Keracunan Merkuri

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Keracunan Merkuri

Merkuri adalah bahan kimia yang umum digunakan dalam industri, sehingga paparan terhadap merkuri umum terjadi. Merkuri termasuk pencemar lingkungan dan paparannya dapat menimbulkan gejala keracunan merkuri.

 

Faktor Risiko Keracunan Merkuri

Anak - anak dan janin lebih rentan mengalami keracunan merkuri dan biasanya lebih parah. Konsumsi beberapa jenis ikan juga dapat berisiko terkena keracunan merkuri, seperti  jenis ikan hiu, king mackerel, dan tuna. Penyalahgunaan obat pencahar, konsumsi makanan laut yang terkontaminasi, cat yang mengandung merkuri, atau konsumsi thimerosal juga dapat meningkatkan risiko paparan terhadap merkuri.

 

Penyebab Keracunan Merkuri

Merkuri dapat berikatan dengan beberapa senyawa dalam tubuh yang mengakibatkan enzim sel dan sistem protein di seluruh tubuh. Oleh karena itu, merkuri dapat menyebabkan enzim tubuh tidak berfungsi, terhambatnya fungsi transportasi di tubuh, dan gangguan protein pembentuk tubuh. Garam merkuri juga dapat menyebabkan kerusakan pada lapisan saluran pencernaan dan ginjal setelah paparan.

 

Gejala Keracunan Merkuri

Paparan merkuri dapat menyebabkan sesak napas, batuk, demam, mual, muntah, diare, sakit kepala, gangguan penglihatan, hingga gagal napas. Merkuri yang tertelan dapat menyebabkan rasa logam pada mulut juga gejala seperti sakit perut, radang usus, gangguan ginjal, hingga syok. Dalam waktu yang agak lama, garam merkuri dapat menimbulkan gejala gangguan pencernaan, saraf, dan gangguan ginjal.

Paparan merkuri organik (seperti akibat konsumsi makanan laut yang terkontaminasi, cat yang mengandung merkuri, dan konsumsi thimerosal) dapat mengakibatkan gangguan saraf permanen. Gejala yang dapat terjadi akibat keracunan merkuri organik antara sakit kepala, tangan gemetar, kelelahan, serta sensasi kesemutan, tertusuk, terbakar pada wajah dan mulut. Kasus yang lebih parah dapat berkembang menjadi gangguan gerak, kebutaan, dan kepikunan.

 

Diagnosis Keracunan Merkuri

Diagnosis ditentukan dari riwayat kemungkinan paparan merkuri. Ceritakan pada dokter jika bekerja di lingkungan industri yang rentan terpapar merkuri. Tes lain yang dilakukan adalah foto Rontgen dada, tes urine, dan tes darah. Penilaian tingkat paparan merkuri dapat dilihat dari pemeriksaan air kencing dan darah.

 

Pengobatan Keracunan Merkuri

Pengobatan awal meliputi tindakan untuk menjauhi paparan dan juga dekontaminasi. Tindakan awal pada keracunan akut meliputi pemberian oksigen, pemasangan infus, dan pemantauan gejala. Pemberian arang aktif pun dapat dilakukan. Sementara itu, terapi kelasi logam dilakukan pada awal paparan. Terapi kelasi dilakukan dengan cara memasukkan obat dalam infus. Terapi ini bekerja dengan mengikat logam atau mineral dalam darah untuk kemudian dikeluarkan melalui air kencing.

Merkuri anorganik dapat diobati dengan jenis terapi kelasi dimerkaprol diikuti oleh succimer yang diminum. Eksposur organik hanya diobati succimer. Efek samping penggunaan dimerkaprol antara lain reaksi alergi seperti  gatal-gatal, sulit bernapas, kelemahan, sakit kepala, demam, nyeri, muncul benjolan di lokasi suntikan, serta pembengkakan pada wajah, bibir, lidah, dan tenggorokan.

Efek samping yang lebih berat dari metode tersebut berupa kantuk berat, mual berat atau muntah, sakit perut, nyeri, tekanan di tenggorokan atau dada, kecemasan, perasaan gelisah, detak jantung cepat, kesemutan atau perasaan kaku di tangan, sensasi terbakar di mulut dan tenggorokan. Selain itu, efek samping lainnya yang dapat terjadi adalah sensasi terbakar di penis, mata merah atau berair, kelopak mata berkedut, hidung meler, air liur banyak, jarang buang air kecil dan terasa nyeri saat melakukannya, pembengkakan di kaki atau pergelangan kaki, serta kelelahan.

 

Pencegahan Keracunan Merkuri

Ada beberapa cara untuk mencegah keracunan merkuri. Antara lain mengurangi penambangan merkuri dan secara bertahap mengurangi produk-produk yang mengandung merkuri. Di samping itu cobalah untuk menerapkan penanganan yang aman, penggunaan dan pembuangan sisa produk yang mengandung merkuri, serta meningkatkan penggunaan sumber energi bersih yang tidak menggunakan batu bara.

Baca juga: Ditarik Kemenkes, Ini Bahaya Termometer Bermerkuri

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu sering terpapar bahan yang mengandung merkuri dan mengalami gejala yang disebutkan sebelumnya, segera cari pertolongan dokter. Segera hubungi dokter apabila merasakan gejala - gejala di atas. Penanganan yang tepat dapat meminimalisir akibat, sehingga pengobatan bisa lebih cepat dilakukan.

 

Referensi:

Medical News Today. Diakses pada 2019. Mercury poisoning: Symptoms and early signs
Emedicine Health. Diakses pada 2019. Mercury Poisoning

Diperbarui pada 2 September 2019