• Beranda
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Altitude Sickness
  • Beranda
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Altitude Sickness

Altitude Sickness

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
altitude sicknessaltitude sickness

Pengertian Altitude Sickness

Altitude Sickness kadang-kadang disebut sebagai “penyakit gunung”. Pasalnya, penyakit ini menyerang jika seseorang tengah mendaki gunung atau sedang berada di daerah ketinggian.  Gejala dapat terjadi ketika tubuh mencoba menyesuaikan diri dengan tekanan udara yang lebih rendah dan kadar oksigen yang lebih rendah di ketinggian.

Penyebab Altitude Sickness

Penyebab kondisi ini adalah tekanan udara di sekitar yang disebut dengan tekanan barometrik atau atmosfer. Ketika kamu pergi ke ketinggian yang lebih tinggi, tekanan ini turun dan ada lebih sedikit oksigen yang tersedia.

Jika kamu memang tinggal di tempat yang terletak di ketinggian yang cukup tinggi, tubuh sudah pasti akan terbiasa dan telah beradaptasi dengan tekanan udara. Akan tetapi, jika kamu baru bepergian ke tempat yang lebih tinggi dari biasanya, tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tekanan.

Setiap kali kamu naik di atas 2500 mdpl, kamu bisa berisiko terkena altitude sickness. 

Faktor Risiko Altitude Sickness

Siapapun bisa mengalami kondisi ini. Usia, jenis kelamin, dan kesehatan pada umumnya tidak memengaruhi risiko mengalami altitude sickness. Namun, kamu mungkin berisiko lebih tinggi mengalami kondisi ini jika: 

  • Memiliki masalah kesehatan paru-paru atau jantung di mana dokter mungkin merekomendasikan untuk menghindari ketinggian jika memungkinkan.
  • Sedang hamil.
  • Tinggal di ketinggian rendah dan tubuh tidak terbiasa dengan ketinggian.

Gejala Altitude Sickness

Gejalanya bisa berbeda-beda, mulai dari yang umum seperti mual dan pusing, sampai spesifik. Gejala penyakit ketinggian ringan biasanya mulai 12-24 jam setelah tiba di ketinggian dan akan berkurang dalam satu atau dua hari saat tubuh berhasil menyesuaikan diri.

Gejala-gejalanya termasuk:

  • Pusing.
  • Kelelahan dan kehilangan energi.
  • Sesak napas.
  • Kehilangan selera makan.
  • Mengalami masalah tidur.

Gejala penyakit ketinggian sedang lebih intens dan memburuk alih-alih membaik seiring waktu, yaitu:

  • Kelelahan yang memburuk,  kelemahan dan sesak napas.
  • Masalah koordinasi dan kesulitan berjalan.
  • Sakit kepala parah, mual dan muntah.
  • Dada sesak.
  • Kesulitan melakukan aktivitas rutin, meskipun mungkin masih dapat berjalan secara mandiri.

Penyakit ketinggian yang parah adalah keadaan darurat. Adapun gejalanya adalah: 

  • Sesak napas, bahkan saat istirahat.
  • Ketidakmampuan untuk berjalan.
  • Kebingungan.
  • Penumpukan cairan di paru-paru atau otak.

HAPE (high-altitude pulmonary edema), ketika cairan menumpuk di paru-paru yang mencegah oksigen bergerak ke seluruh tubuh. Gejalanya meliputi:

  • Sianosis, ketika kulit, kuku, atau bagian putih mata mulai membiru.
  • Kebingungan dan perilaku irasional.
  • Sesak napas bahkan saat istirahat.
  • Sesak di dada.
  • Kelelahan dan kelemahan yang ekstrim.
  • Merasa seperti tercekik di malam hari.
  • Batuk terus-menerus, mengeluarkan cairan putih dan encer.

HACE (High-altitude cerebral edema) terjadi ketika jaringan otak mulai membengkak karena cairan yang bocor. Gejalanya meliputi:

  • Sakit kepala.
  • Kehilangan koordinasi.
  • Kelemahan.
  • Disorientasi, kehilangan memori, halusinasi.
  • Perilaku psikotik.
  • Koma.

Diagnosis Altitude Sickness

Jika kamu mengalami sakit kepala dan setidaknya satu gejala lain dalam kurun waktu 24-48 jam, kemungkinan besar ini adalah penyakit ketinggian. Jika kamu mendaki bersama pendaki yang lebih berpengalaman, mereka mungkin mengenali gejala penyakit ini dan akan memandu kamu untuk mendapatkan bantuan. 

Jika kamu mengalami penyakit ketinggian yang parah, profesional medis akan menanyakan gejala secara detail, aktivitas, dan lokasi. 

Pengobatan Altitude Sickness

Perawatan utama untuk penyakit ini adalah pindah ke ketinggian yang lebih rendah secepat dan seaman mungkin. Atau paling tidak, jangan naik lebih tinggi. Jika gejalanya ringan, tetap pada ketinggian saat ini selama beberapa hari untuk memperbaiki gejalanya.

Sedangkan perawatan lain tergantung pada seberapa parah gejalanya. Untuk penyakit ketinggian ringan, obat-obatan yang dijual bebas dapat meredakan sakit kepala. Gejala lain akan membaik setelah tubuh beradaptasi atau pindah ke dataran yang lebih rendah.

Untuk penyakit ketinggian sedang, gejala akan membaik dalam 24 jam setelah berada di 2500 mdpl lebih rendah dari sebelumnya. Dalam tiga hari, kamu akan merasa benar-benar lebih baik.

Penyakit ketinggian yang parah, HACE dan HAPE, kamu harus segera dibawa ke ketinggian yang tidak lebih tinggi dari 2000 mdpl. Dapatkan ke penyedia layanan kesehatan sesegera mungkin dan membutuhkan rawat inap. 

Komplikasi Altitude Sickness

HAPE sudah bisa disebut sebagai komplikasi, ketika terjadi adalah penumpukan cairan di paru-paru yang bisa sangat berbahaya dan bahkan mengancam jiwa. Ini adalah penyebab kematian paling umum dari altitude sickness

Pencegahan Altitude Sickness

Cara terbaik untuk menurunkan kemungkinan terkena altitude sickness adalah melalui aklimatisasi. Itu berarti kamu membiarkan tubuh perlahan-lahan terbiasa dengan perubahan tekanan udara saat melakukan perjalanan ke tempat yang lebih tinggi.

Berjalan perlahan membantu paru-paru mendapatkan lebih banyak udara melalui napas yang lebih dalam dan memungkinkan lebih banyak sel darah merah membawa oksigen ke seluruh tubuh. 

Kapan Harus ke Dokter?

Kamu perlu mendapatkan bantuan medis bila gejala tidak kunjung hilang. Informasi selengkapnya mengenai altitude sickness bisa kamu dapatkan dengan bertanya langsung ke dokter dengan menggunakan aplikasi Halodoc. Segera download aplikasi Halodoc untuk mendapatkan update mengenai isu kesehatan lainnya. 

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2022. Altitude Sickness: What to Know.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. Altitude Sickness.