• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Akalasia

Akalasia

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Akalasia

Pengertian Akalasia 

Perlu diketahui bahwa akalasia tergolong penyakit langka yang dapat diturunkan. Akalasia sendiri merujuk pada kondisi ketika kerongkongan (esofagus) kehilangan kemampuan untuk mendorong makanan dari mulut ke perut. Normalnya, Lower Esophageal Sphincter (LES) akan mengendur, sehingga makanan dapat masuk ke perut. 

Pada pengidap akalasia, LES tidak dapat mengendur dengan benar, sehingga makanan menumpuk pada bagian bawah kerongkongan atau naik kembali menuju mulut. LES merupakan lingkaran otot yang berada pada bagian bawah kerongkongan. LES akan membuka dan menutup dengan sendirinya untuk mencegah asam lambung naik ke kerongkongan.

Gejala Akalasia 

Tidak semua pengidap mengalami gejala akalasia. Kebanyakan dari mereka mengalami kesulitan dalam menelan makanan atau minuman. Selain itu, gejala yang tampak, meliputi:

  • Makanan kembali lagi ke mulut, seperti ingin muntah.
  • Batuk-batuk saat menelan akibat tersedak. 
  • Peningkatan produksi asam lambung.
  • Sakit pada area dada.
  • Mengalami infeksi dada berulang.
  • Muntah air liur karena meningkatnya produksi asam lambung.
  • Penurunan berat badan perlahan, tetapi terjadi secara signifikan.

Sejumlah gejala tersebut dapat dialami oleh siapa saja, dan dapat terjadi kapan pun. Jika sejumlah gejala tersebut dibiarkan saja, maka risiko kanker kerongkongan pun meningkat. Oleh karena itu, segera melakukan langkah perawatan yang tepat saat menemukan gejalanya.

Penyebab dan Faktor Risiko Akalasia 

Penyebab utama akalasia adalah rusaknya saraf di kerongkongan, sehingga otot tidak bisa bekerja dengan baik. Selain kerusakan saraf, akalasia juga dapat terjadi karena beberapa faktor risiko berikut ini:

  • Mengalami cedera tulang belakang.
  • Menjalani skleroterapi endoskopi.
  • Mengalami infeksi virus.
  • Memiliki penyakit autoimun.
  • Memiliki riwayat keluarga.
  • Lemahnya sistem imun pada sel saraf kerongkongan.
  • Berusia 40-60 tahun.

Komplikasi Akalasia

Komplikasi akalasia umumnya muncul akibat sejumlah gejala yang dialami tidak diatasi dengan langkah perawatan tepat. Komplikasi terjadi secara bertahap, mulai dari meningkatnya kesulitan menelan makanan dan minuman, hingga penurunan berat badan akibat malnutrisi. Berikut ini komplikasi lainnya:

  • Kanker esofagus atau kerongkongan.
  • Naiknya asam lambung ke kerongkongan.
  • Pneumonia yang mengakibatkan masuknya makanan ke dalam paru-paru.
  • Perforasi esofagus yaitu robeknya dinding kerongkongan.

Diagnosis Akalasia

Proses diagnosis dilakukan oleh dokter spesialis berdasarkan hasil wawancara dan keluhan yang dialami pengidap. Kemudian, dokter melanjutkan proses diagnosis dengan melakukan pemeriksaan fisik dan penunjang lain. Berikut ini beberapa pemeriksaan penunjang yang dilakukan:

  • Manometri, yang dilakukan dengan memasukkan tabung plastik kecil melalui mulut atau hidung ke kerongkongan. Gunanya untuk mengukur tekanan otot di sepanjang saluran tersebut.
  • Esofagografi, yang dilakukan dengan minum cairan putih yang mengandung barium. Cairan tersebut akan terlihat jelas sinar-X. Gunanya untuk melihat berapa lama waktu untuk masuk ke dalam perut.
  • Endoskopi, yang dilakukan menggunakan serat optik dan kamera untuk melihat langsung lapisan kerongkongan, cincin otot dan perut pengidap.

Pengobatan Akalasia 

Pengobatan akalasia bertujuan untuk membuka otot LES, sehingga makanan dan minuman bisa masuk ke dalam perut. Berikut ini beberapa prosedur pengobatan yang umum dilakukan:

  1. Obat-Obatan

Konsumsi obat-obatan dari dokter dapat membantu mengendurkan otot-otot di kerongkongan, sehingga proses menelan menjadi lebih mudah dan tidak menyakitkan. Prosedur ini belum tentu berhasil untuk semua orang, dan efeknya berlangsung sebentar. Penggunaan obat biasanya berfungsi untuk meredakan gejala, sembari menunggu pengobatan lainnya.

  1. Peregangan Otot 

Sebelum melakukan prosedur, pengidapnya terlebih dulu diberikan anestesi umum. Kemudian, dokter memasukkan benda semacam balon, yang kemudian dipompa untuk membantu meregangkan cincin otot tenggorokan. Tujuannya adalah, meningkatkan elastisitas otot saat menelan. Prosedur ini berisiko kecil merobek kerongkongan, sehingga memerlukan operasi darurat.

  1. Injeksi Botoks

Cairan botoks dimasukkan ke dalam kerongkongan menggunakan endoskop, dan disuntikkan pada cincin otot. Tujuannya adalah merelaksasi otot tenggorokan, sehingga proses menelan tidak terasa menyakitkan. Meski efektif dilakukan, prosedur harus dilakukan secara berulang selama beberapa bulan hingga tahun. Cara ini menjadi alternatif pada orang yang tidak dapat menjalani perawatan lain.

  1. Operasi

Prosedur operasi dilakukan dengan memotong otot cincin, sehingga memungkinkan makanan masuk ke dalam perut. Hasilnya dapat dirasakan secara permanen, dan membuat pengidap lebih mudah menelan tanpa rasa sakit. Ketika cara tersebut tidak berhasil, sebagian orang mungkin saja memerlukan operasi pengangkatan sebagian area kerongkongannya.

  1. Peroral Endoscopic Myotomy (POEM)

POEM merupakan prosedur yang dilakukan dengan menggunakan alat bernama endoskop. Alat tersebut dilengkapi dengan kamera dan senter pada sisi ujung untuk mendapat gambaran organ kerongkongan, lambung, usus halus, dan usus besar. Prosedur ini bertujuan untuk mengurangi kekakuan otot, sehingga makanan dan minuman dapat dengan mudah mengalir menuju lambung.

Secara umum, peroral endoscopic myotomy dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Dokter akan memasukkan selang endoskop lewat mulut hingga ke kerongkongan (esofagus). Dokter mengendalikan arah alat ini dengan melihat gambar yang diambil oleh kamera di ujung endoskop.
  • Selain lampu dan kamera kecil, endoskop juga memiliki pisau kecil khusus di ujungnya. Selama alat ini berada dalam esofagus, pisau kecil tersebut akan memotong dan mengendurkan otot esofagus yang kaku dan memicu gangguan menelan.
  • Pisau kecil tersebut dapat memotong dan mengendurkan otot di sisi esofagus, katup esofagus bawah, dan bagian atas lambung.
  • Setelah selesai, penjepit akan dimasukkan pada dinding esofagus untuk menjaga agar sayatan tetap tertutup.
  • Selanjutnya, selang endoskop akan dikeluarkan lewat mulut pasien.

Sama seperti pada prosedur pengobatan lainnya, sejumlah langkah untuk mengatasi akalasia juga dapat memicu munculnya komplikasi. Beberapa kondisi yang menjadi komplikasi pengobatan akalasia, seperti lubang di kerongkongan, kembung, gangguan pencernaan kronis, dan kembalinya gejala akalasia.

Pencegahan Akalasia 

Jika disebabkan oleh faktor genetik, tidak ada langkah pencegahan yang dapat dilakukan. Namun, kamu dapat melakukan pemeriksaan dini, agar sejumlah gejala yang muncul dapat diatasi dengan langkah tepat. Berikut ini beberapa langkah pencegahan akalasia.

  • Berhenti merokok.
  • Perbanyak konsumsi air putih saat makan.
  • Kunyah makanan hingga benar-benar halus sebelum ditelan.
  • Jangan konsumsi makanan yang dapat memicu peningkatan asam lambung, seperti makanan pedas, asam, dan makanan serta minuman mengandung kafein.
  • Makan dengan porsi kecil tapi sering.
  • Jangan konsumsi makan saat mendekati waktu tidur.
  • Posisikan kepala lebih tinggi saat tidur.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika muncul sejumlah gejala yang telah disebutkan dan semakin parah dari waktu ke waktu, sebaiknya buat janji temu dengan dokter di rumah sakit terdekat lewat aplikasi Halodoc untuk melakukan pemeriksaan. Yuk, download Halodoc sekarang juga!

This image has an empty alt attribute; its file name is Banner_Web_Artikel-01.jpeg

Referensi:
NHS UK. Diakses pada 2021. Achalasia.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2021. Achalasia: A Disorder of the Esophagus.
Healthline. Diakses pada 2021. Everything You Need to Know About Achalasia.
National Organization of Rare Disorder. Diakses pada 2021. Achalasia.