Hipoksia

Pengertian Hipoksia

Hipoksia adalah kondisi kekurangan oksigen dalam sel dan jaringan tubuh, sehingga terganggu fungsi normalnya. Hipoksia merupakan kondisi berbahaya karena dapat mengganggu fungsi otak, hati, dan organ lainnya. Kondisi dapat terjadi jika terdapat gangguan dalam sistem transportasi oksigen dari mulai bernapas hingga oksigen tersebut digunakan oleh sel tubuh.

 

Gejala Hipoksia

Beberapa gejala hipoksia, antara lain:

  • Pada pernapasan, antara lain sesak napas, napas cepat, batuk, dan mengi.
  • Pada kardiovaskular, antara lain denyut jantung yang cepat.
  • Pada saraf pusat, antara lain nyeri kepala, linglung, dan penurunan kesadaran.
  • Pada kulit, antara lain perubahan warna kulit dari biru ke merah ceri.
  • Gejala lainnya, antara lain gelisah, berkeringat, dan lemas.
  • Pada bayi dan anak, antara lain lemas, lesu, rewel, gusar, tidak fokus, dan gelisah.

 

Penyebab Hipoksia

Beberapa penyebab dari hipoksia, antara lain:

1. Hipoksia hipoksik, yang terjadi ketika kadar oksigen dalam pembuluh arteri turun. Beberapa penyebabnya, antara lain:

  • Berada di situasi dengan kadar oksigen rendah, seperti kebakaran, tenggelam, dan berada di ketinggian.
  • Terdapat penyakit paru, seperti asma, pneumonia, edema paru, penyakit paru obstruktif kronis, kanker paru, pneumothorax, dan sleep apnea.
  • Keadaan yang membuat berhenti bernapas, seperti penggunaan obat fentanyl.

2. Hipoksia stagnan atau hipoperfusi, yang terjadi akibat gangguan aliran darah. Beberapa penyebabnya, antara lain:

  • Gangguan jantung, seperti bradikardia dan fibrilasi ventrikel.
  • Terhentinya aliran darah arteri ke organ, seperti pada orang dengan luka tembak atau trombosis arteri.

3. Hipoksia anemik, yang terjadi saat kemampuan darah yang membawa oksigen berkurang kapasitasnya, sehingga darah kekurangan oksigen. Beberapa penyebabnya, antara lain:

  • Anemia dan kondisi ketika fungsi sel darah merah rusak, seperti pada penyakit methemoglobinemia.
  • Keracunan karbon monoksida (CO).

4. Hipoksia histotoksik, yang terjadi saat terdapat gangguan pada sel dalam menggunakan oksigen. Penyebabnya antara lain keracunan sianida.

5. Hipoksia sitopatik, yang umumnya disebabkan oleh peradangan dan sepsis.

 

Faktor Risiko Hipoksia

Beberapa faktor risiko hipoksia, antara lain:

  • Risiko eksternal, seperti merokok atau perokok pasif, polusi udara, bahan kimia, debu di udara, atau berada di ketinggian.
  • Risiko internal, seperti pada pengidap penyakit paru-paru dan kardiovaskular.

 

Diagnosis Hipoksia

Dokter akan mendiagnosis hipoksia dengan melakukan wawancara medis untuk mencari tahu penyebab hipoksia, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang, seperti:

  • Pemasangan alat pulse oximetry pada jari dan telinga untuk mendeteksi kadar oksigen dalam darah.
  • Pemeriksaan analisis gas darah dengan mengambil sampel darah dari pembuluh arteri.
  • Pemeriksaan Rontgen sinar-X bagian thorax (dada) untuk mengetahui masalah pada paru dan jantung.
  • Pemeriksaan fungsi paru untuk mengetahui adanya masalah obstruksi pada paru.



Pengobatan Hipoksia

Langkah penanganan dalam mengatasi hipoksia, antara lain:

  • Pemberian oksigen tambahan dengan menggunakan selang atau masker yang disambungkan ke tabung oksigen, untuk membantu kadar oksigen dalam tubuh kembali normal. Hal ini untuk mengurangi risiko kerusakan organ tubuh.
  • Pemasangan alat bantu napas atau ventilator, yaitu menyambungkan saluran pernapasan ke mesin ventilator, dengan menggunakan selang yang dimasukkan dari tenggorokan sampai melewati pita suara.
  • Terapi oksigen hiperbarik (TOHB), untuk pengidap dengan keracunan karbon monoksida. Pengidap akan dimasukkan ke dalam ruangan bertekanan tinggi (hiperbarik) dengan oksigen murni.

 

Komplikasi Hipoksia

Komplikasi hipoksia, antara lain kerusakan sel, jaringan, maupun organ, yang dapat berujung pada kematian.

 

Pencegahan Hipoksia

Beberapa upaya pencegahan hipoksia, antara lain:

  • Berhenti merokok.
  • Berolahraga secara teratur.
  • Hindari menjadi perokok pasif.
  • Menghindari pemicu asma.
  • Mengonsumsi makanan sehat dan tetap aktif.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera hubungi dokter untuk mendapatkan penanganan terbaik jika mengalami gejala-gejala di atas. Penanganan yang tepat dan cepat sangat dibutuhkan untuk menentukan langkah pengobatan dan mempercepat proses penyembuhan. Untuk melakukan pemeriksaan, kamu bisa langsung membuat janji dengan dokter pilihan kamu di sini.