• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Alkalosis

Alkalosis

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Alkalosis

Pengertian Alkalosis 

Darah terdiri dari asam dan basa dan jumlah asam dan basa dalam darah dapat diukur pada skala pH. Penting untuk menjaga keseimbangan yang tepat antara asam dan basa. Bahkan sedikit perubahan dapat menyebabkan masalah kesehatan. Biasanya, darah harus memiliki jumlah basa yang sedikit lebih tinggi daripada asam, tetapi jika darah terlalu basa, maka kondisi ini disebut dengan alkalosis.

Dalam dunia medis, alkalosis adalah kondisi saat tubuh memiliki terlalu banyak basa. Ini dapat terjadi karena penurunan kadar karbon dioksida dalam darah yang merupakan asam. Ini juga dapat terjadi karena peningkatan kadar bikarbonat dalam darah yang merupakan basa.

Kondisi ini mungkin juga terkait dengan masalah kesehatan mendasar lainnya, seperti kalium rendah atau hipokalemia. Semakin dini terdeteksi dan diobati, maka akan semakin baik hasilnya.

Faktor Risiko Alkalosis 

Berikut ini faktor risiko yang dapat meningkatkan risiko terjadinya alkalosis :

  • Penyakit paru kronis;
  • Infeksi pada paru kronis;
  • Penyakit ginjal kronis;
  • Cedera ginjal akut;
  • Kehilangan cairan yang sangat banyak (dehidrasi).

Baca juga: Hal yang Terjadi ketika Seseorang Idap Kandungan Kalium Tinggi

Penyebab Alkalosis 

Kenyataannya, ada empat jenis alkalosis yang mana penyebabnya bisa berbeda-beda. Berikut ini jenisnya: 

  1. Alkalosis Respiratorik

Alkalosis respiratorik terjadi ketika tidak ada cukup karbon dioksida dalam aliran darah. Kondisi ini sering disebabkan oleh:

  • Hiperventilasi, yang biasanya terjadi dengan kecemasan;
  • Demam tinggi;
  • Kekurangan oksigen;
  • Keracunan salisilat;
  • Berada di dataran tinggi;
  • Penyakit hati;
  • Penyakit paru-paru. 

2. Alkalosis Metabolik

Alkalosis metabolik berkembang ketika tubuh kehilangan terlalu banyak asam atau mendapatkan terlalu banyak basa. Kondisi ini dapat dikaitkan dengan:

  • Muntah berlebihan, yang menyebabkan kehilangan elektrolit;
  • Terlalu sering menggunakan diuretik;
  • Penyakit adrenal;
  • Kehilangan besar kalium atau natrium dalam waktu singkat;
  • Konsumsi antasida
  • Menelan bikarbonat secara tidak sengaja, yang dapat ditemukan dalam soda kue;
  • Obat pencahar;
  • Penyalahgunaan alkohol

3. Alkalosis Hipokloremik

Alkalosis hipokloremik terjadi ketika ada penurunan klorida yang signifikan dalam tubuh. Ini bisa disebabkan oleh muntah atau keringat yang berkepanjangan. Klorida adalah bahan kimia penting yang dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh, yang merupakan bagian penting dari cairan pencernaan tubuh.

4. Alkalosis Hipokalemia

Alkalosis hipokalemia terjadi ketika tubuh kekurangan jumlah mineral kalium yang normal. Seseorang biasanya mendapatkan kalium dari makanan, tetapi tidak cukup makan jarang menjadi penyebab kekurangan kalium. Penyakit ginjal, keringat berlebih, dan diare hanyalah beberapa cara seseorang bisa kehilangan terlalu banyak potasium. Kalium sangat penting untuk berfungsinya beberapa organ, seperti:

  • Jantung;
  • Ginjal;
  • Otot;
  • Sistem saraf;
  • Sistem pencernaan.

Gejala Alkalosis 

Ada dua tahapan gejala yang bisa terjadi saat seseorang mengidap alkalosis. Gejala ini dapat bervariasi dan pada tahap awal, gejalanya bisa berupa:

  • Mual;
  • Mati rasa;
  • Spasme otot yang berkepanjangan;
  • Otot berkedut;
  • Tangan gemetar.

Jika kondisi tidak segera diobati, gejala yang lebih parah dapat berkembang. Gejala-gejala ini dapat menyebabkan syok atau bahkan koma. Segera hubungi gawat darurat medis jika seseorang mengalami gejala seperti:

  • Pusing;
  • Sulit bernafas;
  • Kebingungan;
  • Pingsan;
  • Koma.

Baca juga: Ini 10 Kondisi Umum Penyebab Pasien Koma

Diagnosis Alkalosis 

Gejala kondisi ini bisa mirip kondisi penyakit lain. Jadi, sangat penting untuk tidak mencoba mendiagnosis sendiri. Buat janji dengan dokter untuk melakukan evaluasi kesehatan. Dokter akan menanyakan riwayat kesehatan dan gejala yang kamu alami. Mereka kemungkinan akan meminta pasien untuk melakukan tes yang akan mengesampingkan kondisi lain. Tes umum meliputi:

  • Urinalisis;
  • Tes tingkat pH urine;
  • Panel metabolisme dasar;
  • Analisis gas darah arteri.

Menurut American Association for Clinical Chemistry, tingkat pH darah normal adalah antara 7,35 dan 7,45. pH darah di atas 7,45 dapat mengindikasikan alkalosis.

Dokter mungkin juga ingin mengukur kadar karbon dioksida dan oksigen dalam darah untuk menyingkirkan masalah pernapasan. 

Komplikasi Alkalosis 

Komplikasi yang dapat terjadi jika kondisi alkalosis tidak mendapatkan penanganan, yaitu:

  • Gangguan irama jantung (jantung berdegup terlalu cepat, terlalu lambat, atau bahkan tidak teratur).
  • Koma, tidak sadarkan diri.
  • Ketidakseimbangan elektrolit (seperti rendahnya kadar natrium).

Pengobatan Alkalosis 

Rencana pengobatan untuk alkalosis akan tergantung pada penyebabnya. Tingkat karbon dioksida perlu kembali normal jika seseorang mengalami alkalosis respiratorik. Namun, jika seseorang memiliki pernapasan cepat yang disebabkan oleh kecemasan, mengambil napas dalam-dalam yang lambat seringkali dapat memperbaiki gejala dan mengatur kadar oksigen. Sementara jika tes mengungkapkan bahwa seseorang memiliki tingkat oksigen yang rendah, ia harus menerima oksigen tambahan melalui masker.

Jika pernapasan cepat disebabkan oleh rasa sakit, maka mengobati rasa sakit akan membantu mengembalikan laju pernapasan menjadi normal dan memperbaiki gejala. Jika alkalosis disebabkan oleh hilangnya bahan kimia seperti klorida atau kalium, maka ia akan diberi resep obat atau suplemen untuk menggantikan bahan kimia ini.

Beberapa kasus alkalosis disebabkan oleh ketidakseimbangan elektrolit, yang dapat diperbaiki dengan minum banyak cairan atau minuman yang mengandung elektrolit. Jika seseorang memiliki kasus ketidakseimbangan elektrolit lanjut, ia perlu dirawat di rumah sakit. Kebanyakan orang sembuh dari alkalosis setelah mereka menerima pengobatan. 

Pencegahan Alkalosis 

Kurangi risiko untuk mengembangkan kondisi ini dengan menjaga kesehatan yang baik, makan-makanan yang sehat, dan tetap terhidrasi. Memilih makanan tinggi nutrisi dan kalium dapat membantu memerangi kekurangan elektrolit. Nutrisi dan kalium terutama ditemukan dalam buah-buahan dan sayuran, serta beberapa makanan lain, seperti:

  • Wortel;
  • Pisang;
  • Susu;
  • Kacang polong;
  • Bayam.

Sementara itu, langkah-langkah yang dapat kamu lakukan untuk mencegah dehidrasi antara lain:

  • Minum air putih 8–10 gelas per hari.
  • Minum air putih sebelum, selama, dan setelah berolahraga.
  • Menggunakan minuman pengganti elektrolit untuk latihan intensitas tinggi.
  • Menghindari soda atau jus yang memiliki kandungan gula tinggi dan dapat memperburuk dehidrasi.
  • Membatasi kafein, yang ditemukan dalam soda, teh, dan kopi.

Penting untuk diingat bahwa kamu sudah mengalami dehidrasi jika sudah merasa haus. Dehidrasi juga dapat terjadi dengan cepat jika kamu kehilangan banyak elektrolit. Ini bisa terjadi ketika kamu muntah karena flu. Jika kamu tidak dapat menyimpan makanan kaya kalium di perut, pastikan untuk tetap minum cukup cairan, seperti air, minuman olahraga, dan sup kaldu.

Baca juga: Kapan Dehidrasi Perlu Mendapatkan Pertolongan Dokter?

Kapan Harus ke Dokter?

Segera kunjungi dokter apabila mengalami gejala seperti hilang atau menurunnya kesadaran, perburukan gejala dari alkalosis, kejang, dan kesulitan bernapas yang sangat berat. Untuk melakukan pemeriksaan, kamu bisa langsung buat janji dengan dokter pilihan di rumah sakit sesuai domisili kamu melalui Halodoc. Tunggu apa lagi, yuk download aplikasi Halodoc sekarang!

This image has an empty alt attribute; its file name is Banner_Web_Artikel-01.jpeg

Referensi:
Cleveland Clinic. Diakses pada 2021. Metabolic Alkalosis.
Healthline. Diakses pada 2021. Alkalosis.
MSD Manuals. Diakses pada 2021. Alkalosis.

Diperbarui pada 30 November 2021.