Crush Injury

Pengertian Crush Injury

Crush injury adalah cedera yang mengakibatkan remuknya bagian tubuh tertentu (seperti tulang, otot, atau bahkan organ dalam) karena terhimpit atau mendapat tekanan yang besar dari benda berat. Crush injury dapat berupa luka robek, patah tulang tertutup dan terbuka (bagian tulang keluar menembus kulit), amputasi traumatis (terpotongnya bagian tubuh tertentu), memar (akibat kerusakan otot). Pada kasus crush injury berat perlu penanganan medis yang cepat, dalam beberapa menit sampai beberapa jam, karena apabila terlambat dapat menyebabkan komplikasi bahkan kematian.

 

Gejala Crush Injury

Gejala dari cedera ini tergantung dari lokasi cedera pada tubuh bagian mana. Umumnya gejalanya dapat berupa

  • Nyeri hebat pada daerah yang cedera
  • Memar yang disebabkan karena rusaknya otot
  • Luka terbuka
  • Mati rasa pada bagian tubuh yang mengalami cedera atau bagian tubuh dibawah letak cedera
  • Penurunan kesadaran, mulai dari mengantuk hingga tidak sadar
  • Perdarahan
  • Patah tulang dapat terbuka maupun tertutup

Beberapa komplikasi yang sering terjadi akibat crush injury, meliputi:

Crush Syndrome, yaitu keadaan klinis yang disebabkan kerusakan otot hebat sehingga otot mengeluarkan mioglobin dalam jumlah besar. Pelepasan mioglobin ke dalam darah menimbulkan syok, gagal ginjal, dan urine berwarna kuning kehitaman. Kondisi ini terjadi akibat crush injury pada otot, tersering paha dan betis.

Sindrom Kompartemen, terjadi akibat tekanan dalam ruang yang dibatasi fascia (selaput pembungkus otot) dan tulang tinggi akibat pembengkakan otot hebat sehingga menekan pembuluh darah dan saraf sekitarnya akhirnya tidak mendapatkan suplai darah cukup sehingga menyebabkan kerusakan dan kematian otot dan syaraf. Sindrom ini ditandai dengan nyeri yang semakin hebat, pembengkakan semakin membesar hingga kulit tegang, mati rasa pada daerah pembengkakan sampai kebagian bawahnya. Biasanya daerah yang sering terkena adalah tungkai bawah, lengan bawah, paha, dan daerah gluteal (bokong).

Syok Hipovolemik, terjadi karena cedera mengakibatkan perdarahan hebat dan penanganan terlambat. Kekurangan darah dalam jumlah banyak dapat menyebabkan volume darah dalam sirkulasi darah menurun, jantung kekurangan pasokan oksigen dan pada akhirnya kontraksi jantung akan melemah mengakibatkan tekanan darah yang sangat rendah atau bahkan tidak teraba. Hal ini dapat mengancam nyawa. Kasus seperti ini biasanya terjadi akibat crush injury yang menimbulkan luka robek pada pembuluh darah atau terputusnya pembuluh darah dan pada amputasi traumatis tangan atau kaki.

Gagal Ginjal Akut, terjadi akibat ginjal keracunan mioglobin karena kerusakan otot hebat atau perdarahan hebat. Biasanya hal ini terjadi karena crush syndrome, penanganan yang terlambat dari crush injury pada otot atau luka terbuka dengan perdarahan hebat.

 

Penyebab Crush Injury

Crush Injury disebabkan oleh:

  • Kecelakaan kendaraan bermotor, biasanya dengan kecepatan tinggi, seperti motor, mobil, kereta, dan pesawat.
  • Bencana alam, seperti gempa bumi, tsunami, tanah longsor
  • Kecelakaan kerja, misalnya jari tangan atau kaki terjepit mesin atau alat-alat berat saat bekerja, terjatuh dari ketinggian pada pekerja konstruksi bangunan
  • Ledakan, seperti orang yang terkena ledakan bom atau gas meledak
  • Anggota tubuh tertimpa benda berat, terutama kaki dan jari kaki

 

Faktor Risiko Crush Injury

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan seseorang dapat mengalami crush injury yaitu orang yang memiliki risiko trauma yang besar, misalnya pada pekerja konstruksi, pekerja yang mengoperasikan mesin-mesin berat, dan pengendara kendaraan bermotor.

 

Diagnosis Crush Injury

Setiap orang dengan trauma, dokter harus selalu memeriksa adakah kegawatdaruratan yang mengancam nyawa. Setelah dipastikan kegawatdaruratannya telah teratasi atau dipastikan tidak ada kondisi gawat darurat yang mengancam nyawa, maka dokter baru menanyakan dengan jelas riwayat trauma yang dialami, kemudian melakukan pemeriksaan fisik pada seluruh bagian tubuh dan tempat cedera, lalu baru menentukan pemeriksaan penunjang untuk diagnosis dan penanganan selanjutnya.

Jika mengalami luka terbuka atau perdarahan, pemeriksaan laboratorium darah harus segera dilakukan. Pemeriksaan urine dapat membantu pada pengidap dengan kecurigaan crush syndrome. Kemudian pemeriksaan pencitraan seperti foto rontgen, CT Scan, atau MRI dilakukan sesuai kebutuhan pada lokasi tubuh yang mengalami cedera. Biasanya sebagai panduan untuk tindakan operasi.

 

Pencegahan Crush Injury

Upaya pencegahan agar seseorang terhindar dari crush injury yaitu meminimalisir risiko trauma, seperti

  • Selalu memperhatikan keselamatan dalam berkendara dan bekerja
  • Memakai alat perlindungan diri dalam bekerja dan berkendara
  • Hindari penggunaan alkohol sebelum berkendara dan mengoperasikan mesin

 

Pengobatan Crush Injury

Penanganan awal dari semua pengidap trauma, termasuk crush injury adalah menentukan ada atau tidaknya kondisi kegawatdaruratan yang mengancam nyawa. Empat langkah awal yang dilakukan :

Pertama jalan nafas, dokter akan memastikan jalan nafas lancar dilihat dari pengidap dapat berbicara, tidak mengorok. Jika mengorok artinya ada sumbatan dalam jalan nafasnya yang dapat mengancam nyawanya.

Kedua, pernapasan, dokter akan memastikan pengidap bernapas dengan melihat dinding dada dan perut yang bergerak secara normal, tidak terlihat sesak, atau pergerakan dinding dada tidak seimbang karena patah beberapa tulang iga.

Ketiga, sirkulasi darah, dokter akan memastikan denyut nadi normal, tidak lemah dan apabila ada perdarahan, menghentikan perdarahan, kemudian memasang jalur intravena atau infus.

Keempat, evaluasi neurologi (saraf), dokter akan melakukan pemeriksaan meliputi tingkat kesadaran pengidap dan fungsi saraf tertentu, seperti ada atau tidaknya kelumpuhan.

Setelah dipastikan tidak ada kegawatdaruratan atau kondisi gawat darurat telah ditangani kemudian pemeriksaan fisik lengkap dan penanganan spesifik tergantung lokasi cedera, misal pemasangan bidai sementara pada patah tulang tertutup. Kebanyakan kasus-kasus crush injury membutuhkan tindakan operasi, seperti pemasangan pen pada patah tulang multiple (lebih dari satu), debridement (membersihkan luka dan membuang jaringan mati) pada luka robek besar dan kotor dan amputasi pada kasus amputasi traumatis (bagian tubuh terpotong karena trauma).

Jika ditemukan adanya sindrom kompartemen akibat crush injury, maka dilakukan fasciotomy, yaitu prosedur pembedahan dengan memotong selaput pembungkus otot (fascia) agar tegangan atau tekanan pada saraf dan pembuluh darah berkurang, sehingga jaringan di bawah lokasi cedera mendapatkan suplai oksigen yang cukup.

Sebelum atau setelah operasi akan diberikan beberapa jenis obat, yaitu antinyeri golongan kuat, untuk meredakan nyeri akibat cedera dan antibiotik, untuk mencegah infeksi bakteri, terutama pada luka terbuka. Semua obat-obatan ini biasanya diberikan lewat jalur intravena atau suntikan.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Sebaiknya periksakan langsung ke dokter setelah mengalami trauma seperti yang disebutkan diatas, karena mungkin hanya terlihat seperti memar di kulit, tapi mungkin bisa saja telah terjadi kerusakan otot, saraf, ataupun tulang. Untuk melakukan pemeriksaan, kamu bisa langsung membuat janji dengan dokter di rumah sakit yang kamu inginkan di sini.