Fibrilasi Ventrikel

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Fibrilasi Ventrikel

Fibrilasi ventrikel adalah masalah irama jantung yang terjadi ketika jantung berdetak dengan impuls listrik yang cepat dan tidak menentu. Hal ini mengakibatkan ruang pompa jantung hanya bergetar dan tidak memompa darah ke seluruh tubuh dengan baik.

 

Faktor Risiko Fibrilasi Ventrikel

Faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami fibrilasi ventrikel, antara lain:

  • Riwayat pernah mengalami episode fibrilasi ventrikel sebelumnya.

  • Riwayat penyakit jantung sebelumnya.

  • Kelainan jantung bawaan.

  • Kelainan otot jantung (kardiomiopati).

  • Cedera yang berpotensi menimbulkan kerusakan otot jantung, seperti tersengat listrik.

  • Penggunaan obat-obatan terlarang, seperti kokain atau metamfetamin.

  • Ketidakseimbangan elektrolit dalam tubuh, seperti magnesium atau kalium.

 

Penyebab Fibrilasi Ventrikel

Penyebab dari fibrilasi ventrikel tidak selalu diketahui. Salah satu penyebab tersering adalah gangguan arus listrik yang berlangsung di jantung setelah seseorang mengalami serangan jantung pada waktu sebelumnya. Selain itu, kondisi ini bisa juga terjadi karena masalah lain yang menyebabkan pembentukan jaringan parut pada otot jantung akibat serangan jantung sebelumnya.

Fibrilasi ventrikel kadang-kadang juga dapat diawali dengan denyut jantung yang sangat cepat yang dikenal dengan istilah takikardia ventrikel. Pemompaan jantung yang cepat, tetapi terus terjadi ini disebabkan oleh adanya arus listrik abnormal yang diawali di ventrikel. Sebagian besar kasus fibrilasi ventrikel terkait dengan adanya riwayat gangguan jantung sebelumnya.

 

Gejala Fibrilasi Ventrikel

Kehilangan kesadaran merupakan gejala yang paling umum ditemui dari kondisi ini. Karena takikardia ventrikel sering menjadi gejala awal fibrilasi ventrikel, maka gejala dari takikardia ventrikel juga perlu diperhatikan dan diwaspadai. Beberapa gejala takikardia ventrikel, yaitu:

  • Detak jantung yang sangat cepat.

  • Sakit dada.

  • Pusing.

  • Mual.

  • Napas yang pendek.

  • Hilang kesadaran.

 

Diagnosis Fibrilasi Ventrikel

Fibrilasi ventrikel merupakan kondisi darurat yang perlu ditangani secepatnya. Itulah mengapa mendeteksi fibrilasi ventrikel sedini mungkin sangat penting. Fibrilasi ventrikel bisa terdeteksi melalui pemeriksaan denyut nadi atau alat monitor jantung. Denyut jantung pengidap fibrilasi ventrikel tidak akan teraba dan pada hasil monitor jantung akan tampak adanya gerakan listrik jantung yang sangat cepat atau bahkan tidak bergerak sama sekali.

Tes tambahan mungkin juga perlu dilakukan untuk mengetahui apa yang menyebabkan fibrilasi ventrikel, antara lain:

  • Tes darah – untuk memeriksa kebocoran enzim jantung ke dalam darah yang disebabkan oleh kerusakan jantung akibat serangan jantung.

  • Elektrokardiogram (EKG) – untuk merekam dan memeriksa impuls listrik jantung. Jantung yang rusak akan menunjukkan impuls listrik yang tidak normal dan menandakan adanya serangan jantung.

  • Ekokardiogram – untuk mendapatkan gambaran jantung melalui gelombang suara.

  • Angiogram – untuk mengetahui jika terdapat sumbatan pada pembuluh darah yang menuju jantung (koroner) dengan cara menyuntikkan zat pewarna khusus ke dalam kateter yang dipasang dari kaki hingga jantung. Perjalanan zat tersebut di dalam pembuluh darah nantinya akan terlihat melalui X-ray.

  • X-ray dada – untuk mendapatkan gambaran jantung, ukuran, dan pembuluh-pembuluh darahnya.

  • CT scan atau MRI – untuk memeriksa jika terdapat gangguan lain pada jantung melalui gambaran jantung yang lebih jelas lagi.

 

Komplikasi Fibrilasi Ventrikel

Beberapa komplikasi yang bisa terjadi akibat fibrilasi ventrikel, yaitu:

  • Cedera iskemik pada sistem saraf pusat.

  • Kulit terbakar akibat prosedur defibrilasi.

  • Cedera akibat prosedur CPR.

  • Kematian.

Baca juga: Henti Jantung Mendadak Rentan Dialami Pengidap Fibrilasi Ventrikel, Kenapa?

 

Pengobatan Fibrilasi Ventrikel

Jika dokter mendapati bahwa fibrilasi ventrikel yang dialami disebabkan oleh perubahan struktur jantung, dokter akan menyarankan untuk menjalani pengobatan atau prosedur medis untuk mengurangi risiko terjadinya fibrilasi ventrikel di masa mendatang. Misalnya, akibat jaringan parut setelah serangan jantung.

Beberapa pilihan pengobatan untuk mencegah berulangnya fibrilasi ventrikel:

  • Pengobatan

Dokter akan meresepkan berbagai obat antiaritmia yang bertujuan untuk mencegah timbulnya irama jantung yang tidak reguler. Salah satu golongan obat yang dapat diresepkan oleh dokter adalah beta bloker, yang umumnya digunakan pada individu yang berisiko mengalami fibrilasi ventrikel.

  • Implantasi Alat Defibrilator

Setelah kondisi pengidap stabil, dokter dapat merekomendasikan pemasangan alat defibrilator implan untuk memantau irama jantung. Jika irama jantung dinilai terlalu pelan, alat ini dapat mengirimkan sinyal listrik untuk memacu jantung.

  • Angioplasti Koroner dan Pemasangan Stent

Prosedur ini ditujukan untuk mengatasi penyakit jantung koroner yang berat. Tekniknya adalah dengan membuka pembuluh darah yang tersumbat guna melancarkan aliran darah ke otot jantung.

Baca juga: Kondisi Darurat, Seberapa Perlu CPR Dilakukan pada Pengidap Fibrilasi Ventrikel?

 

Pencegahan Fibrilasi Ventrikel

Jika kamu memiliki anggota keluarga dekat, seperti orangtua, saudara kandung, atau anak dengan kondisi jantung bawaan, sebaiknya bicarakan pada dokter tentang skrining genetik. Mengidentifikasi masalah jantung bawaan sejak dini bisa membantu menentukan tindakan pencegahan sekaligus mengurangi risiko terjadinya komplikasi.

Baca juga: Rutin Olahraga Bisa Cegah Fibrilasi Ventrikel, Benarkah?

 

Kapan Harus ke Dokter?

Bila kamu atau orang lain mengalami gejala fibrilasi ventrikel, sebaiknya segera dapatkan bantuan medis darurat.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Ventricular fibrillation - Symptoms and causes.
Medical News Today. Diakses pada 2019. Ventricular fibrillation: Treatment, causes, and symptoms.

Diperbarui pada 4 September 2019