• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Cat Scratch Disease

Cat Scratch Disease

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Cat Scratch Disease

Pengertian Cat Scratch Disease

Cat Scratch Disease (CSD) adalah salah satu penyakit yang menyerang manusia yang berkaitan dengan cakaran (scratch), gigitan (bite) dan jilatan dari kucing di mana proses tersebut dapat menyebabkan CSD. Gangguan ini dikenal juga dengan limfadenitis regional subakut, infeksi bakteri yang mempengaruhi kelenjar getah bening yang mengalirkan tempat inokulasi.

Sekitar 3-14 hari setelah kulit rusak, infeksi ringan dapat terjadi di lokasi tempat luka terjadi akibat goresan, gigitan, atau jilatan tadi. Area yang terinfeksi dapat terlihat bengkak dan memerah dengan lesi bulat yang menonjol atau bahkan memiliki nanah. Jika kamu mengalami masalah ini, ada baiknya segera mendapatkan pemeriksaan dari dokter.

 

Gejala Cat Scratch Disease

Gejala awal dapat berupa munculnya papula (benjolan) berukuran kecil akan terlihat selama beberapa hari setelah kejadian dicakar atau digigit. Benjolan tersebut dinamakan “inoculation lesion”, yaitu ketika terdapat luka tempat bakteri akan masuk ke dalam tubuh. Benjolan yang terjadi di kelenjar getah bening terlihat seperti gigitan serangga dan setelah beberapa lama dapat membengkak dan melunak.

Pembengkakan pada kelenjar getah bening ini paling sering ditemukan pada area ketiak atau leher. Ukurannya sekitar 2-5 sentimeter dalam diameter dan mungkin diikuti dengan pembengkakan yang lebih besar di bawah kulit. Area kulit yang membengkak ini juga terasa hangat dan berwarna merah.

Lymphadenopathy atau pembengkakan pada kelenjar getah bening, khususnya di ketiak, kepala dan leher, muncul sekitar 1-3 minggu setelah kejadian cakaran. Pembengkakan ini biasanya hilang dalam waktu 2 sampai 4 bulan, atau bahkan lebih lama. Beberapa gejala lainnya, seperti sakit kepala, sakit pada persendian, lemah, kurang nafsu makan dan gejala flu dapat bertahan beberapa minggu. 

Gejala lainnya dari cat scratch disease meliputi:

  • Kelelahan.
  • Sakit kepala.
  • Demam ringan dengan suhu 37°C tetapi di bawah 38°C.
  • Tubuh yang pegal-pegal.

Gejala cat scratch disease yang kurang umum meliputi:

  • Kehilangan selera makan.
  • Penurunan berat badan.
  • Sakit tenggorokan.

 

Penyebab Cat Scratch Disease

Penyebab penyakit ini adalah bakteri Bartonella henselae dan mikroorganisme ini dapat ditemukan di seluruh dunia. Bakteri ini hidup di air liur kucing yang terinfeksi, tetapi tidak menimbulkan hewan peliharaan kamu sakit. Kebanyakan kasus disebabkan dari anak kucing (kitten), tetapi kucing dewasa (adult) juga dapat menjadi penyebab penyakit ini.

Faktanya, anak kucing atau kucing dewasa dapat membawa bakteri selama berbulan-bulan. Selain itu, kutu juga dapat menyebarkan bakteri di antara kucing. Seseorang bisa terkena penyakit ini jika kucing yang terinfeksi menjilat luka pada tubuh kamu yang terbuka atau menyentuh bagian putih di mata. Perlu diketahui juga, kamu tidak bisa mengidap cat scratch disease dari manusia lain.

 

Diagnosis Cat Scratch Disease

Dokter umumnya melakukan diagnosis terhadap cat scratch disease berdasarkan pemeriksaan dan menanyakan jika memelihara kucing atau kerap berinteraksi dengan hewan ini. Selama pemeriksaan, dokter perlu melihat tanda-tanda cakaran atau gigitan dari kucing serta gejala yang sering terjadi, yaitu pembengkakan kelenjar getah bening.

Selain dari anamnesis dan gejala, diagnosa cat scratch disease dapat ditegakkan melalui pemeriksaan darah ataupun biopsi (pengambilan sampel) dari kelenjar getah bening yang berkaitan. Pemeriksaan darah ini dapat melalui metode polymerase chain reaction (PCR) untuk mendeteksi bakteri B. henselae di dalam tubuh.

 

Pencegahan Cat Scratch Disease

Pencegahan dapat dimulai dengan berhati-hati terhadap kucing liar dan melakukan vaksinasi pada hewan peliharaan. Jika kamu khawatir dengan penyakit ini, sebab penyakit tidak umum dan biasanya menimbulkan masalah yang ringan. Beberapa langkah yang dapat membantu untuk melindungi kamu, terutama anak-anak, antara lain:

  • Hindari permainan yang kasar saat bermain dengan kucing agar tidak tergores atau digigit.
  • Cuci tangan setelah memegang kucing.
  • Rutin untuk memandikan kucing agar terhindar dari kutu.
  • Jika alami goresan oleh hewan, cuci area tersebut dengan sabun dan air.

 

Penanganan Cat Scratch Disease

Penanganan awal jika terkena gigitan dan/atau cakaran dari kucing segeralah cuci dan lakukan disinfeksi luka. Pada orang yang sehat, cat scratch disease dapat sembuh sendiri tanpa adanya rawatan dan pengobatan. Namun, tetap lebih baik dilakukan perawatan luka. Untuk meredakan rasa sakit, kamu bisa mengonsumsi asetaminofen atau ibuprofen agar masalahnya dapat teratasi. Pastikan juga berhati-hati setiap berinteraksi dengan kucing agar tidak terkena cakaran.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika terkena cakaran atau gigitan kucing yang semakin memburuk atau disertai gejala seperti di atas, segeralah periksakan diri ke dokter. Untuk melakukan pemeriksaan, kamu bisa langsung membuat janji dengan dokter pilihan dari Halodoc di mana saja dan kapan saja. Maka dari itu, download aplikasi Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2022. Cat Scratch Disease.
Healthline. Diakses pada 2022. Cat Scratch Fever.
Kids Health. Diakses pada 2022. Cat Scratch Disease.