• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Gangguan Immunodefisiensi

Gangguan Immunodefisiensi

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Gangguan Immunodefisiensi

Pengertian Gangguan Immunodefisiensi

Gangguan immunodefisiensi adalah kondisi ketika kekebalan tubuh terganggu, sehingga tidak bisa melawan infeksi dan penyakit. Jenis gangguan ini dapat membuat tubuh mudah terinfeksi oleh virus dan bakteri. Gangguan ini bisa dimiliki sejak lahir (primer) atau didapatkan di kemudian hari (sekunder). 

Jenis-Jenis Gangguan Immunodefisiensi

Gangguan immunodefisiensi terjadi ketika sistem imun tidak bekerja seperti yang diharapkan. Seseorang yang terlahir dengan gangguan ini, bisa dibilang mengidap gangguan immunodefisiensi primer. 

Contoh gangguan imunodefisiensi primer meliputi:

  • Imunodefisiensi variabel umum.
  • Alymphocytosis.
  • Penyakit granulomatosa kronis.

Gangguan imunodefisiensi sekunder terjadi ketika sumber luar seperti bahan kimia atau infeksi melemahkan kekebalan tubuh. Contoh gangguan immunodefisiensi sekunder meliputi:

  • AIDS.
  • Kanker sistem kekebalan tubuh, seperti leukemia.
  • Penyakit kompleks imun, seperti hepatitis virus.
  • Multiple myeloma (kanker sel plasma, yang menghasilkan antibodi).

Penyebab Gangguan Immunodefisiensi

Gangguan immunodefisiensi primer paling sering disebabkan oleh mutasi gen yang diturunkan. Sementara itu, gangguan immunodefisiensi sekunder dapat disebabkan oleh berbagai hal, antara lain:

  • Kondisi kronis (seperti diabetes atau kanker).
  • Penggunaan narkoba.
  • Terapi radiasi (jarang terjadi).
  • Rawat inap jangka panjang.
  • Kekurangan nutrisi.

Dengan bertambahnya usia, sistem imun menjadi semakin kurang efektif. Jaringan sistem imun (terutama jaringan limfoid, seperti timus) menyusut dan jumlah serta aktivitas sel darah putih menurun.

Kondisi dan penyakit berikut juga dapat menyebabkan gangguan immunodefisiensi:

  • Ataxia-telangiectasia.
  • Defisiensi komplemen.
  • DiGeorge syndrome.
  • Hypogammaglobulinemia.
  • Job syndrome.
  • Defek adhesi leukosit.
  • Bruton disease.
  • Wiskott-Aldrich syndrome.

Faktor Risiko 

Orang yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan immunodefisiensi primer memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan gangguan ini. Apa pun yang melemahkan sistem kekebalan juga dapat menyebabkan gangguan imunodefisiensi sekunder. 

Misalnya, paparan cairan tubuh yang terinfeksi HIV atau pengangkatan dan penggantian organ dapat menjadi penyebab keduanya. Penuaan juga dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Seiring bertambahnya usia, beberapa organ yang memproduksi atau memproses sel darah putih menyusut dan menjadi kurang efisien.

Gejala 

Gejala-gejala umum dari gangguan immunodefisiensi, meliputi:

  • Mata merah.
  • Infeksi sinus.
  • Pilek.
  • Diare.
  • Pneumonia.
  • Infeksi jamur.
  • Gingivitis.

Orang dengan gangguan immunodefisiensi juga dapat mengalami sakit perut kronis. Mereka bahkan dapat mengalami penurunan berat badan seiring waktu.

Diagnosis 

Jika dokter menduga seseorang mungkin mengalami gangguan immunodefisiensi, dokter akan:

  • Menanyakan tentang riwayat medis.
  • Melakukan pemeriksaan fisik.
  • Menentukan jumlah sel darah putih.
  • Menentukan jumlah sel T.
  • Menentukan kadar imunoglobulin.

Vaksin dapat menguji respons sistem imun dengan tes antibodi. Dokter akan memberi vaksin, kemudian melakukan tes darah untuk melihat respons terhadap vaksin beberapa hari atau minggu kemudian.

Jika tidak memiliki gangguan immunodefisiensi, sistem imun akan menghasilkan antibodi untuk melawan organisme pada vaksin. Seseorang dapat memiliki gangguan jika tes darah tidak menunjukkan antibodi.

Pengobatan 

Pengobatan gangguan immunodefisiensi biasanya berkisar pada:

  • Mencegah infeksi bila memungkinkan.
  • Mengobati infeksi saat terjadi.
  • Memperkuat bagian dari sistem kekebalan tubuh.

Perawatan gangguan immunodefisiensi bisa berbeda pada setiap orang, tergantung pada kondisi tertentu. Contohnya, AIDS menyebabkan beberapa infeksi berbeda. Dokter akan memberikan obat untuk setiap infeksi. Seseorang juga dapat diberikan antiretroviral untuk mengatasi infeksi HIV jika memungkinkan.

Perawatan untuk gangguan penyakit ini biasanya meliputi antibiotik dan terapi imunoglobulin. Obat antiviral lain, yang bisa diberikan seperti amantadine dan acyclovir, atau obat yang disebut interferon digunakan untuk perawatan infeksi viral akibat gangguan imunodefisiensi.

Jika sumsum tulang seseorang tidak menghasilkan cukup limfosit, dokter dapat melakukan transplantasi sumsum tulang (stem cell). Jika gangguan immunodefisiensi dibiarkan, dapat menyebabkan daya tubuh mudah terinfeksi dan bahkan bisa berujung pada kematian.

Pencegahan 

Karena gangguan kekebalan primer disebabkan oleh cacat genetik, tidak ada cara untuk mencegahnya. Namun, ketika seseorang atau anak memiliki sistem kekebalan yang melemah, maka dapat mengambil langkah-langkah untuk mencegah infeksi dengan melakukan kebersihan yang baik. Contohnya, cuci tangan dengan sabun ringan setelah menggunakan toilet dan sebelum makan.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu mengalami gejala gangguan immunodefisiensi seperti yang dijelaskan tadi, segeralah temui dokter untuk mendiskusikannya. Semakin cepat diagnosis dan pengobatan dilakukan, maka semakin baik.

Agar mudah, kamu bisa gunakan aplikasi Halodoc untuk buat janji dengan dokter di rumah sakit. Jadi, pastikan sudah download Halodoc, ya!

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2022. Immunodeficiency Disorders.
WebMD. Diakses pada 2022. What Are Immune Deficiency Disorders?
Medine Plus. Diakses pada 2022. Immunodeficiency Disorders.

Diperbarui pada 14 April 2022