• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Distonia

Distonia

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
distonia-halodoc

Pengertian Distonia

Distonia adalah kondisi medis yang memengaruhi gerakan tubuh. Kondisi ini terjadi ketika otot-otot berkontraksi tanpa sadar sehingga menyebabkan gerakan berulang atau memutar. Kondisi ini dapat memengaruhi satu bagian tubuh (distonia fokal), dua atau lebih bagian yang berhubungan (distonia segmental), atau seluruh bagian tubuh (distonia general). Kontraksi otot (spasme) dapat ringan atau berat dan dapat mempengaruhi kinerja atau aktivitas seseorang.

Kondisi ini mungkin menyakitkan dan dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari. Sayangnya, tidak ada obat untuk mengatasi distonia. Namun, tersedia obat-obatan untuk memperbaiki gejalanya. Pada distonia parah, pembedahan terkadang juga bisa dilakukan untuk menonaktifkan atau mengatur ulang saraf atau daerah otak tertentu.

Penyebab Distonia

Penyebab pasti distonia belum diketahui tetapi kemungkinan melibatkan perubahan di area otak atau masalah komunikasi antara otak dan saraf. Distonia dapat diturunkan, didapat, atau idiopatik (tidak diketahui penyebabnya). 

Pada distonia kelainan bawaan diturunkan secara genetik. Sementara dalam bentuk yang didapat, distonia disebabkan oleh kerusakan atau degenerasi otak (misalnya setelah cedera otak atau stroke) atau konsumsi obat-obatan tertentu.

 Pada distonia idiopatik, tidak ada penyebab yang dapat diidentifikasi dan tidak ada kerusakan struktural atau degenerasi otak. Distonia sering kali disebabkan oleh kerusakan pada ganglia basalis. Kerusakan tersebut dapat diakibatkan oleh trauma otak, stroke, tumor, kekurangan oksigen, infeksi, reaksi obat sampai keracunan timbal atau karbon monoksida. 

Faktor Risiko Distonia

Terdapat beberapa faktor yang bisa memicu timbulnya distonia pada seseorang, seperti:

  • Kondisi genetik tertentu.
  • Penyakit atau kondisi medis tertentu. Contohnya, penyakit Wilson, Huntington, atau Parkinson.
  • Cedera otak traumatik.
  • Stroke.
  • Tumor otak atau kelainan otak yang disebabkan oleh kanker.
  • Kekurangan oksigen atau keracunan karbon monoksida.
  • Infeksi, seperti tuberkulosis atau ensefalitis.
  • Reaksi terhadap pengobatan tertentu.

Gejala Distonia

Distonia dapat dialami oleh semua usia, tetapi distonia genetik dan idiopatik umumnya muncul lebih dini, yaitu saat masa kanak-kanak. Distonia yang terjadi di usia dini biasanya dimulai dengan gejala pada tungkai dan dapat berkembang ke daerah lain. Beberapa gejala cenderung terjadi setelah beraktivitas seharian.

Pada orang dewasa, distonia biasanya terjadi di satu bagian tubuh yang berdekatan, paling sering melibatkan otot leher dan wajah. Kondisi ini dapat timbul saat melakukan aktivitas tertentu, seperti menulis atau berjalan. Nah, gejala bisa semakin memburuk saat seseorang stres, kelelahan, atau rasa cemas. Gejala ini kemudian semakin jelas seiring dengan berjalannya waktu. Gejala distonia berdasarkan area yang terkena, antara lain:

  • Leher (distonia servikal), ditandai dengan kepala berputar ke satu sisi, bergerak ke depan dan ke belakang, dan terkadang menimbulkan rasa nyeri.
  • Kelopak mata, ditandai dengan berkedip dengan cepat atau spasme yang tidak disengaja yang dapat memengaruhi penglihatan.
  • Rahang atau lidah (distonia oromandibular), ditandai dengan berbicara kurang jelas, berliur, atau mengalami kesulitan mengunyah dan menelan.
  • Kotak suara dan pita suara, ditandai dengan suara yang terdengar seperti terjepit atau berbisik.
  • Bagian tangan atau lengan bagian bawah. Gejala ini biasanya timbul ketika pengidapnya melakukan gerakan berulang. Contohnya seperti bermain alat musik atau menulis.

Diagnosis Distonia

Pada tahap awal, dokter akan melakukan wawancara medis seputar gejala dan riwayat kesehatan pasien. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik. Apabila diperlukan, dokter juga akan melakukan pemeriksaan penunjang, seperti:

  • Pemeriksaan darah atau urine, untuk menunjukkan adanya zat beracun atau kondisi kesehatan lain yang menjadi penyebab distonia.
  • Pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) atau Computerized Tomography (CT) Scan, untuk mengidentifikasi abnormalitas pada otak, seperti tumor, lesi, atau stroke.
  • Elektromiografi (EMG), untuk mengukur aktivitas listrik pada otot.

Pengobatan Distonia

Sampai saat ini, tidak ada obat yang mampu mengobati maupun memperlambat distonia. Namun, ada sejumlah perawatan yang dapat meringankan beberapa gejala distonia. Berikut beberapa pilihan pengobatan untuk meringankan gejala distonia:

1. Toksin botulinum

Suntikan botulinum adalah salah satu pengobatan yang dinilai paling efektif untuk meringankan distonia fokal. Botulinum diberikan melalui suntikan ke otot yang bermasalah untuk mencegah kontraksi otot dan memperbaiki gerakan abnormal. Efeknya biasanya terlihat beberapa hari setelah penyuntikan dan dapat bertahan selama beberapa bulan sebelum penyuntikan ulang.

2. Obat-obatan

Ada beberapa kelas obat yang mempengaruhi neurotransmiter untuk mengurangi dampak distonia. Obat-obatan ini diantaranya:

  • Agen antikolinergik yang mampu memblokir efek neurotransmitter asetilkolin. Obat-obatan dalam kelompok ini termasuk trihexyphenidyl dan benztropine. 
  • Agen GABAergik adalah obat yang mengatur neurotransmitter GABA. Obat-obatan ini termasuk benzodiazepin seperti diazepam, lorazepam, clonazepam, dan baclofen. 
  • Agen dopaminergik yang bekerja pada sistem dopamin dan neurotransmitter dopamin, untuk membantu mengontrol gerakan otot. 
  • Deep Brain Stimulation (DBS)

DBS atau stimulasi otak dalam biasanya lebih direkomendasikan pada pengidap distonia yang tidak terpengaruh oleh efek obat-obatan. DBS melibatkan pembedahan untuk menanamkan elektroda kecil yang terhubung ke generator pulsa ke daerah otak tertentu yang mengontrol gerakan. Jumlah listrik yang terkontrol kemudian dikirim ke wilayah otak untuk memblokir sinyal listrik yang menyebabkan gejala. 

  • Operasi

Prosedur ini dibutuhkan ketika distonia mengganggu jalur yang bertanggung jawab atas gerakan abnormal di berbagai tingkat sistem saraf. Operasi dilakukan untuk memotong saraf yang mengarah ke akar saraf jauh di leher dekat dengan sumsum tulang belakang atau menghilangkan saraf pada titik yang berkontraksi.

  • Terapi 

Terapi wicara atau terapi suara dapat membantu beberapa orang yang terkena distonia spasmodik. Terapi fisik, penggunaan bidai, manajemen stres, dan biofeedback juga dapat membantu individu dengan bentuk distonia tertentu.

Komplikasi Distonia

Distonia yang dibiarkan tanpa penanganan bisa menyebabkan beberapa komplikasi, antara lain:

  •  Keterbatasan gerak, sehingga kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
  •  Kesulitan menggerakan rahang, menelan, atau berbicara.
  •  Kelelahan dan rasa nyeri akibat kontraksi otot berlebihan.
  •  Kebutaan jika distonia menyerang kelopak mata.
  •  Masalah psikologis, seperti cemas, depresi, atau menarik diri dari lingkungan sosial.

Pencegahan Distonia

Hampir tidak mungkin dicegah bila distonia terjadi karena penyebab yang belum diketahui. Namun, untuk kasus distonia yang disebabkan kondisi medis tertentu, pencegahannya bisa dengan berolahraga secara teratur dan konsumsi makanan bergizi seimbang.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksakan diri ke dokter apabila merasakan gejala-gejala di atas. Penanganan yang tepat dapat meminimalkan risiko terjadinya komplikasi. Apabila kamu berencana memeriksakan diri, buat janji rumah sakit melalui aplikasi Halodoc supaya lebih mudah dan praktis. Jangan tunda sampai kondisinya memburuk, download Halodoc sekarang jug!

 Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Dystonia.
WebMD. Diakses pada 2022. Dystonia: Causes, Types, Symptoms, and Treatments.
National Institute of Neurogical Disorders and Stroke. Diakses pada 2022. Dystonia Fact Sheet.
American Association of Neurogical Surgeons. Diakses pada 2022. Dystonia.
NHS Choices UK. Diakses pada 2022. Health A-Z. Distonia.
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Diseases and Conditions. Distonia.
Diperbarui pada 16 Maret 2022.