Distonia

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Distonia

Distonia merupakan suatu kelainan pergerakan, ketika otot mengalami kontraksi yang tidak diinginkan, sehingga menyebabkan gerakan repetitif dan memutar. Kondisi ini dapat memengaruhi satu bagian tubuh (distonia fokal), dua atau lebih bagian yang berhubungan (distonia segmental), atau seluruh bagian tubuh (distonia general). Kontraksi otot (spasme) dapat ringan atau berat dan dapat mempengaruhi kinerja atau aktivitas seseorang.

 

Faktor Risiko Distonia

Terdapat beberapa faktor yang bisa memicu timbulnya distonia pada diri seseorang. Misalnya akibat:

  • Kondisi genetik tertentu.

  • Penyakit atau kondisi medis tertentu. Contohnya penyakit Wilson, Huntington, atau Parkinson.

  • Cedera otak traumatik.

  • Stroke.

  • Tumor otak atau kelainan otak yang disebabkan oleh kanker.

  • Kekurangan oksigen atau keracunan karbon monoksida.

  • Infeksi, seperti tuberkulosis atau ensefalitis.

  • Reaksi terhadap pengobatan tertentu.

Baca juga: Bisa Sebabkan Kebutaan, Inilah Komplikasi Akibat Distonia

 

Penyebab Distonia

Penyebab distonia belum diketahui dengan pasti. Perubahan komunikasi antar sel saraf pada bagian otak tertentu diduga menjadi pemicu utamanya. Selain itu, terdapat beberapa kondisi medis yang bisa memicu terjadinya penyakit ini, mulai dari stroke hingga penyakit penyakit Parkinson.

 

Gejala Distonia

Ketika seseorang mengalami distonia, gejalanya bisa muncul atau diawali di satu area tertentu. Contohnya pada bagian tungkai, leher, atau lengan. Distonia fokal yang timbul setelah usia 21 tahun umumnya berawal dari leher, lengan, atau wajah, dan bersifat fokal atau segmental. Beberapa gejala distonia, antara lain:

  • Timbul pada saat melakukan hal tertentu, seperti menulis.

  • Diperburuk oleh stres, kelelahan, atau rasa cemas.

  • Menjadi lebih terlihat seiring dengan berjalannya waktu.

Gejala distonia berdasarkan area yang terkena, antara lain:

  • Leher (distonia servikal), ditandai dengan kepala berputar ke satu sisi, bergerak ke depan dan ke belakang, dan terkadang menimbulkan rasa nyeri.

  • Kelopak mata, ditandai dengan berkedip dengan cepat atau spasme yang tidak disengaja yang dapat memengaruhi penglihatan.

  • Rahang atau lidah (distonia oromandibular), ditandai dengan berbicara kurang jelas, berliur, atau mengalami kesulitan mengunyah dan menelan.

  • Kotak suara dan pita suara, ditandai dengan suara yang terdengar seperti terjepit atau berbisik.

Baca juga: Pengidap Parkinson Berisiko Terkena Distonia, Benarkah?

Bagian tangan atau lengah bagian bawah. Gejala ini biasanya timbul ketika pengidapnya melakukan kegiatan repetiti. Contohnya seperti bermain alat musik atau menulis.

 

Diagnosis Distonia

Pada tahap awal, dokter akan melakukan wawancara medis seputar gejala dan riwayat kesehatan pasien. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik. Apabila diperlukan, dokter juga akan melakukan pemeriksaan penunjang, seperti:

  • Pemeriksaan darah atau urine, untuk menunjukkan adanya zat beracun atau kondisi kesehatan lain yang menjadi penyebab distonia.

  • Pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) atau Computerized Tomography (CT) Scan, untuk mengidentifikasi abnormalitas pada otak, seperti tumor, lesi, atau stroke.

  • Elektromiografi (EMG), untuk mengukur aktivitas listrik pada otot.

Baca juga: Bikin Susah Beraktivitas, Distonia Rentan Sebabkan Depresi

 

Komplikasi Distonia

Beberapa komplikasi dapat terjadi akibat distonia, antara lain:

  •  Keterbatasan gerak, sehingga kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

  •  Kesulitan menggerakan rahang, menelan, atau berbicara.

  •  Kelelahan dan rasa nyeri akibat kontraksi otot berlebihan.

  •  Kebutaan jika distonia menyerang kelopak mata.

  •  Masalah psikologis, seperti cemas, depresi, atau menarik diri dari lingkungan sosial.

 

Pengobatan Distonia

Untuk mengatasi distonia, dokter akan memberikan obat-obatan hingga fisioterapi. Berikut cara mengatasi distonia yag mungkin dilakukan dokter.

  • Suntikan Botox (botulinum toxin) yang bekerja dengan menghambat senyawa penyebab kekakuan/spasme otot agar tidak mencapai target otot sasaran.

  • Obat-obatan yang bekerja untuk menghambat sinyal-sinyal di otak yang memicu kekakuan otot, seperti levodopa (untuk mengontrol gerakan motorik dan obat pada penyakit Parkinson), obat antikolinergik (untuk menghambat kimia asetilkolin penyebab kejang otot), balcofen (untuk mengontrol kejang dan dapat diberikan pada pengidap lumpuh otak atau sklerosis ganda), diazepam (untuk menimbulkan efek relaksasi), tetrabenazine (untuk menghambat dopamin), dan clonazepam (untuk mengurangi gejala pergerakan otot yang berlebihan).

  • Fisioterapi, seperti pijat atau peregangan otot untuk meredakan nyeri otot, terapi bicara, terapi sensorik untuk mengurangi kontraksi otot, hingga latihan pernapasan dan yoga.

  • Operasi jika gejala tidak berhasil diatasi dengan pemberian obat-obatan, dilakukan dengan prosedur operasi stimulasi otak dalam dan operasi denervasi selektif.

 

Pencegahan Distonia

Hampir tidak mungkin dicegah bila distonia terjadi karena penyebab yang belum diketahui. Namun, untuk kasus distonia yang disebabkan kondisi medis tertentu, pencegahannya bisa dengan berolahraga secara teratur dan konsumsi makanan bergizi seimbang.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera hubungi dokter apabila merasakan gejala-gejala di atas. Penanganan yang tepat dapat meminimalisir akibat, sehingga pengobatan bisa lebih cepat dilakukan.

 Referensi:
NHS Choices UK. Diakses pada 2019. Health A-Z. Distonia.
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Diseases and Conditions. Distonia.

Diperbarui pada 5 September 2019