05 March 2018

Kenalan dengan Disfungsi Ereksi pada Kaum Adam

Kenalan dengan Disfungsi Ereksi pada Kaum Adam

Halodoc, Jakarta – Banyak orang mengira kalau gangguan pada Mr P hanyalah soal penyakit menular saja. Padahal, berbagai penyakit juga bisa mengancam “senjata” pria, salah satunya disfungsi ereksi. Nah, agar kehidupan asmara kamu dengan pasangan bisa berjalan lancar, ada baiknya untuk mengetahui gangguan yang satu ini. Lalu, apa sih pengertian disfungsi ereksi itu?

Disfungsi ereksi ini terjadi ketika Mr P tidak mampu melakukan penetrasi ke dalam Miss V. Kelainan ini berkembang karena satu atau lebih penyebab. Salah satu faktor yang paling signifikan adalah faktor adalah usia. Ketika kamu memasuki fase andropause (kondisi seperti menopause), hormon testosteron (berkaitan dengan seks) yang beredar di dalam tubuhmu akan berkurang. Namun, enggak hanya itu saja penyebabnya. Dalam banyak kasus, disfungsi ereksi juga bisa disebabkan karena masalah lain.

Seperti dilansir Performance Insiders, studi  dari National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases mengatakan,  banyak penyakit yang bisa menyebabkan gejala disfungsi ereksi. Contohnya, penyakit yang mempengaruhi pembuluh darah dan jantung, diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit ginjal, multiple sclerosis, dan penyakit peyronie (kondisi ketika bentuk Mr P menekuk).

 

Muda dan Gagah Juga Bisa Terserang

Umumnya penyakit disfungsi ereksi ini memang menyerang manula, jika mulai dihitung dari 41 tahun ke atas. Namun, kamu yang masih berusia muda juga bisa mengidap penyakit ini, lho.

Untuk manula, pengertian disfungsi ereksi biasanya disebabkan oleh faktor organik. Sedangkan pria yang masih mudah dan gagah lebih banyak dikarenakan faktor psikologis dan fisik. Secara fisik, disfungsi ereksi bisa terjadi karena faktor hormonal, gangguan persarafan, aliran darah, atau pemakaian zat kimia tertentu. Kalau psikologis bisa karena depresi, kecemasan, atau stres.

Dari beberapa penyakit di atas yang bisa menyebabkan disfungsi ereksi, diabetes diketahui paling banyak berhubungan dengan disfungsi ereksi. Kata ahli, pengindap diabetes berisiko 2-5 kali menderita disfungsi ereksi dibandingkan dengan pria sehat. Bahkan, mereka lebih cepat 10-15 tahun mengidap lemah syahwat ini. Enggak hanya itu sebenarnya, kata ahli sebelum mencapai 70 tahun, sekitar 95 persen pengidap diabetes kemampuan ereksinya melemah.

 

Jangan Malu Kalau Mau Sembuh

Bukan rahasia lagi kalau kelakuaan kaum Adam mengenai disfungsi ereksi itu sama pada umumnya. Maksudnya, sama-sama pemalu. Mereka cenderung malu mengungkapkan karena mempengaruhi harga diri. Padahal, menurut ahli masalah disfungsi ereksi adalah hal biasa kok. Sebab banyak pria yang mengalaminya, apalagi bagi mereka yang tinggal di perkotaan yang sibuk.

Menurut WHO, pertolongan medis bagi pengidap penyakit ini diperlukan jika seseorang tidak bisa mencapai ereksi pada permulaan atau mempertahankannya, dalam jangka waktu tiga bulan. Namun, ada juga ahli yang memberi batasan waktu yang lebih cepat, yakni dua minggu saja. Nah, agar lebih aman, begitu terasa ada gangguan sebaiknya kamu segeralah meminta pertolongan dokter. Sebab semakin cepat ditangani, semakin cepat pula proses penyembuhannya.

Menurut ahli, urusan penyakit ini harus ditangani oleh dokter, karena umumpuna ada masalah pada pemubuluh darah. Begitu juga faktor psikologis seperti depresi, ketegangan, stres, dampaknya bisa membuat pembuluh darah mengecil. So, jangan malu untuk meminta bantuan dokter kalau kamu mengalami gejala disfungsi ereksi.

 

Langkah Pengobatan

Kamu perlu ingat, masalah disfungsi ereksi ini bisa berdampak pada keharmonisan rumah tangga hingga kesulitan untuk mendapatkan keturunan, lho.  Nah, solusinya  meminta bantuan ahli agar mendapatkan pengobatan yang sesuai dengan penyebabnya.

Biasanya, dokter akan mencari tahu penyebabnya melalui penelusuran riwayat medis dan pemeriksaan fisik, serta diikuti tes penunjang. Kalau sudah tahu penyebabnya, maka selanjutnya akan dilakukan pengobatan.

Pengobatan pada pengidap disfungsi ereksi bisa dengan obat-obatan, konseling, hingga tindakan operasi. Obat-obatan bisa berupa obat perangsang ereksi atau pemberian hormon testosteron jika kekurangan hormon tersebut.  Namun, kalau berkaitan dengan masalah psikologis seperti stres, depresi, atau kecemasan, dokter mungkin akan menyarankan untuk berkonsultasi dengan psikolog.

Nah, sudah tahu kan pengertian disfungsi ereksi, kalau begitu jangan salah langkah yang untuk menghadapinya. Kamu bisa menghubungi dokter melalui aplikasi Halodoc untuk berdiskusi mengenai masalah ini. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.