Jenis Tes yang Dilakukan untuk Diagnosis Intoleransi Laktosa

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Jenis Tes yang Dilakukan untuk Diagnosis Intoleransi Laktosa

Halodoc, Jakarta - Intoleransi laktosa adalah masalah pencernaan yang terjadi ketika tubuh tidak bisa mencerna laktosa dengan baik. Laktosa adalah salah satu bentuk gula yang terdapat pada susu dan produk olahannya. Pada kondisi normal, laktosa dicerna menjadi glukosa dan galaktosa oleh enzim laktase agar mudah diserap tubuh dan digunakan sebagai sumber energi.

Baca Juga: Alasan Bayi Bisa Kena Intoleransi Laktosa

Pada pengidap intoleransi laktosa, tubuh tidak menghasilkan enzim laktase yang cukup sehingga laktosa tidak tercerna masuk ke usus besar. Kondisi ini menyebabkan gejala mual, diare, kram perut, perut kembung, dan sering buang angin. Gejala biasanya muncul 30 menit hingga 2 jam setelah konsumsi makanan atau minuman yang mengandung laktosa.

Begini Cara Diagnosis Intoleransi Laktosa

Intoleransi laktosa didiagnosis melalui tes toleransi laktosa, tes hidrogen laktosa, dan tes tingkat keasaman tinja. Sampel jaringan kecil (biopsi) diambil dari usus untuk diperiksa ketika diagnosis tidak bisa ditetapkan. Berikut penjelasannya.

1. Tes Uji Susu Sapi

Ini adalah cara sederhana diagnosis intoleransi laktosa. Kamu dianjurkan berpuasa selama beberapa waktu sebelum tes dilakukan. Kemudian, kamu diminta minum segelas susu sapi pada pagi hari tanpa konsumsi makanan lain, setidaknya 3-5 jam berikutnya. Apabila kamu mengidap intoleransi laktosa, gejala tampak beberapa jam berikutnya.

2. Tes Napas Hidrogen

Jumlah hidrogen dalam napas diukur setelah konsumsi minuman mengandung laktosa. Tingkat hidrogen dalam napas biasanya meningkat 3-5 jam setelah konsumsi laktosa. Ini menandakan adanya gangguan pencernaan terhadap laktosa.

Baca Juga: Ketahui Perbedaan Intoleransi Laktosa dan Alergi Susu Sapi pada Bayi

3. Tes Toleransi Laktosa

Ketika menjalani tes toleransi laktosa, gula darah diukur selama dua jam setelah konsumsi minuman mengandung laktosa. Kamu diminta berpuasa sebelum tes dilakukan. Tes ini dilakukan untuk mengukur kemampuan tubuh dalam mencerna laktosa.

4. Tes Keasaman Tinja

Tes intoleransi laktosa pada bayi dan anak-anak. Ketika menjalani tes ini, anak diberi sejumlah kecil laktosa untuk diminum. Asam laktat seharusnya mengubah keasaman tinja. Namun pada anak pengidap intoleransi laktosa, tinjanya cenderung asam.

5. Biopsi Usus

Pengambilan sampel jaringan usus untuk mengukur tingkat laktase dalam lapisan dinding usus. Proses biopsi ini invasif, artinya dilakukan prosedur pembedahan dan memerlukan analisis khusus yang fasilitasnya tidak banyak tersedia di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Maka itu, biopsi usus jarang dilakukan kecuali untuk tujuan penelitian.

Pengobatan Intoleransi Laktosa

Kasus intoleransi laktosa mudah diobati. Pengidap hanya perlu menemukan makanan atau minuman yang memicu timbulnya gejala, lalu menghindarinya. Cara menemukannya dengan coba-coba hingga kamu tahu makanan atau minuman yang menjadi pemicu munculnya gejala. Misalnya, kamu bisa mencoba sejumlah kecil susu atau produk olahannya dan lihat apakah muncul gejala setelahnya.

Bagi pengidap intoleransi yang tergolong ringan, obat pengganti enzim laktase bisa digunakan. Penggantian enzim laktase dengan obat dimaksudkan untuk mengubah laktosa menjadi komponen gula sederhana yang lebih mudah dicerna, seperti glukosa dan galaktosa. Obat ini sebaiknya dikonsumsi bersamaan dengan makanan untuk membantu mencerna laktosa.

Baca Juga: Intoleransi Laktosa pada Bayi, Ibu Harus Apa?

Itulah diagnosis yang dilakukan untuk diagnosis intoleransi laktosa. Kalau kamu punya pertanyaan lain seputar intoleransi laktosa, jangan ragu bertanya dengan dokter Halodoc. Kamu bisa menggunakan fitur Talk to A Doctor yang ada di aplikasi Halodoc untuk menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play!