• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Hipoalbuminemia

Hipoalbuminemia

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Hipoalbuminemia

Hipoalbuminemia terjadi ketika seseorang tidak memiliki cukup protein albumin dalam aliran darah pada tubuhnya. Perlu diketahui bahwa albumin adalah protein yang diproduksi pada organ liver dan memiliki fungsi yang sangat penting bagi tubuh. Selain itu, albumin juga diketahui berfungsi dalam pembentukan sebagian besar plasma darah.

Tergantung pada usia seseorang, tubuh akan membutuhkan antara 3,5 dan 5,9 gram per desiliter (g/dL). Tanpa albumin yang cukup, tubuh tidak dapat menahan cairan agar tidak keluar dari pembuluh darah. Lebih parahnya lagi, tidak memiliki cukup albumin juga dapat mempersulit untuk memindahkan zat-zat penting ke seluruh tubuh. Beberapa zat ini digunakan untuk proses penting untuk menjaga cairan tubuh tetap terkendali. Saat kadar albumin lebih rendah dari kisaran normal, maka terjadilah hipoalbuminemia. 

Penyebab Hipoalbuminemia

Hipoalbuminemia seringkali disebabkan oleh peradangan di seluruh tubuh. Misalnya ketika seseorang mengalami sepsis atau baru saja menjalani operasi. Peradangan juga dapat terjadi dari paparan intervensi medis, seperti ditempatkan pada ventilator atau mesin bypass. Kondisi ini disebut sebagai kebocoran kapiler atau spasi ketiga.

Selain itu, hipoalbuminemia juga umumnya dapat terjadi akibat kurangnya asupan protein atau kalori yang cukup dalam makanan. Penyebab umum lainnya dari hipoalbuminemia meliputi:

  • Mengalami luka bakar yang serius.
  • Mengalami kekurangan vitamin.
  • Malnutrisi dan tidak mengonsumsi makanan bergizi seimbang. 
  • Tidak dapat menyerap nutrisi dengan baik di perut. 
  • Menerima cairan intravena (IV) saat seseorang dirawat di rumah sakit setelah operasi.

Faktor Risiko Hipoalbuminemia 

Terdapat beberapa kondisi medis yang juga dapat menjadi faktor risiko dari hipoalbuminemia, antara lain:  

  • Diabetes, yang disebabkan oleh kadar gula tinggi akibat kurangnya produksi hormon insulin.
  • Gagal jantung.
  • Hipertiroidisme, yaitu ketika kelenjar tiroid yang menghasilkan hormon secara berlebih.
  • Terjadinya gangguan penyerapan dan kurangnya asupan kalori, protein, dan vitamin.
  • Lupus, yaitu kondisi ketika sistem kekebalan tubuh berbalik menyerang tubuh.
  • Peradangan dalam tubuh yang dapat terjadi akibat sepsis, luka bakar, pasca tindakan operasi, atau pasca pemasangan ventilator.
  • Sindrom nefrotik, yaitu gangguan ginjal yang menyebabkan kebocoran protein.
  • Sirosis, yaitu terbentuknya jaringan parut pada hati akibat kerusakan jangka panjang.

Gejala Hipoalbuminemia

Albumin digunakan di seluruh tubuh, dan gejala hipoalbuminemia mungkin tidak membuat kondisi ini langsung terlihat. Meski begitu, terdapat beberapa gejala umum dari hipoalbuminemia yang perlu diketahui, antara lain: 

  • Adanya penumpukan cairan pada wajah dan tungkai (edema) sehingga menyebabkan pembengkakan.
  • Asteriksis (tremor pada pergelangan tangan).
  • Berat badan turun.
  • Bradikardia (denyut jantung lambat).
  • Diare. 
  • Ensefalopati (gangguan pada otak).
  • Gangguan irama jantung.
  • Ginekomastia (pembesaran payudara pada pria).
  • Hepatomegali dan splenomegali.
  • Hilangnya lemak di bawah lapisan kulit. 
  • Hipotensi (tekanan darah rendah). 
  • Jaundice atau sakit kuning. 
  • Kulit kering dan kasar. 
  • Lambatnya pertumbuhan pada anak. 
  • Luka sulit sembuh.
  • Mual dan muntah. 
  • Nafsu makan berkurang.
  • Palmar erythema (telapak tangan memerah).
  • Pembengkakan kelenjar air liur.
  • Pembesaran jantung.
  • Pembesaran lidah (makroglosia).
  • Penurunan jumlah massa otot. 
  • Spider angiomas (berkumpulnya pembuluh darah kecil di permukaan kulit).

Selain itu, gejala pengidap hipoalbuminemia akan tergantung pada kondisi yang mendasarinya. Misalnya, jika hipoalbuminemia disebabkan oleh pola makan yang kurang sehat, gejalanya akan dapat berkembang secara bertahap seiring waktu. Namun, jika hipoalbuminemia diakibatkan oleh luka bakar yang serius, pengidapnya mungkin akan segera melihat beberapa gejala ini.

Diagnosis Hipoalbuminemia

Diagnosis hipoalbuminemia dapat dilakukan oleh dokter dengan melakukan wawancara medis, dan pemeriksaan fisik pengidap. Selanjutnya, dokter juga akan menjalani pemeriksaan penunjang, seperti:

  • Pemeriksaan darah, untuk mengukur kadar albumin dalam darah.
  • Pemeriksaan rasio albumin kreatinin, untuk mengukur kadar albumin yang bocor melalui urine.
  • Tes pencitraan, dengan menggunakan USG abdomen (perut) untuk mendeteksi kemungkinan sirosis hati. Ekokardiografi untuk mendeteksi kemungkinan gagal jantung. Foto Rontgen untuk mengetahui penyebab terjadinya peradangan.
  • Biopsi, dengan mengambil sampel jaringan hati atau ginjal untuk diteliti lebih lanjut di laboratorium.

Pengobatan Hipoalbuminemia

Pengobatan hipoalbuminemia akan tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Berikut ini beberapa pengobatan yang bisa dilakukan berdasarkan penyebabnya: 

  • Hipoalbuminemia akibat kekurangan nutrisi, dapat diatasi dengan mengonsumsi makanan kaya protein untuk meningkatkan kadar albumin, seperti kacang-kacangan, putih telur, ikan gabus, susu, serta produk turunannya.
  • Kondisi hipoalbuminemia yang disebabkan oleh gangguan ginjal bisa diatasi dengan obat-obatan untuk menangani hipertensi, seperti captopril atau candesartan.
  • Hipoalbuminemia akibat mengalami peradangan, dapat diatasi dengan pemberian obat kortikosteroid, yang dapat mencegah turunnya kadar albumin.
  • Pemberian transfusi albumin melalui infus di rumah sakit dalam pengawasan dokter.

Komplikasi Hipoalbuminemia 

Hipoalbuminemia yang tidak tertangani dengan baik dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami kondisi lain sebagai komplikasinya. Berikut adalah beberapa risiko komplikasi yang dapat terjadi, antara lain: 

  • Radang paru-paru. 
  • Efusi pleura, yang terjadi ketika cairan menumpuk di sekitar paru-paru. 
  • Asites, yang terjadi ketika cairan menumpuk di daerah perut. 
  • Atrofi, yang merupakan pelemahan otot yang signifikan. 

Di samping itu, hipoalbuminemia juga dapat berbahaya jika baru ditemukan setelah operasi atau setelah pengidapnya dirawat di ruang gawat darurat. Hipoalbuminemia yang tidak diobati dapat secara signifikan meningkatkan risiko cedera atau kondisi fatal dalam kasus ini.

Pencegahan Hipoalbuminemia

Upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan mengurangi risiko penyakitnya, melalui penerapan pola hidup sehat, seperti:  

  • Makan diet seimbang yang penuh dengan susu, protein dan karbohidrat gandum atau mengonsumsi suplemen untuk meningkatkan jumlah protein dan kalori dalam makanan.
  • Menghapus makanan tinggi natrium (garam) dari menu makanan sehari-hari.
  • Minum obat atau menerima perawatan untuk mengelola kondisi kesehatan yang mendasarinya.
  • Mengurangi atau membatasi konsumsi minuman beralkohol. 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu atau anggota keluarga mengalami tanda dan gejala dari hipoalbuminemia, segeralah memeriksakan diri ke dokter. Ingat, penanganan yang tepat dan cepat sangat dibutuhkan untuk menentukan langkah pengobatan dan mempercepat proses penyembuhan. 

Nah, melalui aplikasi Halodoc, kamu bisa membuat janji rumah sakit dengan dokter untuk memeriksakan kondisi. Tentunya tanpa perlu mengantre atau menunggu berlama-lama. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, download Halodoc sekarang juga! 

Referensi:
Medicalnewstoday. Diakses pada 2022. Hypoalbuminemia: Causes, treatment, and symptoms.
Healthline. Diakses pada 2022. What Is Hypoalbuminemia and How Is It Treated? Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. hypoalbuminemia. 

Diperbarui pada 9 Mei 2022.