Ad Placeholder Image

Kenali Penyebab Kudis Akibat Tungau dan Cara Menularnya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   03 Maret 2026

Bukan Hewan, Ini Penyebab Kudis yang Bikin Gatal Parah

Kenali Penyebab Kudis Akibat Tungau dan Cara MenularnyaKenali Penyebab Kudis Akibat Tungau dan Cara Menularnya

Memahami Penyebab Kudis Secara Medis

Kudis atau skabies adalah penyakit kulit yang menimbulkan rasa gatal luar biasa dan bersifat sangat menular. Penyebab kudis yang utama adalah infestasi tungau mikroskopis bernama Sarcoptes scabiei var. hominis. Kondisi ini bukan sekadar masalah kebersihan, melainkan infeksi parasit yang memerlukan penanganan medis spesifik untuk memutus siklus hidup tungau tersebut.

Banyak masyarakat menganggap bahwa rasa gatal pada kudis disebabkan oleh gigitan tungau. Faktanya, sensasi gatal yang intens tersebut merupakan reaksi alergi tubuh terhadap protein yang terdapat pada tubuh tungau, telur, serta kotoran yang ditinggalkan di dalam lapisan kulit. Tanpa pengobatan yang tepat, siklus hidup tungau akan terus berlanjut dan gejala dapat menetap selama berbulan-bulan.

Mekanisme Infeksi Tungau Sarcoptes Scabiei

Tungau penyebab kudis memiliki ukuran sangat kecil dan berkaki delapan, sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Proses infeksi dimulai ketika tungau betina masuk ke dalam lapisan kulit luar (epidermis). Di sana, parasit ini akan menggali terowongan untuk membuat sarang dan bertelur.

Telur yang diletakkan di dalam terowongan kulit akan menetas dalam waktu sekitar 3 hingga 4 hari. Setelah menetas, larva akan bergerak menuju permukaan kulit untuk tumbuh menjadi tungau dewasa. Siklus ini berlangsung terus-menerus, menyebabkan populasi tungau bertambah jika tidak segera dibasmi.

Reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap aktivitas tungau inilah yang memicu peradangan dan rasa gatal yang hebat. Gejala gatal biasanya akan memburuk pada malam hari karena aktivitas tungau cenderung meningkat saat suhu tubuh menjadi lebih hangat di tempat tidur.

Cara Penularan dan Faktor Risiko Utama

Memahami bagaimana kudis menyebar sangat penting untuk pencegahan. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia atau tingkat ekonomi. Namun, terdapat beberapa metode penularan dan faktor risiko yang mempercepat penyebaran penyakit ini.

1. Kontak Fisik Langsung

Metode penularan yang paling umum terjadi adalah melalui sentuhan kulit-ke-kulit (skin-to-skin contact). Kontak ini harus berlangsung dalam durasi yang cukup lama agar tungau memiliki waktu untuk berpindah dari satu inang ke inang lainnya.

Berjabat tangan sekilas jarang menularkan kudis, namun aktivitas seperti berpegangan tangan dalam waktu lama, tidur di satu ranjang yang sama, atau hubungan seksual dengan penderita merupakan jalur penularan utama. Oleh karena itu, jika satu anggota keluarga terinfeksi, seluruh orang yang tinggal serumah sangat berisiko tertular.

2. Kontak Tidak Langsung Melalui Benda

Meskipun tungau Sarcoptes scabiei lebih menyukai hidup di kulit manusia, parasit ini dapat bertahan hidup di luar tubuh manusia selama 2 hingga 3 hari. Hal ini memungkinkan terjadinya penularan secara tidak langsung melalui benda-benda pribadi.

Penggunaan barang bersama sangat berisiko menjadi media penularan. Barang-barang yang sering menjadi perantara meliputi:

  • Pakaian yang baru saja digunakan penderita.
  • Sprei, sarung bantal, dan selimut.
  • Handuk mandi.
  • Furnitur berbahan kain.

3. Lingkungan Padat Penduduk

Wabah kudis lebih sering ditemukan di lingkungan di mana orang tinggal berdekatan dalam jumlah banyak. Kondisi tempat tinggal yang padat memudahkan kontak fisik antar penghuni serta pertukaran barang pribadi.

Beberapa lokasi yang memiliki risiko penularan tinggi antara lain:

  • Asrama sekolah atau pesantren.
  • Panti jompo atau fasilitas perawatan jangka panjang.
  • Penjara atau lembaga pemasyarakatan.
  • Tempat penitipan anak.

Gejala Khas Infestasi Kudis

Mengidentifikasi gejala sejak dini dapat mencegah penularan lebih luas. Tanda utama dari penyakit ini adalah rasa gatal yang dominan muncul atau memberat pada malam hari (pruritus nokturnal). Selain gatal, tanda fisik lain dapat terlihat pada permukaan kulit.

Penderita sering kali menemukan adanya ruam menyerupai jerawat kecil atau lepuhan. Ciri yang paling spesifik adalah adanya jejak terowongan (kanalikuli) berupa garis tipis, sedikit menonjol, dan berwarna keabuan atau warna kulit. Terowongan ini sering ditemukan di sela-sela jari, pergelangan tangan, siku, ketiak, pinggang, atau area genital.

Perlu dicatat bahwa hewan peliharaan tidak dapat menularkan jenis kudis yang sama kepada manusia. Tungau yang menyerang hewan berbeda dengan Sarcoptes scabiei var. hominis. Jika tungau hewan hinggap ke kulit manusia, tungau tersebut tidak dapat berkembang biak dan hanya menyebabkan iritasi sementara yang akan hilang dengan sendirinya.

Kesimpulan dan Langkah Pengobatan

Kudis bukanlah penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya. Diperlukan intervensi medis menggunakan obat oles (krim atau losion) yang mengandung permetrin atau obat antiskabies lainnya untuk membasmi tungau beserta telurnya. Pengobatan biasanya harus diterapkan ke seluruh tubuh dari leher ke bawah dan didiamkan selama beberapa jam sesuai anjuran medis.

Selain pengobatan tubuh, dekontaminasi lingkungan juga wajib dilakukan. Mencuci semua pakaian, sprei, dan handuk dengan air panas adalah langkah krusial untuk mematikan sisa tungau yang menempel pada kain.

Apabila mengalami gejala gatal hebat terutama di malam hari atau menemukan ruam mencurigakan di sela jari, segera lakukan konsultasi dengan dokter spesialis kulit. Penanganan yang cepat dan tepat melalui aplikasi Halodoc dapat membantu mendapatkan resep obat yang akurat serta mencegah penularan kepada orang-orang terdekat.