• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Fimosis

Fimosis

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Fimosis

Pengertian Fimosis

Fimosis adalah kondisi pada penis orang yang tidak disunat, sehingga kulup tidak dapat ditarik ke atas karena menempel terlalu erat. Dari tampilan fisiknya, penis terlihat memiliki cincin di ujungnya. Ada dua jenis fimosis, yaitu:

  1. Fisiologis, yaitu kondisi yang terjadi pada anak-anak dan akan hilang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.
  2. Patologis, yaitu kondisi yang umum dikaitkan dengan balanitis xerotica obliterans (BXO). BXO sendiri adalah inflamasi kronis yang melibatkan preputium, glans, dan uretra. 

Gejala Fimosis

Fimosis tidak selalu menimbulkan gejala. Gejala baru akan muncul ketika penyakit sudah masuk dalam kondisi parah dan ditandai dengan kesulitan pengidap untuk mengosongkan kandung kemih sepenuhnya. Fimosis juga dapat memicu peradangan pada penis (balanitis) dan kulup (balanoposthitis).

Kedua kondisi tersebut dipicu oleh kebersihan penis yang tidak terjaga dengan baik. Gejalanya sendiri, meliputi:

  • Nyeri, gatal, dan bau.
  • Kemerahan dan pembengkakan.
  • Penumpukan cairan kental.
  • Nyeri saat buang air kecil.

Fimosis akan memicu rasa sakit saat berhubungan intim, kulit kepala penis membelah, atau kurangnya sensasi saat ereksi. Untuk meningkatkan rasa nyaman saat berhubungan intim, pengidap disarankan untuk menggunakan kondom dan pelumas.

Penyebab Fimosis

Fimosis adalah kondisi yang hanya dapat terjadi pada laki-laki yang belum sirkumsisi (sunat) saja. Kondisi ini lebih sering terjadi pada anak-anak dibanding dewasa. Berikut beberapa penyebab yang perlu diwaspadai:

  • Jaringan parut. Kondisi ini terjadi akibat infeksi daerah sekitar kulup. Jaringan parut akan membuat elastisitas kulit berkurang.
  • Penuaan. Pada orang dewasa, penuaan membuat serat kolagen menurun, sehingga elastisitas kulit menurun dan menyebabkan sulitnya kulup ditarik ke belakang.
  • Penumpukan smegma. Smegma merupakan cairan putih yang terbentuk dari jaringan kulit mati di bagian kepala dan kulup penis. Penumpukan cairan tersebut akan membuat kulup menempel dan sulit ditarik ke belakang.

Faktor Risiko Fimosis

Ada beberapa kondisi yang meningkatkan risiko terjadinya fimosis pada seorang pria. Berikut ini beberapa di antaranya:

  • Mengalami infeksi saluran kencing berulang.
  • Mengalami infeksi pada ujung kulit penis.
  • Melakukan gerakan kasar secara berulang saat menarik kulup ke belakang, sehingga menyebabkan lecet atau luka.
  • Mengalami cedera pada daerah kulup.
  • Mengalami eksim, yaitu kondisi kronis yang menyebabkan kulit menjadi gatal, merah, kering, dan pecah-pecah.
  • Mengalami psoriasis, yaitu kondisi yang menyebabkan bercak kulit menjadi merah, bersisik, dan berkerak.
  • Mengalami lichen planus, yaitu ruam gatal yang dapat mempengaruhi berbagai area tubuh, tetapi tidak menular.
  • Mengalami lichen sclerosus, yaitu kondisi yang menyebabkan jaringan parut pada kulup akibat iritasi saluran kemih.

Diagnosis Fimosis

Dokter melakukan diagnosis fimosis dengan pemeriksaan pada penis pengidap. Jika menemukan perlengketan pada ujung kulit penis dan tidak dapat ditarik kebelakang, maka dokter sudah dapat memastikan bahwa kondisi tersebut merupakan fimosis. Sejauh ini tidak ada pemeriksaan penunjang khusus untuk mendiagnosis fimosis.

Pengobatan Fimosis

Pengobatan fimosis yang dilakukan akan tergantung dari usia dan keparahan kondisi pengidap. Pengobatan dapat berupa penarikan halus secara berkala, krim kortikosteroid, atau prosedur operasi. Berikut ini penjelasannya masing-masing:

  • Pengobatan Krim Kortikosteroid

Pengobatan ini biasanya efektif pada sebagian besar pengidap. Krim kortikosteroid membantu melunakkan ujung kulit penis, sehingga lebih mudah ditarik ke belakang. Krim diberikan selama 6-8 minggu, dipakai sebanyak dua kali sehari. Setelah kulit dapat ditarik kebelakang, penggunaan krim kortikosteroid dapat dihentikan.

  • Prosedur Operasi

Pembedahan mungkin diperlukan jika anak atau orang dewasa mengalami balanitis atau balanopostitis yang parah atau persisten, sehingga menyebabkan kulup menjadi sangat kencang. Prosedur dikenal dengan sebutan sunat, yang dilakukan dengan menghilangkan sebagian atau seluruh kulup

Langkah ini dapat dilakukan jika perawatan lainnya gagal dilakukan. Namun, tindakan ini dapat memicu efek samping berupa pendarahan atau infeksi. Dengan kata lain, operasi hanya direkomendasikan sebagai upaya terakhir dan menjadi satu-satunya pilihan pengobatan terbaik.

Pencegahan Fimosis

Satu-satunya langkah pencegahan fimosis dilakukan dengan menjaga kebersihan area penis, termasuk ujung kulit bagian dalam dengan menggunakan air hangat setiap hari. Langkah tersebut dapat membantu mengurangi atau mencegah munculnya gejala. Hal tersebut dapat membantu ujung kulit tetap longgar dan elastis, sehingga infeksi dapat dicegah.

Kapan Harus ke Dokter?

Meskipun gejalanya tidak nyaman, fimosis tidak mengancam nyawa pengidapnya. Di awal kemunculan gejala, hal tersebut dapat diatasi dengan membersihkan bagian penis dan kulit dengan air hangat secara berkala. Jika tidak juga membaik, silahkan periksakan diri di rumah sakit terdekat untuk melakukan perawatan.

Jika kamu ingin mengakses informasi kesehatan lainnya, silahkan download Halodoc sekarang juga!

Referensi:

Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. fimosis.

National Health Service UK. Diakses pada 2022. Tight foreskin (fimosis and parafimosis).

Medical News Today. Diakses pada 2022. What is fimosis?