Ad Placeholder Image

Keputihan Berdarah: Jangan Panik, Ini Sebabnya!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   13 Mei 2026

Keputihan Berdarah Kenapa? Ini Penyebab dan Solusi

Keputihan Berdarah: Jangan Panik, Ini Sebabnya!Keputihan Berdarah: Jangan Panik, Ini Sebabnya!

Keputihan Berdarah: Mengapa Terjadi dan Kapan Harus Waspada?

Keputihan bercampur darah adalah kondisi yang sering kali menimbulkan kekhawatiran. Flek darah yang muncul bersama cairan keputihan bisa menjadi tanda dari berbagai kondisi, mulai dari hal yang ringan dan tidak berbahaya hingga masalah kesehatan serius yang memerlukan penanganan medis segera. Memahami penyebabnya penting untuk menentukan langkah selanjutnya.

Umumnya, kondisi ini bisa disebabkan oleh sisa menstruasi, perubahan hormon, atau ovulasi. Namun, ada juga pemicu lain seperti infeksi, efek samping alat kontrasepsi, bahkan tanda awal penyakit yang lebih serius pada organ reproduksi.

Apa Itu Keputihan Berdarah?

Keputihan bercampur darah merujuk pada kondisi di mana cairan keputihan yang keluar dari vagina memiliki warna kemerahan, kecoklatan, atau disertai flek darah segar. Normalnya, keputihan memiliki warna bening hingga putih susu, dengan tekstur bervariasi tergantung siklus menstruasi.

Munculnya darah pada keputihan menunjukkan adanya sedikit pendarahan dari saluran reproduksi. Pendarahan ini bisa berasal dari rahim, leher rahim (serviks), atau dinding vagina.

Penyebab Keputihan Berdarah: Mengapa Ini Terjadi?

Ada banyak alasan mengapa keputihan seseorang bisa bercampur darah. Beberapa penyebab bersifat umum dan tidak mengkhawatirkan, sementara yang lain memerlukan perhatian medis.

Penyebab Umum dan Ringan

Beberapa kondisi berikut sering menjadi alasan flek darah muncul bersama keputihan:

  • Sisa Menstruasi atau Ovulasi. Flek darah bisa muncul beberapa hari setelah menstruasi berakhir sebagai sisa darah haid. Selain itu, beberapa wanita mengalami pendarahan ringan saat ovulasi (pelepasan sel telur) karena perubahan hormon mendadak.
  • Perubahan Hormon. Fluktuasi hormon estrogen dan progesteron dapat memengaruhi lapisan rahim dan menyebabkan pendarahan ringan. Ini bisa terjadi pada masa pubertas, menjelang menopause, atau saat stres.
  • Stres. Tingkat stres yang tinggi dapat mengganggu keseimbangan hormon tubuh, yang pada gilirannya bisa memicu flek atau keputihan bercampur darah.
  • Efek Samping Alat Kontrasepsi. Beberapa jenis kontrasepsi hormonal, seperti pil KB atau IUD (spiral), dapat menyebabkan pendarahan tidak teratur atau flek, terutama pada bulan-bulan awal penggunaan.
  • Trauma Ringan pada Vagina atau Serviks. Gesekan saat berhubungan intim atau pemeriksaan panggul bisa menyebabkan iritasi dan pendarahan ringan pada jaringan sensitif vagina atau leher rahim.

Penyebab Serius dan Membutuhkan Penanganan Medis

Jika keputihan bercampur darah terjadi secara sering, banyak, atau disertai gejala lain, patut diwaspadai sebagai tanda kondisi yang lebih serius:

  • Infeksi. Infeksi menular seksual (IMS) seperti klamidia, gonore, atau penyakit radang panggul (PID) dapat menyebabkan peradangan dan pendarahan. Infeksi jamur atau bakteri vagina juga bisa memicu iritasi.
  • Polip Rahim atau Serviks. Polip adalah pertumbuhan jaringan non-kanker yang menempel pada lapisan rahim atau leher rahim. Meskipun umumnya jinak, polip bisa menyebabkan pendarahan tidak teratur.
  • Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS). PCOS adalah kondisi hormonal yang dapat menyebabkan siklus menstruasi tidak teratur dan pendarahan di luar jadwal menstruasi.
  • Endometriosis. Kondisi ini terjadi ketika jaringan yang mirip dengan lapisan rahim tumbuh di luar rahim. Endometriosis dapat menyebabkan pendarahan abnormal dan nyeri panggul.
  • Fibroid. Fibroid adalah tumor jinak yang tumbuh di dinding rahim. Ukuran dan lokasi fibroid dapat memengaruhi keparahan pendarahan yang terjadi.
  • Kanker Serviks atau Rahim. Dalam kasus yang jarang namun serius, keputihan bercampur darah bisa menjadi salah satu gejala kanker pada leher rahim (serviks) atau rahim. Pendarahan pasca-menopause atau pendarahan setelah berhubungan intim adalah tanda yang patut diwaspadai.

Gejala Lain yang Perlu Diwaspadai

Selain adanya darah, keputihan abnormal sering kali disertai gejala lain yang mengindikasikan masalah kesehatan. Waspadai jika keputihan bercampur darah muncul bersama:

  • Nyeri panggul atau perut bagian bawah yang intens.
  • Bau tidak sedap dari vagina.
  • Gatal atau rasa terbakar pada area genital.
  • Perubahan konsistensi atau warna keputihan yang drastis (misalnya, menjadi kehijauan atau berbusa).
  • Demam atau merasa tidak enak badan.
  • Nyeri saat berhubungan intim atau saat buang air kecil.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika keputihan bercampur darah hanya terjadi sesekali dan dalam jumlah sangat sedikit tanpa disertai gejala lain, mungkin tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, segera konsultasikan ke dokter kandungan jika kondisi ini:

  • Terjadi secara sering atau berkepanjangan.
  • Disertai nyeri panggul yang parah.
  • Disertai bau tidak sedap atau gatal yang hebat.
  • Terjadi setelah berhubungan intim atau setelah menopause.
  • Disertai demam atau gejala infeksi lainnya.

Pemeriksaan dan Penanganan Keputihan Berdarah

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan mungkin beberapa tes untuk mengetahui penyebab pasti keputihan bercampur darah. Beberapa pemeriksaan yang umum dilakukan meliputi:

  • Pemeriksaan Panggul. Dokter akan memeriksa organ reproduksi bagian luar dan dalam.
  • Pap Smear. Tes ini bertujuan mendeteksi perubahan sel pada leher rahim yang bisa mengindikasikan pra-kanker atau kanker serviks.
  • USG (Ultrasonografi). Pencitraan ini membantu melihat kondisi organ internal seperti rahim dan ovarium untuk mendeteksi kista, fibroid, atau polip.
  • Tes Laboratorium. Sampel keputihan dapat diperiksa untuk mendeteksi infeksi bakteri, jamur, atau IMS.

Penanganan akan disesuaikan dengan diagnosis. Misalnya, infeksi akan diobati dengan antibiotik atau antijamur. Kondisi seperti polip atau fibroid mungkin memerlukan tindakan bedah minor. Untuk masalah hormonal, dokter dapat merekomendasikan terapi hormon.

Keputihan bercampur darah tidak selalu menjadi tanda bahaya, tetapi kewaspadaan adalah kunci. Jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Untuk diagnosis dan penanganan yang tepat, seseorang dapat berkonsultasi dengan dokter kandungan melalui aplikasi Halodoc, yang menyediakan informasi medis terpercaya dan berbasis riset ilmiah terbaru.