26 March 2019

Inilah yang Terjadi Pada Tubuh Ketika Terserang Adenoiditis

terserang adenoiditis

Halodoc, Jakarta - Pernahkah kamu merasakan sakit tenggorokan di sekitar amandel kamu? Perlu kamu waspadai kondisi tersebut, karena bisa jadi kamu mengalami adenoiditis. Adenoid terletak lebih tinggi di dalam mulut, di belakang hidung, dan di langit-langit mulut, ia juga bisa terinfeksi. Bakteri yang dapat menyebabkan adenoiditis ini disebut dengan Streptococcus. Meski begitu, kondisi adenoiditis juga dapat terjadi karena beberapa jenis virus, termasuk virus Epstein-Barr, adenovirus, dan rhinovirus.

Kondisi adenoiditis bisa membuat kamu kesulitan bernapas dan berujung pada infeksi pernapasan berulang. Gejala adenoiditis yang dapat dirasakan oleh tubuh pengidapnya adalah sakit tenggorokan, hidung berair, pembengkakan kelenjar pada leher, nyeri di kuping, dan masalah saluran pernapasan. Misalnya seperti bernapas melalui mulut, bicara lewat saluran pernapasan, mendengkur, atau masalah pernapasan sementara saat tidur.

Gejala pembesaran adenoid bisa saja berbeda-beda pada setiap orang, tergantung pada penyebabnya. Namun, gejala yang umum terjadi adalah:

  • Pembengkakan kelenjar getah bening di leher.
  • Telinga terasa nyeri.
  • Sakit tenggorokan.

Selain ketiga gejala di atas, pembesaran adenoid dapat juga menyebabkan hidung tersumbat. Saat hidung tersumbat, pengidap akan mengalami gangguan dalam bernapas sehingga terjadi bindeng, sulit tidur, mendengkur, bibir pecah-pecah dan mulut kering, dan sleep apnea.

Terdapat beberapa faktor yang membuat seseorang berisiko mengalami adenoiditis, di antaranya:

  • Infeksi tenggorokan, leher, atau kepala berulang.
  • Infeksi amandel.
  • Kontak dengan virus airborne, kuman, dan bakteri.

Apabila kamu mengalami kondisi ini, penanganan yang dilakukan harus disesuaikan dengan penyebab dan keparahan kondisi yang dialami. Jika pembesaran tidak disebabkan oleh infeksi, dokter biasanya akan menganjurkan agar pembesaran adenoid dibiarkan terlebih dahulu sampai menyusut dengan sendirinya. Namun, jika adenoid tidak kunjung menyusut, dokter akan menanganinya dengan pemberian obat atau operasi.

Jenis obat yang diberikan biasanya berupa antibiotik (penisilin atau amoksilin) dan kortikosteroid semprot hidung (fluticasone). Antibiotik diberikan apabila penyebab pembesaran adenoid adalah infeksi bakteri, sedangkan kortikosteroid semprot hidung diberikan apabila penyebabnya adalah alergi.

Jika penanganan dengan obat-obatan tidak efektif atau muncul komplikasi, dokter mungkin akan menganjurkan pengangkatan adenoid atau biasa disebut adenoidektomi. Operasi pengangkatan adenoid ini berpotensi menimbulkan efek samping berupa hidung tersumbat, perdarahan minor, telinga terasa sakit, dan sakit tenggorokan.

Walaupun begitu, operasi ini termasuk sederhana dan risiko terjadinya efek samping sangat minim. Namun tetap saja, akan lebih baik kamu mendiskusikan penanganan adenoiditis ini secara langsung dengan dokter melalui aplikasi Halodoc terkait. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana saja. Saran dokter dapat diterima dengan praktis dengan cara download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga.