

Penyakit kuning biasanya muncul pertama kali pada wajah kemudian bergerak ke dada, perut, lengan, dan kaki ketika kadar bilirubin semakin tinggi. Bagian putih mata juga bisa terlihat kuning. Temui dokter bayi pada hari yang sama jika bayi:

  1. Sangat kuning atau oranye (perubahan warna kulit mulai dari kepala dan menyebar ke jari kaki).
  2. Sulit untuk bangun atau tidak mau tidur sama sekali.
  3. Tidak menyusui atau mengisap dari botol dengan baik.
  4. Sangat cerewet.
  5. Tidak BAB atau BAK.
  6. Menangis tanpa henti atau dengan nada tinggi.
  7. Melengkung seperti busur (kepala atau leher dan tumit ditekuk ke belakang dan tubuh ke depan).
  8. Memiliki tubuh yang kaku dan lemas.
  9. Memiliki gerakan mata yang aneh.

Dokter atau perawat dapat memeriksa bilirubin bayi menggunakan pengukur cahaya yang diletakkan di kepala bayi. Ini menghasilkan tingkat bilirubin transkutan (TSB). Jika tinggi, tes darah kemungkinan akan dilakukan.

Cara terbaik untuk mengukur bilirubin secara akurat adalah dengan sampel darah kecil dari tumit bayi. Kondisi ini dapat menunjukkan tingkat serum bilirubin (TSB) total. Sampel darah berulang juga akan diambil untuk memastikan bahwa TSB berkurang dengan pengobatan yang ditentukan.

Baca juga: Ini Bahaya Memanaskan Makanan Secara Berulang

Kadar bilirubin tertinggi ketika bayi berusia 3 sampai 5 hari. Idealnya, bayi harus diperiksa setiap 8 hingga 12 jam dalam 48 jam pertama setelah kelahiran dan sebelum usia 5 hari. Informasi selengkapnya mengenai penyakit kuning bisa ditanyakan lewat aplikasi Halodoc.   

Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat, kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah.

Penanganan Tepat Dapat Cegah Kernikterus

Ketika penyakit kuning yang parah tidak diobati terlalu lama, kondisi itu dapat menyebabkan kerusakan otak dan kondisi yang disebut kernikterus. Diagnosis dini dan pengobatan penyakit kuning dapat mencegah kernikterus.

Jika ibu khawatir bayi kemungkinan penyakit kuning, segera kunjungi dokter dan mintalah untuk melakukan tes penyakit kuning dengan pengecekan bilirubin. Jika bayi ternyata memiliki penyakit kuning, penting untuk menganggap serius tersebut serta melakukan tindakan yang tepat untuk penanganan yang efisien.

Ibu juga perlu memastikan bayi mendapat asupan makanan yang tepat untuk membuang limbah juga menghilangkan bilirubin dalam darah bayi. Jika ibu menyusui, ibu harus menyusui bayi setidaknya 8 hingga 12 kali sehari selama beberapa hari pertama. 

Ini akan membantu ibu menghasilkan cukup ASI untuk bayi dan akan membantu menjaga kadar bilirubin bayi tetap rendah. Jika ibu mengalami kesulitan menyusui, mintalah bantuan dokter, perawat, atau pelatih laktasi.

Referensi:
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2020. What are Jaundice and Kernicterus?
WebMD. Diakses pada 2020. What Is Kernicterus?