08 January 2018

Inilah Ciri Anak dengan EQ Tinggi

Inilah Ciri Anak dengan EQ Tinggi

Halodoc, Jakarta – Orang seringkali memikirkan soal Intelligence Quotient (IQ) penting untuk prestasi akademik anak. Namun, tahukah ibu jika Emotional Quotient (EQ) juga penting untuk perkembangan anak di kemudian hari? Jika IQ lebih pada prestasi akademik, maka EQ lebih fokus pada tiga kemampuan anak yaitu tanggung jawab, ketangguhan, dan rasa hormat. Jadi bisa dikatakan bahwa EQ akan berguna untuk anak di kehidupan sosialnya kelak.

EQ juga dikenal sebagai kecerdasan emosi pada seseorang. Anak yang memiliki EQ rendah berpotensi memiliki sikap yang suka membantah. Jika ia memiliki EQ yang stabil, maka ia bisa mengendalikan emosi  dirinya. Apalagi jika ia berhadapan dengan orang yang memiliki perilaku atau pendapat berbeda dengan orang lain. Bahkan dengan orang tuanya sendiri pun, ia tidak segan untuk bersikap keras.

Jadi seperti apa ciri anak dengan EQ tinggi?

Membedakan Emosi

Jika diperhatikan, anak yang memiliki EQ tinggi bisa mengenali, menyatakan, serta membedakan emosi yang ia rasakan. Misalnya ketika ia sedang marah, kesal, sedih, ia memiliki “cara” untuk membedakan emosi-emosi itu tanpa memberontak.

Mengontrol Emosi

Emosi bisa terjadi pada siapa saja termasuk anak-anak. Jika pada orang dewasa, emosi cenderung dapat disembunyikan. Entah dengan senyuman atau dengan sikap acuh tak acuh. Namun bagi anak, emosi biasanya ditunjukkan dengan menangis atau bersikap memberontak, berteriak, atau bahkan membanting benda di sekitar. Anak dengan EQ tinggi memiliki kemampuan untuk meredam dan mengontrol emosinya. Misalnya ketika ia marah atau kesal, ia bisa mengontrol emosinya dengan tidak melakukan hal-hal seperti memberontak. Bisa dikatakan, jika orang tua memberikan pengertian yang tepat maka anak pun bisa mengontrol emosinya.

Memiliki Motivasi

Rasa malas yang dialami anak itu wajar, begitu pula sikap pesimis dan impulsif. Namun anak dengan EQ tinggi memiliki kemampuan untuk memotivasi dirinya. Misalnya ketika ia merasa pesimis tidak bisa melakukan suatu hal. Jika orang tua memotivasi dan member dukungan, maka ia pun turut bersemangat dan justru bisa memotivasi dirinya sendiri untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Dapat Berempati

Anak-anak sering bertengkar dengan teman sebayanya, namun ada saat mereka juga menunjukkan rasa sayang terhadap sesama. Orang tua mesti telaten memberikan contoh yang baik pada anak seperti apa baiknya bersikap. Maka dengan sendirinya, anak pun bisa berempati. Memberikan respon positif baik secara lisan maupun tindakan kepada teman atau orang di sekitarnya. Misalnya, mengatakan pada ibu “Jangan bersedih”, “Jangan menangis,” dan masih banyak lagi.

Dapat Berinteraksi

Jangan kira anak belum paham bernegosiasi. Coba ibu memberikan anak kebebasan untuk memilih. Dari hal simpel seperti memilih warna pakaian sendiri, memilih menu makanan sendiri, memilih warna kesukaan sendiri. Tanpa sadar, anak yang memiliki kemampuan untuk menawar sebenarnya memiliki EQ yang cukup tinggi. Misalnya ketika ibu memberikan satu permen namun ia menawar dua permen. Ini adalah bentuk interaksi interpersonal sederhana yang dilakukan untuk bernegosiasi.

 

Jika anak belum terlihat memilih EQ yang cukup, ibu tidak perlu sedih. Kecerdasan emosi bisa dilatih kok, asalkan ibu tahu cara yang tepat. Bicarakan masalah ini pada dokter atau psikolog anak yang tepat. Berikan juga perhatian pada kondisi kesehatan Si Kecil, sedia selalu aplikasi Halodoc untuk bicara dengan dokter secara langsung. Dengan Halodoc, dokter bisa dihubungi melalui Video/Voice Call dan Chat. Selain itu, ibu juga bisa melakukan tes laboratorium jika diperlukan di Halodoc, lho. Setelah itu, ibu bisa membeli kebutuhan medis yang dibutuhkan dan pesanan akan diantar dalam satu jam ke tempat tujuan. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play.