• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Demam Rematik

Demam Rematik

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Demam Rematik

Pengertian Demam Rematik

Demam rematik merupakan komplikasi dari radang tenggorokan yang disebabkan oleh infeksi bakteri Streptococcus grup A. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, terlebih pada anak berusia 5-15 tahun akibat sistem kekebalan tubuh salah mengenali jaringan sehat sebagai musuh.

Penyakit ini dapat menyerang jantung, persendian, otak, dan kulit. Demam rematik dapat berkembang jika radang tenggorokan dan infeksi demam berdarah tidak diobati dengan tepat. Diagnosis dini dan pengobatan dengan antibiotik adalah kunci untuk mencegah demam rematik.

Gejala Demam Rematik

Gejala demam rematik umumnya dirasakan 2 hingga 4 minggu setelah radang tenggorokan akibat infeksi bakteri Streptococcus grup A yang tidak tertangani. Gejalanya sendiri bervariasi. Berikut ini gejala demam rematik yang diakibatkan oleh peradangan pada jantung, persendian, kulit, atau sistem saraf pusat:

  • Demam.
  • Sendi terasa nyeri. Umumnya dialami pada sendi lutut, pergelangan kaki, siku, dan pergelangan tangan.
  • Nyeri pada satu sendi yang berpindah ke sendi lain.
  • Sendi memerah, terasa panas, atau membengkak.
  • Muncul benjolan kecil tanpa rasa sakit di bawah kulit.
  • Sakit pada bagian dada.
  • Bising pada organ jantung.
  • Kelelahan,
  • Ruam datar, tidak nyeri dengan tepi yang tidak rata pada kulit.
  • Gerakan tubuh yang tersentak-sentak dan tidak terkendali. Kondisi ini paling sering dialami pada tangan, kaki, dan wajah.
  • Melakukan perilaku yang tidak biasa, seperti menangis atau tertawa terbahak-bahak.

Penyebab Demam Rematik

Demam rematik dapat terjadi akibat komplikasi dari radang tenggorokan yang tidak tertangani dengan baik akibat infeksi bakteri Streptococcus grup A. Saat tubuh terinfeksi oleh bakteri, sistem kekebalan tubuh akan memproduksi antibodi untuk melawan bakteri yang masuk. 

Namun, pada tubuh pengidap, antibodi justru berbalik menyerang jaringan tubuh yang sehat, terutama pada jantung, sendi, kulit, otak, dan tulang belakang. Kondisi ini diduga terjadi akibat adanya kemiripan antara protein pada bakteri Streptococcus grup A dengan protein pada jaringan tubuh. Hal tersebut membuat sistem kekebalan tubuh salah mengenali jaringan tubuh sebagai musuh yang berbahaya.

Faktor Risiko Demam Rematik

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya demam rematik, antara lain:

  • Sejarah keluarga. Beberapa orang membawa gen yang mungkin membuat mereka lebih rentan mengembangkan penyakit.
  • Jenis bakteri Streptococcus. Strain bakteri Streptococcus tertentu lebih berkontribusi terhadap demam rematik daripada strain lainnya.
  • Faktor lingkungan. Risiko penyakit lebih besar dialami oleh seseorang yang tinggal di lingkungan padat penduduk, memiliki sanitasi yang buruk, dan kondisi lain yang meningkatkan penularan atau paparan berulang terhadap bakteri Streptococcus.

Diagnosis Demam Rematik

Dokter akan mendiagnosis penyakit dengan wawancara medis lengkap terkait dengan perjalanan gejala yang dirasakan pengidap, serta riwayat radang tenggorokan sebelumnya. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh.

Selanjutnya, pemeriksaan diikuti dengan penunjang guna mendukung diagnosis yang telah ditentukan. Beberapa pemeriksaan penunjang tersebut, termasuk:

  • Pemeriksaan ASTO, yaitu suatu pemeriksaan darah untuk mengukur kadar antibodi terhadap streptolisin O, yaitu suatu zat yang dihasilkan oleh bakteri Streptococcus grup A.
  • Elektrodiagram (EKG) atau rekam jantung, yang bertujuan untuk menilai adanya gangguan irama jantung.
  • Echocardiografi (USG jantung), yang bertujuan untuk melihat gangguan fungsi jantung dalam memompa darah.

Komplikasi Demam Rematik

Peradangan yang disebabkan oleh demam rematik dapat berlangsung beberapa minggu hingga beberapa bulan. Dalam beberapa kasus, peradangan menyebabkan komplikasi jangka panjang, seperti kerusakan permanen pada jantung (penyakit jantung rematik).

Kondisi tersebut biasanya terjadi 10 hingga 20 tahun setelah penyakit asli. Dalam kasus yang parah, penyakit dapat menyebabkan kerusakan pada katup jantung saat anak masih memiliki gejala. Masalah paling umum terjadi pada katup antara dua bilik kiri jantung (katup mitral).

Kerusakan tersebut dapat mengakibatkan:

  • Penyempitan katup, yang dapat mengurangi aliran darah ke seluruh tubuh.
  • Kebocoran di katup, yang menyebabkan darah mengalir ke arah yang salah.
  • Kerusakan otot jantung, yang dapat melemahkan otot jantung, sehingga memengaruhi kemampuannya untuk memompa darah.

Kerusakan pada katup mitral, katup jantung lain, atau jaringan jantung lainnya dapat menyebabkan masalah pada jantung di kemudian hari. Tersebut mencakup fibrilasi atrium atau detak jantung tidak teratur, dan gagal jantung.

Pengobatan Demam Rematik

Tujuan dari pengobatan demam rematik adalah untuk meredakan gejala dan mencegah kekambuhan penyakit. Beberapa obat-obatan yang akan diberikan dokter, antara lain:

  1. Antibiotik

Obat antibiotik yang umum diberikan dokter adalah dari golongan penisilin dan diberikan secara suntikan intravena. Penisilin akan diberikan setiap 28 hari, minimal selama 10 tahun atau hingga anak berusia 21 tahun. Jika anak mengalami kerusakan pada katup jantung, suntikan penisilin akan diberikan dalam jangka waktu yang lebih lama. 

Hindari penghentian pengobatan ini tanpa persetujuan dokter, karena dapat menyebabkan kekambuhan demam rematik serta kerusakan katup jantung yang lebih luas dan berat.

  1. Antiinflamasi

Obat antiradang yang umum diberikan dokter adalah dari golongan aintiinflamasi non-steroid, seperti aspirin atau ibuprofen. Obat ini diberikan untuk meredakan demam, nyeri, dan peradangan. Jika dengan pemberian obat antiinflamasi nonsteroid gejala tidak membaik, dokter dapat memberikan obat dari golongan kortikosteroid.

  1. Antikonvulsan

Obat antikejang ini dapat diberikan jika pengidap mengalami kejang. Obat antikonvulsan yang dapat diberikan, antara lain carbamazepine atau asam valproat.

Pencegahan Demam Rematik

Pernah mengalami infeksi Streptococcus grup A sebelumnya bukan jaminan seseorang tidak akan terinfeksi kembali di masa depan. Seseorang berisiko terkena demam rematik lebih dari satu kali. Namun, ada hal-hal yang dapat dilakukan untuk melindungi diri dari serangan infeksi Streptococcus grup A. 

Berikut ini beberapa upaya pencegahan yang dapat dilakukan:

  • Membiasakan mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun.
  • Menggunakan masker saat bepergian keluar rumah dan berinteraksi dengan pengidap influenza atau radang tenggorokan.
  • Jangan menggunakan alat makan dan minum bersamaan dengan orang lain.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu mengidap sakit tenggorokan yang datang tiba-tiba, ruam kemerahan pada kulit, pembengkakan amandel, sakit saat menelan, demam, dan sakit kepala, segera tanya dokter lewat aplikasi Halodoc untuk penanganan yang tepat. Penanganan dilakukan untuk menghindari komplikasi berupa demam rematik. 

Ingat, komplikasi jangka panjang, seperti kerusakan permanen pada jantung bisa menjadi salah komplikasi penyakit. Jadi, atasi penyakit dengan langkah yang tepat, ya! Jika kamu ingin mendapatkan informasi lainnya terkait dengan demam rematik, download Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2022. Rheumatic Fever: All You Need to Know.
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Rheumatic fever.
National Health Service. Diakses pada 2022. Rheumatic fever.