• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Fistula Ani

Fistula Ani

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
fistula ani

Pengertian Fistula Ani

Fistula ani adalah istilah medis untuk kondisi terbentuknya terowongan di bawah kulit yang menghubungkan antara kulit dan anus. Kondisi ini muncul karena ada infeksi yang berkembang menjadi abses atau benjolan berisi nanah. Benjolan tersebut muncul di area kulit sekitar anus. Jika dibiarkan saja, abses bisa terus berkembang dan memicu kondisi yang parah. 

Benjolan yang tidak diobati dengan tepat bisa menyebabkan nanah keluar. Semakin lama, nanah akan membentuk saluran di bawah kulit sampai ke anus. Kondisi tersebutlah yang dikenal dengan istilah fistula ani. 

Gejala Fistula Ani

Gejala yang timbul dari fistula ani dapat berupa:

  • Nyeri dan bengkak di sekitar anus.
  • Adanya perdarahan dari anus.
  • Tercium adanya bau tajam atau tidak sedap di sekitar kulit anus.
  • Terbentuknya lubang di kulit dan muncul cairan atau feses dari lubang tersebut.
  • Kulit kemerahan dan terasa perih akibat iritasi.

Penyebab Fistula Ani

Penyakit ini terjadi akibat abses anus yang tidak sembuh sempurna, sehingga menyisakan saluran atau lubang kecil pada kulit di dekat anus. Penyebab ini yang paling banyak terjadi pada kasus fistula ani. Sekitar 50 persen pengidap abses anus berisiko mengalami fistula ani.

Selain disebabkan abses pada anus, kondisi ini juga dapat terjadi karena beberapa kondisi, termasuk gangguan saluran cerna bagian bawah atau daerah anus. Kondisi tersebut meliputi Crohn’s disease serta hidradenitis suppurativa. Di samping penyakit tersebut, beberapa infeksi, seperti tuberkulosis atau infeksi HIV, serta divertikulitis juga bisa menimbulkan fistula ani. Penyebab fistula ani lainnya adalah komplikasi yang terjadi pasca operasi di dekat anus dan pasca radioterapi untuk kanker usus besar.

Faktor Risiko Fistula Ani

Faktor-faktor resiko yang bisa menjadi penyebab penyakit ini meliputi:

  • Crohn’s disease. Kondisi di mana sistem pencernaan mengalami peradangan kronik.
  • Divertikulitis.
  • Hidradenitis supuratif. Kondisi kulit yang menyebabkan abses dan jaringan parut.
  • Infeksi tuberkulosis atau HIV.
  • Komplikasi pembedahan di sekitar anus

Diagnosis Fistula Ani

Untuk memastikan adanya penyakit ini, awalnya dokter akan melakukan wawancara terkait keluhan yang dialami, lalu melakukan pemeriksaan fisik terutama di daerah sekitar anus. Dokter akan melihat bila terjadi peradangan di anus dan lubang di kulit di sekitarnya. Jika terdapat lubang yang diduga merupakan fistula, dokter akan memeriksa kedalaman lubang tersebut dan melihat bila ada bentukan terowongan yang menghubungkan antara lubang di kulit tersebut dengan kelenjar di anus.

Pada sebagian kasus, kondisi ini tidak terlihat dengan mudah dari luar. Untuk kondisi ini, dokter perlu melakukan pemeriksaan anuskopi, yaitu pemeriksaan menggunakan semacam kamera untuk melihat kondisi dalam anus dan rektum. Jika ditemukan ada terowongan fistula, kadang kala pemeriksaan ultrasonografi atau magnetic resonance imaging (MRI) di daerah anus juga diperlukan untuk melihat arah dan kedalaman terowongan.

Jika fistula ani benar-benar ditemukan, maka pemeriksaan selanjutnya diperlukan untuk mengetahui penyebabnya terjadi. Jika diduga penyebabnya adalah penyakit Crohn, kanker rektum dan anus, atau divertikulitis, maka kolonoskopi yang akan dilakukan. Serupa dengan anuskopi, kolonoskopi juga merupakan pemeriksaan yang menggunakan semacam kamera untuk melihat kondisi usus besar. Alat ini dimasukkan melalui anus.

Pengobatan dan Efek Samping Fistula Ani

Pengobatan utama yang bisa dilakukan adalah dengan operasi fistulotomi. Pada operasi tersebut, dokter akan melakukan sayatan di kulit dan otot hingga sampai ke terowongan fistula. Setelah mencapai area tersebut, terowongan akan dibersihkan sepenuhnya dari jaringan dan sel yang tidak seharusnya berada di situ. Tujuannya adalah untuk merangsang penyembuhan sempurna sekaligus menutup terowongan tersebut rapat-rapat sehingga fistula tersebut hilang.

Setelah operasi fistulotomi, dokter umumnya akan memberikan obat untuk melunakkan feses selama beberapa hari hingga satu minggu untuk mengurangi rasa nyeri dan ketidaknyamanan setelah operasi.

Pengobatan lain yang bisa dilakukan adalah dengan mengisi terowongan yang terbentuk dengan sejenis lem. Tujuannya adalah untuk merekatkan dinding terowongan fistula ani sehingga terowongan tertutup rapat.

Komplikasi yang terjadi adalah rasa sakit, perdarahan, bekas luka yang tidak enak dipandang, kesulitan buang air, tanpa sadar buang angin atau buang air besar, dan inkontinensia usus.

Pencegahan Fistula Ani

Mengonsumsi serat dalam jumlah yang cukup serta air putih 1,5–2 liter per hari, baik untuk mencegah sembelit maupun menjaga feses tetap lunak. Langkah ini juga akan mencegah terjadinya luka di anus. Hal ini secara tidak langsung akan mencegah terbentuknya fistula ani. Selain itu, selalu menjaga kebersihan alat kelamin juga bisa membantu menurunkan risiko terbentuknya nanah. Fistula ani juga bisa dihindari dengan cara tidak berganti-ganti pasangan dalam berhubungan intim. 

Kapan Harus ke Dokter?

Tidak ada salahnya untuk menghubungi dokter jika kamu merasakan gejala-gejala seperti di atas. Penanganan yang tepat nyatanya dapat mengurangi akibat yang ditimbulkan dari kondisi ini. Jika gejala fistula ani yang terjadi kian memburuk, segeralah pergi ke rumah sakit. Biar lebih mudah, gunakan aplikasi Halodoc untuk mencari daftar rumah sakit terdekat. Atur lokasi dan dapatkan rekomendasi rumah sakit yang bisa dikunjungi. Ayo, download aplikasi Halodoc sekarang di App Store atau Google Play! 

Referensi: 
NHS UK. Diakses pada 2022. Anal Fistula. 
Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. Anal Fistula. 
WebMD. Diakses pada 2022. What Is an Anal Fistula?