• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini yang Terjadi Jika Usus Buntu Tidak Segera Diobati

Ini yang Terjadi Jika Usus Buntu Tidak Segera Diobati

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Ini yang Terjadi Jika Usus Buntu Tidak Segera Diobati

Halodoc, Jakarta - Radang usus buntu adalah peradangan yang terjadi pada usus buntu, kantong yang berbentuk jari yang menonjol dari usus besar di sisi kanan bawah perut. Radang usus buntu menyebabkan nyeri di perut kanan bawah. Pada kebanyakan orang, rasa nyeri mulai terasa di sekitar pusar dan kemudian bergerak menjalar ke area perut.

Saat peradangan memburuk, nyeri usus buntu biasanya meningkat dan akhirnya menjadi parah. Itulah pentingnya untuk segera mengobati usus buntu. Radang usus buntu yang tidak segera diobati bisa menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Perawatan standar radang usus buntu, yaitu operasi pengangkatan usus buntu. 

Baca juga: Bukan karena Makanan Pedas, Ini Penyebab Usus Buntu

Komplikasi Usus Buntu Jika Tidak Segera Diobati

Radang usus buntu yang tidak segera diobati bisa menyebabkan komplikasi yang serius. Misalnya, menyebabkan kantong nanah yang dikenal sebagai abses terbentuk di usus buntu. Abses ini bisa mengeluarkan nanah dan bakteri ke dalam rongga perut. 

Radang usus buntu juga bisa menyebabkan usus buntu pecah. Jika usus buntu pecah, kondisi ini bisa menumpahkan kotoran dan bakteri ke dalam rongga perut. Jika bakteri tumpah ke rongga perut, maka dapat menyebabkan lapisan rongga perut terinfeksi dan meradang. Kondisi ini dikenal sebagai peritonitis, dan bisa berakibat fatal.

Infeksi bakteri juga bisa memengaruhi organ lain di perut. Ketika terdapat infeksi di perut, jaringan di sekitarnya terkadang mencoba menutupi area yang terinfeksi dari rongga perut lainnya. Hal ini yang dapat membentuk abses, yaitu kumpulan bakteri dan nanah yang tertutup. 

Cara untuk mencegah atau mengelola kondisi ini, dokter biasanya meresepkan antibiotik, pembedahan, atau perawatan lain. Pada beberapa kasus, seseorang mungkin mengalami efek samping atau komplikasi dari pengobatan.

Namun, risiko yang berkaitan dengan antibiotik dan pembedahan cenderung kurang serius dibandingkan dengan potensi komplikasi dari radang usus buntu yang tidak diobati. Setelah infeksi sembuh, pengidap usus buntu akan menjalani operasi untuk mengangkat usus buntu. 

Baca juga: 5 Kebiasaan Sepele Ini Menyebabkan Radang Usus Buntu

Perawatan Usus Buntu Di Rumah

Jika mengalami gejala radang usus buntu, segera hubungi dokter melalui aplikasi Halodoc. Karena hal ini adalah kondisi serius yang membutuhkan perawatan medis. Tidak aman hanya mengandalkan pengobatan rumahan untuk mengobatinya.

Jika kamu menjalani operasi untuk mengangkat usus buntu, dokter akan meresepkan antibiotik dan pereda nyeri untuk proses pemulihan. Selain minum obat sesuai resep, beberapa tindakan di rumah berikut mungkin membantu proses pemulihan, di antaranya: 

  • Perbanyak istirahat.
  • Minum banyak cairan.
  • Berjalan-jalan santai setiap hari.
  • Hindari aktivitas berat dan mengangkat benda berat.
  • Jaga area bekas operasi tetap bersih dan kering.

Dalam beberapa kasus, dokter mungkin menyarankan pengidap usus buntu untuk menyesuaikan pola makan sehat. Jika merasa mual setelah operasi, konsumsi makanan hambar seperti roti dan nasi. Jika mengalami sembelit, konsumsi suplemen serat. 

Baca juga: Sering Dianggap Sama, Ini Bedanya Sakit Perut karena Penyakit Usus Buntu dan Maag

Belum ada cara pasti untuk mencegah radang usus buntu. Namun, setiap orang mungkin bisa menurunkan risiko radang usus buntu dengan konsumsi makanan kaya serat. Makanan yang tinggi serat yang dapat dikonsumsi antara lain:

  • Buah-buahan.
  • Sayuran.
  • Lentil, kacang polong, dan kacang-kacangan lainnya.
  • Oatmeal, beras merah, gandum utuh, dan biji-bijian lainnya. 
  • Suplemen serat yang direkomendasikan dokter. 

Itulah pentingnya untuk segera mengobati usus buntu. Jadi ingatlah, untuk jangan pernah menunda atau menyepelekan pengobatan usus buntu jika tidak ingin komplikasi yang lebih serius terjadi.

 

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2021. Everything You Need to Know About Appendicitis
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Appendicitis