Ileus Paralitik

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Ileus Paralitik

Secara garis besar, usus berfungsi untuk menyerap dan mencerna yang telah kita konsumsi. Pencernaan terjadi sebagai akibat dari adanya kontraksi otot usus atau yang disebut juga dengan gerakan peristaltik, yang terus menggerakan zat yang telah dikonsumsi tersebut untuk dibawa sepanjang saluran pencernaan.

Ileus paralitik adalah suatu keadaan abnormal ketika terdapat hambatan atau kelumpuhan pada motilitas/pergerakan usus. Jika gejala ileus paralitik disepelekan dan tidak ditangani secara dini, keadaan ini dapat berakibat fatal.   

 

Penyebab dan Faktor Risiko Ileus Paralitik

Meskipun ileus paralitik dapat disebabkan oleh beberapa hal, pasca operasi merupakan penyebab yang paling sering dijumpai pada pasien dengan ileus paralitik. Ileus paralitik tidak pernah terjadi secara primer, sehingga mencari gangguan atau faktor risiko yang mengakibatkan keadaan tersebut merupakan hal yang paling penting untuk mencapai keberhasilan terapi.

Selain pasca operasi, keadaan yang dapat menyebabkan ileus paralitik adalah gangguan metabolik dan elektrolit (hipotiroid, hipokalemia, hipomagnesemia, hiponatremia, anemia, hipoosmolalitas), pasca melahirkan, keadaan sepsis, obat-obatan (golongan opioid, anti depresan, antasida), efek samping radioterapi, maupun penyakit lainnya seperti infeksi, pneumonia, komplikasi diabetes, infark miokard, kolik bilier, kolik renal, keganasan, trauma kepala, hingga fraktur tulang belakang.

 

Gejala Ileus Paralitik

Gejala dari ileus paralitik adalah rasa tidak nyaman (seperti kram) pada perut, penurunan nafsu makan, rasa cepat kenyang atau perasaan begah yang terjadi secara terus menerus, konstipasi, kesulitan untuk membuang gas, pembengkakan perut, mual, dan muntah. 

 

Diagnosis Ileus Paralitik

Penegakkan diagnosis dilakukan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang terarah. Anamnesis dilakukan untuk mengetahui gejala yang sesuai dengan ileus paralitik dan kemungkinan penyebab terjadinya keadaan tersebut. Pemeriksaan fisik umumnya dilakukan secara cermat untuk menemukan abnormalitas yang menandakan adanya ileus paralitik seperti lemahnya atau bahkan tidak adanya bising usus, terdengarnya suara air bergerak (succussion splash) saat pasien berpindah posisi, serta untuk menemukan penyakit yang mendasari terjadinya ileus paralitik.

Pemeriksaan fisik juga dilakukan untuk menyingkirkan adanya kondisi gawat darurat yang dapat mengancam jiwa seperti demam tinggi, dan tekanan darah turun (hipotensi). Pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan laboratorium yakni jumlah leukosit, kadar elektrolit, fungsi ginjal, dan kadar glukosa darah.

Selain itu, diperlukan pemeriksaan radiologi berupa foto abdomen polos tiga posisi untuk memperlihatkan adanya distensi lambung, usus halus, dan usus besar akibat akumulasi gas dan cairan. Pemeriksaan ini sangat membantu dalam penegakkan diagnosis dari ileus paralitik. Pemeriksaan CT-Scan abdomen diperlukan untuk membedakan ileus dengan penyebab lainnya. 

 

Pengobatan Ileus Paralitik

Pengobatan ileus paralitik dilakukan sesuai dengan penyakit atau kondisi yang mendasarinya. Pengelolaan ileus paralitik umumnya bersifat konservatif dan suportif, seperti pemasangan selang makan (Nasogastric Tube/NGT) untuk dekompresi, menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit, pemberian nutrisi yang adekuat, pembatasan penggunaan obat yang menghambat motilitas usus seperti opioid dan obat antikolinergik, serta pemberian obat-obatan yang dapat menstimulasi pergerakan usus seperti metoclopramide

Operasi tidak kerap dilakukan, kecuali pada kasus ileus paralitik pasca operasi yang membutuhkan tindakan operatif untuk perbaikan. 

 

Pencegahan Ileus Paralitik

Ileus paralitik seringkali sulit dicegah. Oleh sebab itu, sikap waspada terhadap gejala merupakan hal terbaik dalam melakukan pencegahan. Ileus paralitik pasca operatif dapat dicegah dengan pemberian makan via oral atau NGT secara dini setelah operasi. Hal ini dilakukan dengan anggapan bahwa asupan makanan menstimulasi reflek yang menghasilkan aktivitas gerak usus. 

 

Kapan Harus ke Dokter?

Komplikasi berat dapat timbul dari adanya obstruksi usus, sehingga segera periksakan diri ke dokter jika menemukan adanya gejala yang mengarah ke ileus paralitik seperti nyeri perut hebat, pembengkakan perut, kesulitan untuk membuang gas, dan konstipasi. Untuk melakukan pemeriksaan, kamu bisa langsung membuat janji dengan dokter pilihan di rumah sakit sesuai domisili di sini.