• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Hipoksia

Hipoksia

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
hipoksia

Pengertian Hipoksia

Hipoksia adalah sebuah kondisi yang disebabkan oleh kurangnya oksigen dalam sel dan jaringan tubuh, sehingga fungsi normalnya mengalami gangguan. Ini adalah kondisi berbahaya karena dapat mengganggu fungsi otak, hati, dan organ lainnya. Hipoksia terbagi menjadi beberapa jenis berdasarkan penyebabnya. Berikut beberapa jenis hipoksia yang perlu diketahui:

  • Hipoksia Umum. Disebabkan oleh kurangnya oksigen dalam darah yang mengalir ke jaringan.
  • Hipoksia Anemia. Terjadi ketika darah tidak mampu membawa oksigen sebagaimana mestinya karena kurangnya jumlah sel darah merah yang sehat.
  • Hipoksia Stagnasi/Sirkulasi. Aliran darah yang buruk menyebabkan kurangnya pasokan untuk jaringan. Ini dapat terjadi di satu area tertentu atau di seluruh tubuh.
  • Hipoksia Histiotoksi. Oksigen yang cukup diambil melalui paru-paru dan dikirim ke jaringan, tetapi tubuh mengalami kesulitan menggunakannya.
  • Hipoksia Sitopatik. Oksigen dapat digunakan dengan baik oleh jaringan, tetapi ada kebutuhan oksigen yang lebih tinggi dari biasanya.

Faktor Risiko Hipoksia

Hipoksia bisa disebabkan oleh faktor eksternal maupun internal. Faktor risiko eksternalnya seperti misalnya kebiasaan merokok atau menjadi perokok pasif, paparan polusi udara, bahan kimia, debu di udara, atau berada di ketinggian. Sementara itu, risiko internal dapat berupa penyakit paru-paru atau gangguan kardiovaskular. 

Penyebab Hipoksia

Penyebab hipoksia beragam, tergantung pada penyebabnya. Berikut berbagai penyebab hipoksia berdasarkan penyebabnya:

  • Hipoksia

Penyebab dari hipoksia umumnya adalah:

  • Berada tempat yang cukup tinggi di mana kadar oksigen di udara lebih rendah.
  • Napas dangkal atau pernapasan yang terlalu lambat.
  • Edema paru, yaitu ketika paru-paru terisi cairan.
  • Ketidakcocokan ventilasi-perfusi, yang terjadi ketika bagian paru-paru mendapatkan cukup oksigen tetapi tidak ada aliran darah, atau sebaliknya.
  • Asma, kondisi paru-paru yang membuat sulit bernapas.
  • Hipoksia Anemia

Anemia defisiensi besi dan anemia akibat kemoterapi bisa menyebabkan hipoksia. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan pendarahan dalam jumlah besar (eksternal atau internal) dan keracunan karbon monoksida

  • Hipoksia Sirkulasi

Penyebab hipoksia sirkulasi atau stagnasi termasuk:

  • Edema, atau pembengkakan jaringan, yang dapat membatasi kemampuan oksigen dalam darah untuk mencapai jaringan. 
  • Bekuan darah, yang bisa menghalangi aliran darah pembawa oksigen.
  • Syok, kondisi yang mengancam jiwa di mana tubuh tiba-tiba mengalami penurunan aliran darah. 
  • Stroke, yang terjadi ketika gumpalan darah menghalangi aliran darah dan oksigen ke otak.
  • Hipoksia histiotoksik 

Jenis hipoksia ini dapat disebabkan oleh sianida dan paparan racun lainnya.

  • Hipoksia sitopatik

Sementara hipoksia sitopatik umumnya disebabkan oleh sepsis atau sindrom respons inflamasi sistemik (SIRS)

Gejala Hipoksia

Gejala hipoksia dapat bervariasi dari orang ke orang. Namun, hipoksia umumnya menimbulkan gejala berikut ini:

  • Kebingungan.
  • Kelelahan.
  • Kesulitan berkonsentrasi atau penurunan kesadaran.
  • Bicara cadel.
  • Hot flashes atau perasaan panas secara tiba-tiba.
  • Kurang koordinasi.
  • Pingsan atau pusing.
  • Sesak napas.
  • Sensasi kesemutan atau hangat pada tubuh.
  • Masalah penglihatan.
  • Detak jantung yang cepat dan tekanan darah tinggi.
  • Napas cepat.
  • Euforia.
  • Sakit kepala.
  • Muncul semburat kebiruan pada kulit.

Pada bayi dan anak-anak, gejala hipoksia bisa mencakup lemas, lesu, rewel, gusar, tidak fokus, dan gelisah.

Diagnosis Hipoksia

Ada sejumlah tes yang dapat dilakukan oleh petugas kesehatan untuk mendeteksi hipoksia dan penyebabnya. Beberapa tes yang dapat dilakukan yaitu:

  • Oksimetri. Tes ini dilakukan menggunakan yang dilengkapi oleh sensor. Sensor kemudian ditempatkan pada tubuh untuk memeriksa tingkat oksigen dalam darah.
  • Gas Darah Arteri. Jenis tes darah yang satu membantu mendiagnosis hipoksia dan memeriksa jumlah oksigen serta karbon dioksida dalam darah.
  • Hitung Darah Lengkap. Tes darah yang membantu mendiagnosis penyebab hipoksia seperti anemia dan tanda-tanda infeksi.
  • Tes Pencitraan. Sinar-X atau Computed Tomography Scan (CT-Scan) juga dapat membantu mendiagnosis penyebab hipoksia. Misalnya, masalah paru-paru atau infeksi.
  • Magnetic Resonance Imaging (MRI). Jenis tes pencitraan ini dapat membantu mendiagnosis penyebab hipoksia terkait otak seperti tumor, pendarahan, atau stroke.
  • Elektrokardiogram (EKG). Tes non-invasif yang membantu mendiagnosis penyebab hipoksia dan mencari tanda-tanda kerusakan jantung atau detak jantung tidak teratur.
  • Ekokardiogram. Tes pencitraan ultrasound yang membantu mendiagnosis penyebab hipoksia dengan memeriksa seberapa baik fungsi jantung 

Komplikasi Hipoksia

Otak dan jantung adalah organ yang paling rentan terkena dampak hipoksia. Hipoksia ringan yang terjadi jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan serius. Pasalnya, tubuh akan dipaksa untuk  beradaptasi dengan kadar oksigen yang lebih rendah secara terus menerus. Penelitian menunjukkan bahwa hal tersebut berisiko menyebabkan kondisi seperti: 

  • Pertumbuhan dan perkembangan tumor pada kanker.
  • Resistensi obat kanker.
  • Memburuknya kondisi jantun .
  • Hilangnya fungsi ginjal.

Jika kasusnya parah, kerusakan dapat dimulai dalam beberapa menit setelah terjadi hipoksia. Hal berikut dapat terjadi sebagai akibatnya:

  • Kejang, atau gangguan otak tak terkendali yang dapat menyebabkan gerakan tak terkendali dan perubahan kesadaran.
  • Koma, periode ketidaksadaran yang berkepanjangan.
  • Kematian.

Pengobatan Hipoksia

Langkah penanganan dalam mengatasi hipoksia, antara lain:

  • Pemberian oksigen tambahan dengan menggunakan selang atau masker yang disambungkan ke tabung oksigen, untuk membantu kadar oksigen dalam tubuh kembali normal. Hal ini untuk mengurangi risiko kerusakan organ tubuh.
  • Pemasangan alat bantu napas atau ventilator, yaitu menyambungkan saluran pernapasan ke mesin ventilator, dengan menggunakan selang yang dimasukkan dari tenggorokan sampai melewati pita suara.
  • Terapi oksigen hiperbarik, untuk pengidap dengan keracunan karbon monoksida. Pengidap akan dimasukkan ke dalam ruangan bertekanan tinggi (hiperbarik) dengan oksigen murni.

Pencegahan Hipoksia

Beberapa upaya pencegahan hipoksia, antara lain:

  • Berhenti merokok.
  • Berolahraga secara teratur.
  • Hindari menjadi perokok pasif.
  • Menghindari pemicu asma.
  • Mengonsumsi makanan sehat dan tetap aktif.

Kapan Harus ke Dokter?

Selain melakukan langkah pencegahan di atas, konsumsi vitamin dan suplemen juga penting untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Jika stok mulai menipis, segera cek kebutuhan vitamin di toko kesehatan Halodoc. Jangan tunggu sakit untuk minum vitamin, download Halodoc sekarang juga! 

Kamu juga harus segera menemui dokter untuk mendapatkan penanganan terbaik jika mengalami gejala-gejala di atas. Ingat, penanganan yang tepat dan cepat sangat dibutuhkan untuk menentukan langkah pengobatan dan mempercepat proses penyembuhan. 

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2022. Hypoxia
Verywell Health. Diakses pada 2022. Hypoxia: Types and Overview.
Diperbarui pada 9 Mei 2022