• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Dispraksia

Dispraksia

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Dispraksia

Pengertian Dispraksia

Dispraksia adalah gangguan umum yang memengaruhi gerakan dan koordinasi. Ini  juga dikenal sebagai gangguan koordinasi perkembangan. Namun, dispraksia tidak memengaruhi kecerdasan seseorang.

Melainkan memengaruhi keterampilan koordinasi, seperti melakukan sesuatu yang membutuhkan keseimbangan, berolahraga, atau belajar mengemudikan mobil. Dispraksia juga dapat memengaruhi keterampilan motorik halus, seperti menulis atau menggunakan benda kecil.

Faktor Risiko Dispraksia 

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko dispraksia adalah:

  • Kelahiran prematur.
  • Berat bayi lahir rendah.
  • Riwayat keluarga dengan dispraksia.
  • Paparan alkohol atau obat narkotika saat kehamilan.

Penyebab Dispraksia 

Penyebab dispraksia masih belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini diduga terjadi akibat gangguan pada sel saraf seseorang yang mengontrol otot (neuron motorik). 

Jika neuron motorik tidak dapat membentuk koneksi yang tepat, untuk alasan apa pun, otak akan membutuhkan waktu lebih lama untuk memproses data. Inilah yang kemudian menjadi penyebab dispraksia.

Gejala Dispraksia 

Gejala dispraksia bergantung pada usia dari masing-masing individu. Jika bayi mengalami dispraksia, tonggak tumbuh kembangnya mungkin terlihat lambat, dibandingkan dengan anak-anak lain.

Saat anak tumbuh, ia mungkin juga mengalami keterlambatan dalam:

  • Merangkak.
  • Berjalan.
  • Potty training.
  • Makan sendiri.
  • Berpakaian sendiri.

Dispraksia membuat pengidapnya sulit untuk mengatur gerakan fisik. Misalnya, seorang anak mungkin ingin berjalan melintasi ruang tamu sambil membawa buku sekolah mereka. Namun, mereka tidak dapat melakukannya tanpa tersandung, menabrak sesuatu, atau menjatuhkan buku.

Tanda dan gejala lain mungkin termasuk:

  • Postur yang tidak biasa.
  • Kesulitan dengan keterampilan motorik halus yang memengaruhi menulis, karya seni, dan bermain dengan balok dan teka-teki.
  • Masalah koordinasi yang membuat sulit untuk melompat, melompat, atau menangkap bola.
  • Mengepakkan tangan, gelisah, atau mudah bersemangat.
  • Makan dan minum berantakan.
  • Mudah marah.

Pada orang dewasa, ada berbagai gejala yang dapat terjadi saat mengidap dispraksia, seperti:

  • Postur tidak normal.
  • Masalah keseimbangan dan gerakan, atau kelainan gaya berjalan.
  • Koordinasi tangan-mata yang buruk.
  • Kelelahan.
  • Kesulitan mempelajari keterampilan baru.
  • Masalah organisasi dan perencanaan.
  • Kesulitan menulis atau menggunakan keyboard.
  • Mengalami kesulitan dengan pekerjaan rumah tangga.
  • Kecanggungan sosial atau kurang percaya diri.

Dispraksia tidak ada hubungannya dengan kecerdasan. Jika kamu mengidap dispraksia, kamu mungkin lebih kuat di berbagai bidang, seperti kreativitas, motivasi, dan tekad. Gejala setiap orang berbeda-beda.

Komplikasi Dispraksia 

Dispraksia dapat menyebabkan beberapa komplikasi seperti:

  • Gangguan komunikasi. Terjadi apabila gangguan dispraksia disertai dengan keterlambatan bicara, sehingga anak menjadi sulit mengkomunikasikan ide atau gagasan sesuatu.
  • Gangguan perilaku dan emosi. Hal ini biasanya diakibatkan karena anak tidak dapat berperilaku dengan baik di sekolah atau di rumah. Mereka cenderung memiliki kecemasan untuk bersosialisasi dengan lingkungannya karena gangguan motorik yang dimiliki.
  • Gangguan akademis. Karena adanya gangguan dalam gerak halus, beberapa anak menjadi kesulitan untuk menulis dan mencatat pelajaran, sehingga hal tersebut menjadi hambatan dalam kemampuan akademis anak.

Diagnosis  

Diagnosis dispraksia dapat ditegakkan oleh dokter dengan melihat secara detail riwayat perkembangan anak, kemampuan intelektual, dan perkembangan gerak kasar dan gerak halus anak. 

Pemeriksaan terhadap kemampuan gerak kasar dan gerak halus anak dapat dilakukan untuk melihat sejauh mana perkembangan motorik anak. Berikut caranya:

  • Kemampuan gerak kasar. Mengetahui bagaimana anak dapat menggunakan otot besar untuk mengkoordinasikan gerakan tubuh, termasuk melompat, melempar, jalan, berlari, dan menjaga keseimbangan.
  • Kemampuan gerak halus. Mengetahui bagaimana anak dapat menggunakan otot yang lebih kecil untuk membuat sebuah gerakan, seperti memasukkan kancing, menggunting suatu bentuk, dan menulis.

Pengobatan 

Meskipun dispraksia tidak dapat disembuhkan, ada beberapa cara untuk meningkatkan kualitas motorik pengidapnya. Berikut pengobatan yang dapat diberikan kepada pengidap dispraksia:

  • Terapi okupasi. Dilakukan untuk melihat fungsi anak dalam kehidupan, baik di rumah maupun di sekolah. Terapi ini akan memfokuskan anak untuk dapat berperilaku dan melakukan kegiatan sehari-hari
  • Terapi wicara. Digunakan apabila terdapat keterlambatan bicara pada anak dengan dispraksia.
  • Bermain aktif. Merupakan sebuah terapi yang melibatkan fisik anak, dimana anak akan bermain secara aktif di dalam maupun luar ruangan. Hal ini diyakini dapat meningkatkan kemampuan dan koordinasi motorik anak.
  • Cognitive Behavioural Therapy (CBT). Dilakukan untuk melatih tingkah laku anak.

Pencegahan Dispraksia 

Dispraksia dapat dicegah dengan beberapa hal berikut:

  • Menghindari rokok, alkohol, dan obat narkotik saat kehamilan.
  • Memeriksakan kehamilan secara rutin.
  • Konseling genetik, apabila didapati riwayat keluarga dengan gangguan serupa.

Kapan Harus ke Dokter?

Orangtua yang mendapati anaknya memiliki gangguan dalam perkembangan motorik seperti pada gejala dispraksia, dapat segera berdiskusi dengan dokter spesialis tumbuh kembang anak. Hal ini agar anak mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. 

Untuk melakukan pemeriksaan, kamu bisa download Halodoc untuk membuat janji dengan dokter pilihan di rumah sakit favorit kamu.

Referensi:
NHS UK. Diakses pada 2022. Dyspraxia (Developmental Co-Ordination Disorder) In Adults.
Healthline. Diakses pada 2022. What Is Dyspraxia?
Medical News Today. Diakses pada 2022. What Is Dyspraxia?

Diperbarui pada 18 Maret 2022